Gempa NTB Picu Longsor di Senaru

Salah seorang korban selamat berhasil dievakuasi dari objek wisata Air Terjun Tiu Kelep. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Lagi, NTB diguncang gempa. Gempa terjadi Minggu, 17 Maret 2019 sekitar pukul 15.07 Wita dengan kekuatan 5,4 SR dan gempa susulan dua menit kemudian dengan kekuatan 5,1 SR. Berdasarkan data sementara, dua korban meninggal dan sejumlah korban luka-luka serta ratusan rumah rusak akibat bencana alam ini. Selain itu, sejumlah wisatawan yang sedang berwisata di Air Terjun Tiu Kelep, Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara (KLU) terjebak akibat longsor.

Gempa yang cukup dangkal ini terasa di seluruh Pulau Lombok. Gempa mengakibatkan jalur wisata air Terjun Tiu Kelep, Dusun Senaru, Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, longsor. Longsoran itu sendiri menimbulkan korban jiwa kalangan wisatawan, khususnya rombongan asal Malaysia.

Iklan

Informasi Basarnas, korban gempa yang telah dievakuasi dari Air Terjun Tiu Kelep sejumlah 14 orang. Disebutkan pula, masih tersisa tujuh yang masih dilakukan evakuasi di lokasi longsoran.

Korban meninggal teridentifikasi atas nama Tai Sieu Kim, 56 tahun, berjenis kelamin perempuan asal Malaysia. Sementara satu orang korban meninggal yang juga wisatawan mancanegara, belum teridentifikasi.

Untuk korban luka-luka, berdasarkan data Basarnas, terdiri dari Riska Tanwir, 19 tahun, asal Gunung Sari, Reza Alfian, 20 tahun, asal Gunung Sari, Lalu Arga Dimas Fernanda, 18 tahun, asal Marong, Lombok Tengah, Gurit Am, 17 tahun, Marong Lombok Tengah, Upik 6 tahun alamat Lendang Cempaka, Bayan, dan Sumawi, 30 tahun asal Bayan.

Sementara wisman yang sudah teridentifikasi sebagai korban luka terdiri dari Pang Kim Wah, 56 tahun asal Malaysia, Tan Cing Chuan, 62 tahun, Malaysia, Wong Silew Tan, 56 tahun asal Malaysia, Teoh Zheng Yi, 20 tahun asal Malaysia, Phua Poh Guax, 56 tahun asal Malaysia, Koks Shao, 60 tahun asal Malaysia. Diantara luka yang dialami korban dilaporkan, terdiri dari luka di kepala, betis, luka di muka, dan patah kaki.

Sementara, berdasarkan  informasi dan data di Puskesmas Anyar, Kecamatan Bayan, jumlah korban gempa yang masuk hingga pukul 19.00 Wita sebanyak 13 orang. Data yang berasal dari SAR dan Puskesmas relatif identik. Kecuali pada beberapa nama, misalnya korban atas nama Ong Lee Jye, Di Saiba, Shen Pek Chan (56) – dirujuk, bersamaan dengan Phua Poh Guax dan Tan Cing Chuan yang ikut dirujuk.

Kabag Humas Setda Lombok Utara, Mujaddid Muhas, menyebut terdapat kurang lebih 40 orang wisatawan terkena longsoran di sekitar kejadian. Korban dominan berasal dari wisatawan Malaysia dan domestik. Sementara itu, pihak BPBD dan Dikes Pemda KLU telah menerjunkan empat ambulans ke lokasi kejadian bersama personil dan paramedis.

Kepala Puskesmas Senaru, Husnul, kepada wartawan menyebut jumlah sementara yang sudah dievakuasi sebanyak 23 orang. Rinciannya 2 orang diantaranya luka berat, 21 orang lainnya mengalami luka ringan. Seluruh korban, kata dia, sudah dirujuk ke Puskesmas Senaru dan Puskesmas Anyar, Kecamatan Bayan.

Sementara  Humas Basarnas Mataram, I Gusti Lanang Wisnuwandana menambahkan, ada dua korban meninggal tertimbun longsor.  ‘’Hasil evakuasi sementara terdata dua orang meninggal. Ke duanya warga negara Malaysia. Lainnya luka-luka sedang dalam proses perawatan. Ada juga yang sedang dalam proses evakuasi,’’ kata Humas Basarnas Mataram, Minggu petang kemarin.

Hasil analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan, informasi awal gempabumi ini berkekuatan Magnitude 5,8 yang selanjutnya dilakukan pemutakhiran menjadi Magnitude 5,4. Episenter gempa terletak pada koordinat 8,47 LS dan 116,55 BT atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 20 kilometer arah Utara Kota Selong, Kabupaten Lombok Timur. Dengan kedalaman 19 Km.

Dua menit kemudian, sekitar  pada pukul 15.09 Wita, terjadi gempa  susulan dengan kekuatan Magnitude 5,1 pada 8,51 LS dan 116,49 BT dengan kedalaman 10 kilometer. ‘’Gempa tidak berpotensi tsunami,’’ kata Kepala BMKG Stasiun Geofisika Mataram Agus Riyanto.

Agus Riyanto menambahkan, memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa bumi itu termasuk dalam klasifikasi gempabumi dangkal akibat aktivitas sesar lokal di sekitar Gunung Rinjani. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi ini dipicu oleh penyesaran turun (normal fault).

‘’Guncangan gempabumi ini dilaporkan dirasakan di daerah Lombok Utara IV MMI, Lombok Timur, Lombok Barat, Lombok Tengah, Mataram, dan Sumbawa III-IV MMI,’’ jelas Agus Riyanto.

Dia menambahkan, hingga pukul 15.54 Wita, Hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya tiga aktivitas gempabumi susulan (aftershock).  “Kepada masyarakat diimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,’’ saran Agus Riyanto. (ari/ars)