Kapal Pesiar MV. Sun Princess Angkut 2.191 Wisatawan ke Lombok

Pelaku usaha oleh-oleh dan perajin suvenir menjajakan produk lokal di Pelabuhan Lembar bagi wisatawan yang turun dari kapal pesiar. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Tiap tahun kapal pesiar mengangkut wisatawan dari berbagai negara berkunjung ke Lombok. Di awal tahun ini saja sebanyak 9 ribu lebih wisatawan kapal pesiar singgah berwisata ke destinasi wisata Lombok.  Kunjungan ribuan wisatawan ini pun berdampak signifikan terhadap para perajin di daerah setempat. Omzet hasil penjualan kerajinan ketika kedatangan kapal pesiar mencapai puluhan kali lipat dibandingkan hari biasa. Karena itu pihak perajin merasa terbantu dengan kedatangan para wisatawan asing dari kapal pesiar tersebut.

Seperti Jumat,  15 Marwt 2019, kapal mewah MV. Sun Princess tiba di Lombok melalui Pelabuhan Lembar. Kapal pesiar ini membawa wisatawan sebanyak 2.191 orang dengan jumlah kru kapal 855 orang. Kapal ini memiliki panjang 261 meter dan di Nahkodai oleh Capt. Jon Paul Briyant. Sun Princess datang langsung dari Pelabuhan Darwin,Australia. Kapal ini akan melanjutkan perjalanannya ke Pelabuhan Phu My, Vietnam pada pukul 18.00 Wita.

Begitu turun dari sekoci kapal milik MV. Sun Princess, ribuan wisatawa ini pun disambut musik dan tarian adat Lombok ”Gendang Beleq”. Mereka terlihat begitu tertarik dan senang disuguhkan musik dan tarian tradisional tersebut. Tak sekedar menyaksikan atraksi kesenian itu, sejumlah wisatawan juga mencoba memainkan musik gendang beleq. “Musik dan tarian ini sangat menarik dan menyenangkan,” tutur seorang wisatawan asal Australia.

 General Manager Pelindo III Lembar Erry Ardiyanto menyampaikan kunjungan wisatawan yang menggunakan kapal pesiar tentu membawa dampak positif bagi kebangkitan pariwisata di Pulau Lombok. “Dengan membawa penumpang ribuan orang ke Pulau Lombok tentu akan terjadi transaksi berupa jasa transportasi kemudian berbelanja makanan dan suvenir.Selain itu wisatawan juga mengunjungi objek-objek wisata, seperti Taman Pura Narmada, Taman Pura Mayura, Gili Trawangan,Gili Nangu dan masih banyak lagi,”jelas dia.

 Sementara itu, ketua Koperasi Pesisir Pasar Seni Senggigi, Mahayusi dihubungi mengaku, jumlah pengunjung dari kapal pesiar yang datang ke pasar seni di Senggigi bervariasi tergantung jumlah tamu yang turun kapal. Terakhir jelasnya, terdapat belasan bus yang singgah di Pasar Seni Senggigi. “Setiap kali turun kapal pesiar, kami dapat jualan itu rata-rata Rp 1,5 juta hingga Rp 3 juta, ada peningkatan omzet tajam ketika kapal pesiar turun,” jelasnya.

Menurutnya, hasil penjualan tergantung jumlah pengunjung yang datang. Namun dibandingkan hari biasa, hasil penjualan sepi bahkan tidak ada. Ketika kapal pesiar datang, omzet penjualan meningkat tajam. Menurutnya, selama satu bulan kedatangan kapal pesiar tidak tentu, ada sekali, dua kali hingga tiga kali. Para pengunjung yang datang dari kapal pesiar ini jelasnya tidak semua turun, namun sebagian tinggal di kapal pesiar.

Para pengunjung yang diam di kapal ini, jelasnya, disiapkan pula tenda sebanyak 11 unit di areal pelabuhan. Tenda ini dipakai perajin menjajakan kerajinannya. Pihak perajin merasa terbantu dengan kebijakan Pelindo yang memberdayakan perajin lokal, para tamu diarahkan ke lokasi-lokasi perajin di Lobar. Sejauh ini tujuan pengunjung kapal pesiar, seperti Pasar Seni Sesela, Senggigi, Narmada, museum dan Lingsar serta Banyumulek.

Hal senada disampaikan Ketua Pasar Seni Sesela Humaidi. Ia mengaku kunjungan kapal pesiar terakhir ke pasar seni pengunjung yang datang sebanyak 7 bus. Pihak pengelola menarik minat pengunjung dengan atraksi kesenian Lombok seperti peresean dan gendang beleq dan tari. Menurutnya, jumlah omzet hasil penjualan ketika kapal pesiar datang meningkat tajam.  Total keseluruhan hasil penjualan Rp 10-15 juta, masing -masing perajin berkisar Rp 3-5 juta.  “Biasanya hari normal tidak tentu,  kadang tidak ada dapat, artinya ada peningkatan dengan hadirnya tamu dari kapal pesiar ini,” jelasnya. (her)