Gerakan ‘’Tuselak’’ di Kuripan, Sasar Warga yang Belum Divaksin

Camat Kuripan Iskandar bersama Kabid Humas Polda NTB mengadakan rapat dengan Forkopimcam, kepala puskesmas dan para kades untuk membahas langkah percepatan vaksinasi di Kuripan dalam gerakan tuselak, Jumat (29/10).(Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Forum komunikasi pimpinan kecamatan (Forkompimcam) Kuripan kabupaten Lombok Barat (Lobar) melakukan berbagai inovasi untuk mempercepat vaksinasi di wilayah setempat. Setelah memberikan hadiah kepada para Kadus, dan berencana juga kepada Kades yang pencapaiannya tertinggi, pihak kecamatan melakukan inovasi gerakan “Tuselak” untuk menyasar warga yang belum divaksin.

Tim vaksinator dalam gerakan ini akan dikerahkan ke rumah-rumah warga baik siang maupun malam hari. Di daerah itu, sekitar 4 persen warga belum tervaksin.

Iklan

Camat Kuripan Iskandar,S.Sos mengatakan untuk kecamatan Kuripan mendapatkan back up dari Polda NTB untuk mempercepat vaksinasi. Di mana Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol. Artanto S.I.K., M.H. turun langsung mengawal vaksinasi di daerah Kuripan. Jumat, 29 Oktober 2021, Kabid Humas Polda bersama tim sudah melakukan rapat dengan Forkopimcam, kepala Puskesmas dan para Kades se kecamatan Kuripan.

Dalam arahannya, pihak Forkompimcam dan Kades perlu meningkatkan lagi vaksinasi bagi warga. Terutama warga yang belum divaksin dengan melakukan gerakan turun ke rumah-rumah warga. “Nakes turun ke rumah-rumah warga untuk disasar vaksinasi. Kami pakai tim “Tuselak”, nanti menggunakan kendaraan camat, Puskesmas, maupun Polsek yang akan mengantar Nakes ke rumah warga,” jelas Iskandar.

Pihak Polda akan mengawal vaksinasi selama 20 hari kedepan. Di mana warga yang belum vaksin disisir terus melalui langkah-langkah inovatif. Seperti yang diterapkan di daerah lain. ‘’Pakai gerakan Tuselak, langsung datangi warga. Nanti Polda juga memfasilitasi kendaraan untuk turun,” jelasnya. Gerakan ini tetap melibatkan desa, dusun dan RT. Sehingga nantinya, warga yang akan disasar vaksinasi ada di rumahnya.

Persoalan data, pihaknya sendiri selama vaksinasi melakukan pendataan berbasis RT, bukan berbasis dusun sehingga data ini real. Untuk memperkuat data ini, RT, Kadus, Kades dan camat ikut tandatangani. Sejauh ini, terdapat 76 persen capaian vaksinasi di daerahnya. Di mana sisanya 24 persen itu, terdiri dari 20 persen termasuk yang tidak bisa dvaksin karena sakit, keluar negeri. Warga ini kata dia tidak bisa dipaksakan untuk divaksin. “Sehingga sisanya 4 persen akan kami sasar vaksinasi dengan berbasiskan RT,” tegas dia. (her)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional