Gempa, Pegawai Pemkot Berhamburan Menyelamatkan Diri

Seorang warga menggendong anaknya yang merupakan pasien di RSUD Kota Mataram sambil membawa tiang infus ke luar untuk menyelamatkan diri. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Belum hilang trauma akibat gempa bumi pada Juli – Agustus lalu, Kamis, 6 Desember 2018, gempa berkekuatan 5,7 skala richter kembali mengguncang Pulau Lombok. Pegawai di lingkup Pemkot Mataram berhamburan menyelematkan diri.

Maya berlari ke luar ruangan. Ia terkejut dengan getaran begitu kuat di ruangannya.

Iklan

Karyawan lain di lantai dua juga menyelamatkan diri dan bergemuruh oleh teriakan. “Saya kaget. Terus lari ke luar,” kata staf Asisten III ini Kamis, 6 Desember 2018.

Saat gempa terjadi, pukul 09.02 Wita, ia sedang merapikan dokumen dan mencatat surat yang masuk.

Hal serupa juga dirasakan Yuli. Kasubag Humas terkejut dan menyelematkan diri dengan turun dari lantai dua. Yang dirasakan saat itu, gedung kantornya bergerak hebat.

“Ini tiba – tiba. Kaget sekali kita di atas,” ucapnya.

Sekretaris Daerah Kota Mataram Ir. H. Effendi Eko Saswito, MM., yang menerima tamu pun memilih berlari ke luar ruangan. Ia mengaku, masih trauma dengan kejadian gempa bumi Bulan Juli – Agustus lalu.

“Tiang (saya) baru terima Kadis PU di dalam ruangan. Begitu gempa saya langsung lari. Tiang masih trauma ini,” jawab Eko.

Pasca gempa lima bulan lalu, ruang kerjanya tak pernah ditempati. Pasalnya, sejumlah bagian gedung retak. Gempa kemarin merupakan kali pertama masuk ruang kerjanya.

Kepala Dinas PUPR Ir. H. Mahmuddin Tura yang  berada di dalam juga berlari menyelamatkan diri. “Saya duluan lari ke luar. Pak Sekda belakangan,” ucapnya sambil tersenyum. Mahmuddin juga mengaku trauma dengan gempa bumi berkali – kali lima bulan lalu.

Pasien Tak Dievakuasi

Pasien di rumah sakit umum daerah Kota Mataram beserta petugas medis kabarnya turut menyelamatkan diri keluar. Meskipun gempa 5,7 SR, manajemen RSUD tak mengevakuasi pasien.

Direktur RSUD dr. H.L. Herman Mahaputra mengatakan, kepanikan dirasakan oleh pasien dan tenaga medis merupakan hal yang wajar. Akan tetapi, situasi mulai kondusif dan petugas kembali memberikan pelayanan.

“Aman terkendali kok. Kalaupun panik saya kira wajar,” jawabnya. Pihak rumah sakit mengambil keputusan untuk tidak mengevakuasi pasien. Dengan harapan, tidak ada lagi gempa susulan. (cem)