Gelar Operasi Kewilayahan, TNI AU Siagakan Empat Pesawat Tempur di BIZAM

Empat pesawat tempur Super Tucano disiagakan di BIZAM dalam rangka operasi kewilayahan dan patroli wilayah, Rabu, 9 September 2020. (Suara NTB/kir)

Praya (Suara NTB) – Sebanyak empat pesawat tempur jenis EMB-314 Super Tucano dari Skuadron Udara 21 Lanud Abdulrachman Saleh Malang Jawa Timur, disiagakan TNI AU di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM), mulai Rabu, 9 September 2020. Penyiagaan pesawat tempur tersebut dalam rangka operasi kewilayahan dan patroli udara untuk wilayah NTB dan sekitarnya, sehingga bisa mengantisipasi gangguan atau potensi penyusup ke daerah ini.

Kedatangan pesawat tempur bersama satu pesawat Boeing tersebut disambut langsung Panglima Komando Operasi (Pangkoops) AU II Marsekal Muda TNI Minggit Tribowo, S.IP., didampingi Danlanud TGKH. Zainudin Abdul Madjid (ZAM), Kolonel (Pnb) Andri Gandhy, M.Sc., di apron BIZAM. Sebanyak 6 pilot pesawat Super Tucano bersama personel lainnya dipimpin langsung Komandan Skuadron 21, Letkol (Pnb) Heru Wardhana, S.Sos. Termasuk Lettu Putu Pandu P.P., yang merupakan pilot asal Praya Lombok Tengah (Loteng).

Iklan

“Keberadaan pesawat tempur ini untuk memastikan wilayah kita, khususnya Pulau Lombok dan sekitarnya aman dari ancaman yang ada. Terutama dari gangguan atau potensi gangguan dari udara,” ungkap Pangkoops AU II Marsekal Muda TNI Minggit Tribowo, S.IP., kepada wartawan.

Ia menjelaskan, operasi kewilayahan dan patroli udara itu sendiri rutin dilakukan. Tidak hanya di wilayah Lombok saja. Tetapi juga di wilayah lainnya di bawah komando Pangkoops II. Hal ini untuk memastikan semua wilayah dalam kondisi aman dan terkendali.

Di tempat yang sama, Komandan Skandron 21, Letkol (Pnb) Heru Wardhana, S.Sos., menambahkan, fokus operasi nantinya yakni di Selat Bali-Lombok, termasuk wilayah perairan di timur Pulau Lombok dengan target sasaran potensi adanya illegal logging dan illegal fishing serta potensi gangguan udara lainnya.

Heru mengatakan, pesawat tempur yang dibawa sendiri sudah dilengkapi amunisi lengkap. Itu artinya, dalam operasi patroli yang dilakukan nantinya dimungkinan dilakukan penindakan. Jika memang diperlukan penindakan, kalau ada muncul potensi gangguan yang mengancam wilayah.

“Jadi kita tidak hanya melakukan pemantauan atau patroli semata. Jika memang diperlukan ada penindakan, maka bisa dilakukan penindakan. Sehingga pesawat yang dibawa sudah dilengkapi dengan amunisi,” terangnya. Tapi itu semua tentu dilakukan sesuai potensi ancaman serta perintah operasi.

Untuk operasi sendiri, lanjut Heru secara kontinyu terus dilakukan sepanjang tahun. Hanya saja wilayah operasi yang berpindah-pindah dengan mempertimbangkan potensi dan eskalasi yang ada di wilayah tersebut. “Sejauh ini dari hasil pantauan kondisi wilayah masih aman. Tapi sampai ada perintah untuk melakukan operasi, berarti ada eskalasi yang cukup meningkat,” ujar pilot dengan call sign udara “Lochness” ini. (kir)