Gelar Karnaval Kerbau, Gili Rakit Harus Dipertegas sebagai Sentra Pengembangan

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Petani ternak mendorong Bupati Sumbawa untuk mempertegas status Gili Rakit yang masih sebagai kawasan hutan produksi menjadi sentra pengembangan peternakan kerbau. Sementara Kecamatan Empang dan Tarano, harus ditetapkan sebagai kawasan peternakan sebagai identitas pembangunan kawasan berbasis potensi peternakan.

Demikian terungkap dalam seminar dan saresehan sebagai agenda pendukung ‘’Mini Fest Kebo Balamung 2016’’, dengan mengangkat tema Kerbau.

Iklan

Upaya menelusuri  persoalan eksistensi kerbau dan permasalahannya. Dengan menghadirkan narasumber yang membidangi Peternakan dan Kehutanan kaitan dengan keberadaan ranch (Lar) rakyat yang berada di dalam kawasan hutan. “Seminar sebagai agenda penguat sebuah pergelaran festival merupakan ruang dialektika dalam merumuskan berbagai persoalan yang terjadi serta solusinya.

Meskipun kegiatan Mini Fest Kebo Balamung 2016 tidak menghadirkan pemerintah secara massif sebagai pengambil kebijakan, akan tetapi suara yang berkembang dari arena seminar bertajuk Kerbau, hari ini dan masa depannya dalam pembangunan Sumbawa, akan di komunikasikan dengan leading sector terkait,” ungkap Ketua Panitia Mini Fest Kebo Balamung, Syamsu Ardiansyah.

 Sementara itu, Julmansyah, S. Hut sebagai narasumber pada seminar tersebut. mempertanyakan sejauh ini, sampai tingkat mana konsistensi untuk mengembangbiakkan kerbau di Sumbawa. Sementara lahan pengembalaannya berupa lar rakyat yang berada di seputar hutan, justru tengah beralih fungsi akibat pembalakan liar dan cetak sawah baru tanpa rencana. Yang berakibat fatal bagi ketersediaan lahan pengembalaan hewan ternak rakyat.

“Salah satu solusinya dengan mendorong Bupati untuk mempertegas status  Lar Gili Rakit, jika dijadikan Lar Rakyat, maka harus melalui mekanisme yang diatur oleh aturan, dengan cara mengusulkan kepada Kementerian Kehutanan RI, Gili Rakit di jadikan kawasan Sailvopastura (Hutan-Peternakan), 1.500 hektar kawasan lar di atas Gili Rakit, apapun bentuk pembangunan infrastruktur di atasnya Ilegal, karena gili rakit belum diubah statusnya dari kawasan hutan produksi menjadi lar,” tegas Julmansyah, yang juga sempat menjadi peneliti Lar Rakyat ketika aktif sebagai peneliti di LP3ES NTB ini.

Selain seminar tentang kerbau, panitia pelaksana Mini Fest kebo Balamung juga telah mengelar sarasehan budaya dengan mengangkat tema “Merumuskan Konsep Pengelolaan Kebudayaan Lokal untuk Global” dengan menghadirkan narasumber dari kalangan musisi etnik Sumbawa, Iqbal Sanggo, di balai desa Empang Bawa Senin malam lalu.

Buffalo Fashion

Pada acara puncak Buffalo Fashion Sumbawa Carnival 2016, Selasa lalu,  yang bertepatan dengan Hari Pariwisata Internasional, 17 warna-warni sebagai atribut pakaian yang dikenakan kepada 45 ekor kerbau. “Artis” kerbau yang diparadekan di dalam karnaval secara keseluruhan milik petani ternak Desa Lamenta. Unik dan daya tariknya acara tersebut sangat luar biasa. Bila di festival lainnya selalu melibatkan manusia sebagai peserta parade busana adat, dan itu tidak aneh.

“Kami di Empang menggunakan kerbau setara dengan peserta parade carnaval pakaian adat yang selalu digelar dalam even festival budaya di negeri ini,” kata ketua panitia sekaligus sebagai inisiator Mini Fest Kebo Balamung 2016, Syamsu Ardiansyah.

Festival Indipenden Mini Fest Kebo Balamung ini digelar, lanjut Ardiansyah, hanya melibatkan 7 orang creative minoritas sebagai panitia pelaksana. Yang didukung secara sukarela tanpa bayaran oleh pemilik kerbau Desa Lamenta. Bahkan kegiatan ini dilaksanakan dari 23-27 September 2016, tidak menggunakan dana publik yang bersumber dari kas pemerintah Kabupaten Sumbawa, dan ini murni gerakan volunter (gotong royong), dengan didukung oleh pemerintah Desa Empang Bawa, Lamenta, Jotang Beru, Gapit dan Empang Atas dan sejumlah element masyarakat di Kecamatan Tarano.

“Berbuat dengan tidak mengandalkan dana pemerintah bagian dari bentuk solidaritas kami dalam berpesta yang dilakukan dengan sederhana apa adanya,” ujarnya.

Kepala Desa Empang Bawa H. Aksan sebagai representasi pemerintah desa sekecamatan Empang, dinobatkan panitia untuk melepaskan parade Buffalo Fashion Carnival. Pihaknya memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan kebudayaan ini untuk dapat dikembangkan sebagai identitas perayaan kebudayaan di wilayah Kecamatan Empang di tahun mendatang. (arn)