Gempa 6,6 SR Guncang NTB, Lampaui Gempa Yogyakarta Mei 2006

Mataram (suarantb.com) – Duka dan kesusahan yang ditimbulkan akibat banjir di Kota Bima dan sekitarnya belumlah lenyap. Pagi ini, Jumat, 30 Desember 2016, daerah NTB kembali terguncang. Kali ini, oleh gempa bumi dengan kekuatan cukup besar, yaitu 6,6 skala richter.

Jika melihat kekuatannya, gempa kali ini tentu saja sangat besar. Sebagai ilustrasi, gempa yang menelan korban ribuan nyawa di Yogyakarta pada Mei 2006 silam, kekuatannya hanya sebesar 5,9 Skala Richter.

Iklan

Hanya saja bedanya, gempa di Yogyakarta tersebut terjadi dalam durasi yang cukup panjang, selama sekitar 59 detik lamanya. Sehingga dampak yang dihasilkannya sangat mematikan. Sementara gempa kali ini terjadi hanya selama beberapa detik.
Namun, dengan kekuatan yang besar tersebut, gempa besar di NTB kali ini dirasakan oleh warga dari ujung barat Ampenan di Mataram, hingga yang berada di ujung timur Sape di Bima.

Menurut Kepala Stasiun Geofisika Mataram, Agus Rianto, Gempa berkekuatan 6,6 SR, terjadi pada 30 Desember 2016, pukul 05:30 WITA. Pusat gempa terdeteksi di 59 kilometer Barat Laut Sumba, Barat Daya-NTT. Gempa terjadi di kedalaman 91 Km.
Guncangan gempa yang cukup besar membuat banyak warga yang merasakan kepanikan. Sejumlah warga Sandik, Lombok Barat misalnya, berlarian keluar rumah karena khawatir akan tertimpa bangunan jika bertahan dalam rumah.

Getaran gempa awalnya terasa pelan, namun, dalam beberapa detik, getaran ini semakin terasa sehingga membuat sejumlah warga berteriak dengan histeris.

Agus Rianto menambahkan, jika diukur dengan skala Modified Mercally Intensity (MMI), dampak gempa dirasakan secara bervariasi di sejumlah daerah di NTB dan sekitarnya.

Di Kuta, gempa ini dirasakan mencapai skala III MMI, Gianyar III MMI, Mataram III MMI, Denpasar II-III MMI, Waingapu III-IV MMI, Waikabubak V MMI. Untuk daerah Sumba Barat dan Bima, getaran mencapai IV MMI.

  72 Warga Positif Terjangkit DBD di Lobar, Empat Meninggal

Berdasarkan penjelasan dari sebuah ilustrasi yang disampaikan Agus melalui grup WhatsApp Media dan BMKG NTB, skala MMI menggambarkan dampak gempa yang dirasakan oleh manusia. Untuk skala IV MMI, gempa biasanya dirasakan oleh hampir semua penduduk, orang banyak terbangun, gerabah pecah, jendela dan sebagainya pecah, tiang-tiang dan barang besar tampak bergoyang, bandul lonceng dapat berhenti.

Sementara untuk skala IV, MMI, pada siang hari dirasakan oleh orang banyak di dalam rumah, di luar oleh beberapa orang, gerabah pecah, pintu dan jendela gemerincing dan dinding berbunyi. Untuk skala di bawah IV, dampak getarannya akan lebih ringan dari ilustrasi tersebut.

Sementara, bagi sejumlah warga korban banjir Bima, gempa ini juga menimbulkan kepanikan yang luar biasa. Trauma akibat bencana banjir yang baru saja mereka alami membuat warga semakin panik saat gempa datang menambah kerisauan mereka.
“Kita semua lari keluar rumah,” ujar Nurjanah, salah seorang warga yang sedang berada di Bima, saat dihubungi suarantb.com beberapa saat usai gempa. (aan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here