Gede Halim Guzairan, Atlet Karate KLU yang Membela Panji NTT

Gede Halim Guzairan saat meraih juara mewakili Provinsi NTT di Piala KSAD. (Suara NTB/ist)

Mengharumkan nama daerah atau bahkan bangsa melalui prestasi olahraga sejatinya jauh lebih instan dibanding prestasi-prestasi lain. Sebut saja Lalu Muhammad Zohri. Zohri kini dikenal di se-antero Indonesia.

Namun, tidak semua bibit atlet mempunyai nasib perjalanan yang sama. Ada pula yang masih bersusah payah mencari apresiasi prestasi dan masa depan. Salah satunya, Gede Halim Guzairan (17).

Iklan

Putra asli Desa Sesait, Kecamatan Kayangan, Lombok Utara itu, berlabuh membela Panji Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia juga pindah sekolah dari SMA Islam Al Ikhwan Kayangan ke SMAN 6 Sikumana, Kupang – NTT.

Gede kelahiran 10 Januari 2003. Adalah putra kedua Aswandi. Satu keluarga ini bisa dikatakan melahirkan bibit atlet berprestasi. Semuanya cabang olahraga karate. Selain Gede, sang kakak Welendria Asparadi juga punya bakat karate. Kesempatan minim membuatnya terjun menjadi pelatih bagi sang Adik.

Sementara saudara kandung di bawah Gede, yakni Faris Tundun Mangku Langit berprestasi menjadi juara III O2SN SMP tahun 2019 tingkat provinsi. Ia menjadi satu-satunya atlet ketika itu yang membawa perunggu medali perunggu.

Sementara si bungsu, Korina Azaki Azikia, siswi kelas 1 MTs Habiqiatussolihah NW Santong, berprestasi menjadi juara I O2SN tingkat SMP.

Tidak hanya Gede, bibit berprestasi lain yang membela panji NTT adalah, Gandi Darma Pratama – atlet asal Kecamatan Lingsar, Lombok Barat. “Gede hanya kalah saat bertanding di Porprov NTB tahun 2018 dari Juara I dunia asal Lombok, Zigi Zaresta Yudha,” ucap Aswandi, Senin, 2 November 2020.

Diakuisisinya Gede oleh Forki Provinsi NTT, tidak lepas dari prestasi Juara I di NTT tahun 2018 (sebelum gempa). Saat itu, bakat Gede dinilai cukup besar untuk mengharumkan nama daerah yang diwakilinya.

Begitu pertandingan di NTT selesai, Aswandi selaku orang tua dihubungi oleh Forki NTT, yang tidak lain pengasuhnya adalah Kapolda NTT. Akhirnya, dengan kesepakatan keluarga, Gede pun berangkat ke NTT. Tepatnya pada akhir 2018, ia sudah bertolak ke NTT.

“Kita tidak salahkan (KONI) Provinsi NTB, karena mereka fokus di TC Pra PON khusus untuk atlet Juara I. Sebagai orang tua sekaligus pelatih, saya sadar batasan dan tidak bisa membiayai pengembangan lebih lanjut. Begitu Pak Kapolda NTT minta, kita lepas,” paparnya.

Selama membela panji NTT, Gede tergolong berprestasi. Ia menggondol juara I pada beberapa event, seperti Piala KSAD di Surabaya dan Piala Marinir Cup di Jakarta. Semua even itu berlangsung tahun 2020 ini. Pada seleksi nasional melalui even Marinir Cup 2019 – Gede dapat Best Of The Best (BOB). Dari semua kelas yang dipertandingkan, Gede Juara I.

“Bulan lalu, pembinanya Pak Kapolda NTT nelepon minta Gede masuk Akademi Kepolisian. Begitu juga dari TNI. Tapi dengan kesepakatan keluarga, kita restui masuk kepolisian,” ungkap Aswandi.

Pada even Marinir Cup itu, Gede menjadi Juara BOB, karena berhasil mengalahkan seluruh juara I dari berbagai daerah di Indonesia. “Harusnya, bulan Mei 2020 lalu Gede bisa berlaga di kejuaraan Internasional di Italia. Tapi karena Covid, keberangkatannya dibatalkan,” akunya. “Seandainya jadi berangkat, saya sangat optimis Gede akan jadi Juara Dunia Pelajar,” imbuhnya.

Penghulu Desa Sesait ini sangat bersyukur dengan perhatian besar institusi Polri dan TNI. Bakat besar putra daerah tidak disia-siakan. Terlebih jika mengingat perjuangan panjang dan serba tanpa fasilitas latihan.

Gede hanya berlatih dengan matras kasar di atas land Bulu Tangkis milik warga. Ia tidak ada kelas Gym untuk melatih otot, tidak pula didukung oleh matras standar olahraga.

Satu ketika saat keberangkatan even di NTT, Aswandi mengingat betul bagaimana ia menjual pohon kelapa dan menggadai sawah untuk membiayai 7 atlet anak asuhnya. Jerih itu dibayar lunas dengan menggondol 12 medali emas dan menjadi juara umum. “Harusnya berangkat lewat KONI, tapi saya memilih berangkat pribadi,” akunya.

“Diakui atau tidak, fasilitas pendukung atlet karate KLU minim. Wasit karate dunia saat di NTT, Shinse Donald pernah datang ke KLU, dan menyaksikan tempat latihan. Ia nangis melihat situasi tidak adanya tempat latihan,” tandasnya. (ari)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional