“Menantang” Hempasan Ombak Pantai “Maiq Anyir”

Hempasan ombak yang menantang coba dihalau sejumlah pengunjung di pantai Maiq Anyir Ijobalit. (Suara NTB/rus)

Besarnya hempasan ombak ternyata menjadi salah satu daya tarik. Seperti yang terlihat di Pantai Maiq Anyir, Kelurahan Ijobalit, Kecamatan Labuhan Haji Kabupaten Lombok Timur (Lotim). Ombak yang deras menghantam bibir pantai menjadi pilihan hiburan menarik sejumlah pengunjung. Padahal, derasnya arus ombak ini membuat bibir pantai Maiq Anyir ini sudah menimbulkan abrasi yang cukup parah.

HEMPASAN ombak besar Maiq Anyir ini seperti sengaja ditantang. Tidak sedikit pengunjung tampak menikmatinya. Seperti pengalaman Ainun bersama dua temannya pada hari Minggu, 3 November 2019. Basah karena tersiram air laut katanya menjadi tantangan tersendiri.

Aktivitas wisata hempasan ombak pantai Maiq Anyir ini dipastikan tetap terpantau oleh petugas khusus yang disiagakan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Ketua Pokdarwis Ijobalit, Edi Sahibunna’im kepada Suara NTB mengatakan, sudah dibangunkan pos pantau yang bisa melihat semua aktivitas pengunjung di Pantai Maiq Anyir.

Objek wisata andalan Ijobalit yang baru beberapa bulan terakhir  dibuka itu kini makin ramai dikunjungi wisatawan. Pada akhir pekan, jumlah pengunjung lebih dari 500 orang. Pokdarwis sudah diberikan kewenangan penuh mengelola. Sekali masuk Rp5 ribu plus parkir untuk sepeda motor dan mobil Rp10 ribu pun sekaligus untuk biaya parkir.

Dengan petugas yang siaga, aktivitas berwisata di Maiq Anyir ini dipastikan aman. Urusan kebersihan pun sudah disiagakan. Disebut setiap hari ada 10 petugas yang selalu membersihkan sampah. “Saat ramai kita libatkan 20 orang untuk bersih-bersih,” ucapnya.

Nama Maiq Anyir sendiri, tutur Edi diperoleh dari para tetua dahulu yang menyebut ikan hasil tangkapannya rasanya enak dan gurih. Enak dan Gurih (maiq anyir). “Tetua dulu banyak yang memancing ikan di sini,” tuturnya.

Sebelumnya, kawasan pantai Maiq Anyir ini diakui sangat kotor. Melihat peluang sebagai salah satu tujuan wisata menarik, Pokdarwis

akhirnya dibentuk dan coba mengemas pantai dengan membangun sejumlah fasilitas penunjang.

Pada areal seluas 5 ha saat ini, sudah terlihat beberapa wahana permainan sederhana yang disuguhkan Pokdarwis. Ayunan kayu di pinggir pantai, tempat berswafoto dan lainnya. Beberapa unit gazebo juga sudah ada yang merupakan sumbangan dari salah satu donatur Vlok Foundation.

Sementara, fasilitas tempat kamar mandi sebutnya menjadi hasil kreativitas pokdarwis sendiri. Pasalnya, dari pemerintah daerah belum ada yang dibangunkan. Harapannya, pemerintah daerah bisa turut ambil bagian menata kawasan pantai Maiq Anyir ini agar bisa menjadi objek wisata menarik.

“Kita Pokdarwis melakukan penataam spontanitas, tidak pakai konsultan,” urainya. Adanya ombak besar memang menjadi salah satu pemancing hadirnya banyak wisatawan. Bahkan sudah ada sejumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung dan menjajal surfing. Akan tetapi, belum ada penyelamat pantai. Kegiatan surfing ini sejauh ini hanya bisa dilakukan orang-orang yang profesional.

Sedangkan, aktivitas pengunjung yang menghadang ombak yang menghempas di bebatuan pinggir pantai itu katanya tidaklah berbahaya. Meski demikian, tetap akan terpantau petugas pengawas. Ombak besar ini bisa mencapai ketinggian 10 meter. Tidak heran, terjadi abrasi yang cukup parah. Harapannya, abrasi ini bisa ditangani oleh pemerintah daerah. “Harapan kami ada bibir pantai yang abrasi ini segera ditangani,” pintanya.

Lurah Ijobalit, Hamdun yang dikonfirmasi terpisah mengenai abrasi tersebut menyebut sejauh ini sudah ratusan meter daratan di Maiq Anyir ini tenggelam ke laut. Adapun panjang bibir pantai yang sudah tergerus akibat hempasan ombak ini mencapai 300 meter. Upaya penanganan abrasi ini sudah diajukan ke pemerintah daerah Kabupaten Lotim melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Harapannya, abrasi ini bisa segera tertangani karena diakui sudah cukup lama abrasi namun belum pernah ada penanganan. (rus)