Genangan di Loang Baloq Belum Tertangani

0
Tumpukan sampah di Taman Loang Baloq yang muncul akibat banjir gelombang pasang pada Rabu, 26 Juni 2021. Sepekan lebih genangan di area selatan taman kota tersebut belum tertangani, muncul masalah baru berupa tumpukan sampah yang berserakan di sepanjang pesisir pantai, Kamis, 3 Juni 2021.(Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Genangan air akibat gelombang pasang yang terjadi di Taman Loang Baloq pada Rabu, 26 Mei 2021 sampai saat ini belum bisa ditangani. Sepekan lebih area selatan taman kota tersebut terendam air. Salah satu dampak terburuk dari kondisi tersebut adalah berserakannya sampah yang terbawa gelombang pasang di sepanjang pantai tersebut.

Petugas Kebersihan Taman Loang Baloq, Tohri menerangkan pembersihan sampah yang menumpuk di area pantai tersebut membutuhkan kerja besar. Pasalnya, sampah berserakan hampir di seluruh area yang sempat terendam, terutama di pinggiran pantai yang biasa digunakan wisatawan untuk duduk.

IKLAN

“Sampah-sampah ini yang perlu segera dibersihkan. Karena pengunjung juga banyak yang protes, katanya terganggu karena sampahnya banyak sekali, sampai tidak ada tempat duduk,” tuturnya kepada Suara NTB, Kamis, 3 Juni 2021.

Diterangkan, petugas kebersihan di lokasi wisata tersebut tidak akan cukup untuk melakukan pembersihan sendiri. Karena itu pihaknya berharap ada bantuan tenaga dari OPD terkait, seperti Dinas PU maupun DLH Kota Mataram. “Sekarang ini jadi sepi sekali karena sampah ini. Pengunjung juga malah duduk, dan pendapatan teman-teman pedagang jadi berkurang,” jelas Tohri.

Salah seorang pedagang di Taman Loang Baloq, Khadijah membenarkan hal tersebut. Menurutnya, wisatawan saat ini lebih memilih berjalan mengelilingi taman ketimbang duduk menikmati suasana. “Sekarang pendapatan kita juga jadi menurun sekali. Cuma Rp30-60 ribu sehari. Padahal biasanya kalau sepi saja bisa Rp300-400,” ujarnya.

Di sisi lain, pihaknya berharap stakeholder terkait dapat melakukan penanganan dengan cepat. Antara lain dengan melakukan penyedotan genangan air dan pembersihan area pantai dari sampah. Termasuk pengerukan pasir yang menimbun sebagian dari lapak-lapak pedagang yang ada.

“Ini lapak saya juga tertimbun pasir. Semuanya ini walaupun kelihatan masih berdiri, di dalamnya itu isinya pasir semua,” ujar Khadijah sambil menunjuk lapaknya yang ikut terdampak gelombang pasang. Selama berjualan sejak 2010, banjir kali ini diakuinya menjadi yang terparah.

“Ada 10 lapak teman-teman di sini yang kena. Kita sudah dimintai KTP sama kelurahan untuk diberi bantuan, tapi belum ada turun. Kita heran juga, sudah seminggu lebih seperti tidak ada apa-apa. Airnya tidak disedot, sampahnya tidak dibantu kita bersihkan, dan bantuan tidak ada juga,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram, Mahfuddin Noor menerangkan penyedotan genangan air akibat gelombang pasang di Taman Loang Baloq memang cukup sulit dilakukan. Terutama karena gelombang laut saat ini terbilang masih tinggi, serta terbatasnya alat yang dapat digunakan untuk melakukan penyedotan.

“Meskipun intensitasnya tidak sebesar kemarin, tapi gelombang masih tinggi. Sehingga walaupun kita sedot airnya masuk lagi. Hari pertama kemarin kita juga sudah upayakan penyedotan, tapi alat yang ada di BPBD kapasitasnya kecil sekali. Sehingga walaupun kita lakukan penyedotan seharian genangan yang ada di sana tidak akan kelihatan surut sama sekali,” jelasnya saat dihubungi, Kamis, 3 Juni 2021.

Di sisi lain, melihat posisi Taman Loang Baloq sebagai tempat wisata maka proses pengeringan dan pembersihan diakui perlu segera dilakukan. Untuk itu, pihaknya  menyiapkan beberapa solusi. Antara lain pengerukan pasir untuk membuka jalur pembuangan sepanjang 50 meter menuju laut.

Kendati demikian, dengan tingginya gelombang cara tersebut juga dinilai tidak akan terlalu efektif. “Karena ketika paritnya jadi, kena gelombang laut akan langsung hilang lagi. Sekarang kita coba koordinasikan dengan Dinas Pariwisata dan PU untuk penyedotan, setidaknya kita butuh 5-6 alat penyedot,” jelasnya.

Dengan keterbatasan pilihan tersebut, pihaknya berharap genangan air yang membanjiri seluruh area selatan Taman Loang Baloq diharapkan dapat surut secara alami. Kendati demikian, proses tersebut diakui akan memakan waktu lama, mengingat gelombang pasang terus terjadi sedangkan topografi tanah yang tergenang memang lebih rendah dari permukaan air laut.

“Jadi sementara kita menunggu saja surut secara alami airnya. Karena kondisi ombak besar ini juga tidak lama. Masyarakat yang terdampak genangan itu sudah kita evakuasi dan itupun beberapa rombong sudah kita naikkan ke tempat yang aman, sehingga tidak ada lagi yang terdampak,” tandas Mahfuddin. (bay)