Gempa Dekat Gili Meno, Empat Warga KLU Luka Ringan

DIBAWA - Warga yang terluka akibat gempa di KLU dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan dari tim medis. (Suara NTB/ist)

Tanjung (Suara NTB) – Kabupaten Lombok Utara (KLU) kembali diguncang gempa, Kamis,  6 Desember 2018. Akibat kejadian itu, sedikitnya 4 orang dilaporkan mengalami luka ringan, karena psikologi warga yang masih trauma.

 

Iklan

Informasi BMKG menyebutkan, gempa bumi bermagnitudo 5.7 (direvisi menjadi 5,3 magnitudo) terjadi pada Kamis pagi pukul 09.02 wita. Lokasinya berada di 8.37 LS dan 116.06 BT di Barat Laut Lombok Utara. Persisnya tidak jauh dari pulau eksotis Gili Meno yang menjadi destinasi wisata turis mancanegara. Gempa berada di kedalaman 10 km, sehingga dampaknya tidak hanya dirasakan warga Lombok Utara saja, tetapi sampai ke Mataram dan Lombok Barat.

 

Akibat peristiwa itu, sebanyak 4 warga dilaporkan mengalami luka ringan. Mereka antara lain, Mayudin asal Sandik, Lombok Barat. Pria 36 tahun itu bekerja sebagai buruh bangunan. Saat kejadian, ia dan rekannya tengah mengerjakan bagian atap pada salah satu perumahan di Jambianom, Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara. Korban mengalami memar di bagian pinggul dan sempat dirawat di RSUD KLU.

 

Sementara 3 orang korban lain, mendapat perawatan di Puskesmas Tanjung. Antara lain , Ikhsan alamat Dusun Beriri Genteng, Desa Tanjung yang mengalami luka robek di bagian kaki akibat terjatuh dari sepeda motor. Selanjutnya Muhaimin alamat Dusun Sigar Penjalin, Desa Tanjung yang mengalami luka robek di kaki. Terakhir, M. Irfan alamat Desa Tanjung yang mengalami luka robek di kaki.

 

Penuturan rekan korban Mahyudin, yakni Arnoldi, kepada wartawan mengaku ia dan korban bekerja di BTN Jambianom. Saat gempa bangunan tempatnya bekerja terguncang. Korban yang berada di bagian atap terjatuh, karena hilang keseimbangan.

 

“Ketinggian tempatnya jatuh antara 4 sampai 6 meter. Ia mengeluhkan sakit di pinggul sehingga langsung dilarikan ke rumah sakit,” ujar Arnoldi di RSUD KLU.

 

Korban hanya sebentar dirawat di RSUD. Atas dasar permintaan korban dan pihak keluarga, ia minta pulang paksa kepada pihak RSUD.

 

Sementara itu, Kabid Penanggulangan Bencana, BPBD KLU, Ketut Pasek, menyatakan skala gempa direvisi oleh BMKG menjadi 5,3 magnitudo. Lokasi gempa berada di Barat Laut Lombok Utara tidak jauh dari kawasan wisata Gili Meno pada kedalaman 10 km.

 

“Cukup dangkal ini, sehingga kemungkinan dampak rusaknya tinggi. Tapi Alhamdulillah Informasi dari TRC mengatakan tidak ada korban meninggal. Beberapa yang luka langsung dirawat ke RSUD Tanjung,” ujarnya.

 

Anggota TRC, sebut dia, sudah turun memantau pascagempa. Saat gempa pihaknya juga sudah mengecek bangunan sekolah yang masih berdiri pascagempa 5 Agustus 2018 lalu. “Termasuk SMPN 1 Tanjung yang gedungnya sudah mulai digunakan, kita cek. Anak-anak yang ujian pada jam kedua ditunda. Kalau di tempat lain anggota TCR melaporkan ke kita kondisinya cukup aman dan terkendali,” pungkasnya.

 

Sementara itu, Sekretaris BPBD KLU, Evi Winarni, M.Si., mengimbau warga untuk tetap tenang dan waspada terkait masalah gempa yang terjadi pada Kamis pagi. Terjadinya gempa tidak bisa diprediksi sewaktu-waktu, tidak juga ada alat yang bisa memprediksi kapan akan terjadi gempa.

 

“Yang penting tetap waspada. Saya rasa memang banyak warga kita yang rumahnya bisa ditempati, kalau terjadi gempa, waspada, hindari bangunan yang berpotensi runtuh,” imbangnya. (ari)