Gili Kalong Adopsi Konsep Pariwisata Kesehatan

Penyidik tindak Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Negeri (Kejari) Dompu, akhirnya mengantongi hasil Penghitungan Kerugian Negara (PKN) kasus korupsi DD/ADD Desa Rababaka tahun 2018.

Taliwang (Suara NTB) – PT. Gili Kalong Lestari (GKL) telah menyiapkan konsep pengembangan pariwisata di Gili Kalong, kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Salah satu pulau di gugusan pulau Gili Balu’ tersebut oleh perusahaan itu akan ditata dengan mengadopsi konsep pariwisata kesehatan (health tourism).

Sekretaris Bappeda Litbang KSB, Mars Anugerainsyah menjelaskan, baru-baru ini PTGKL telah mengajukan proposalnya tersebut ke Pemda KSB. Dan hal itu mendapat respon positif. “Pak bupati yang sejak awal Gili Kalong dikelola untuk pariwisata semakin setuju setelah melihat proposal PTGKL itu,” katanya kepada wartawan, Selasa (28/7).

Iklan

Mars memaparkan, konsep pariwisata kesehatan yang akan diterapkan dalam pengelolaan Gili Kalong oleh PTGKL pada dasarnya bukan hal baru. Pada rencana pengembangan pariwisata nasional hal itu telah dituangkan. Konsep ini mengkolaborasikan kegiatan pariwisata dengan aktifitas pelayanan kesehatan. Sehingga para pengunjung dalam sekali perjalanan ke satu destinasi bisa merasakan dua manfaat sekaligus.

“Jadi ketika datang ke Gili Kalong, pengunjung nantinya liburan sekalian bisa berobat atau sekedar benar-benar beristirahat dari rutinitas hariannya tanpa ada gangguan,” urai Mars.

Dalam proposal PTGKL, sejumlah fasilitas siap dibangun untuk mendukung konsepnya tersebut. Menurut Mars, perusahaan yang didanai oleh investor asal Swedia itu nantinya akan membangun beberapa fasilitas inti berupa hotel berbintang, klinik rumah sakit (medical tourism) dan fasilitas kebugaran (wellness tourism). “Kalau hotelnya rencananya antara bintang lima atau bintang empat,” sebutnya.

Selanjutnya ia menambahkan, pasar pariwisata Gili Kalong nantinya akan menyasar wisatawan luar negeri. Dan oleh PTGKL, segmen pasarnya tersebut telah disiapkan ke depannya. “Nickhlas yang mendanai PTGKL ini orang Swedia. Dan dia menyatakan sudah punya celah pasar, makanya dia siap mengelola Gili Kalong,” ungkap Mars.

Sementara itu ditanya mengenai kesiapan lapangan PTGKL memulai invetasinya di Gili Kalong? Mars mengaku, sementara ini PTGKL masih melengkapi seluruh syarat perizinannya. Perusahaan itu telah mendapatkan rekomendasi ruang dari Pemda KSB dan telah mendaftar ke sistem Online Single Submission (OSS) untuk izin berusaha. Terakhir yang perlu dilengkapi PTGKL adalah izin lokasi karena harus menunggu hasil pertimbangan teknis Badan Pertanahan Negara (BPN). “Untuk pertimbangan teknis BPN mereka sudah lengkapi syaratnya. Tinggal diserahkan selanjutnya tim BPN akan turun lapangan mengecek. Dan saya kira tidak terlalu lama karena Gili Kenawa tidak masuk kawasan hutan,” pungkasnya seraya mengungkapkan target aksi lapangan PTGKL.

“Menurut mereka (PTGKL). Kalau semua izin beres cepat, paling lambat akhir tahun mereka mulai membangun. Tapi sebelumnya tentu kita akan awali dulu dengan sosialisasi ke masyarakat sekitar pulau,” demikian Mars. (bug)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here