TNGR Pertimbangkan Legalkan Jalur Torean Rinjani

0
8
Jalur Torean berkabut saat petugas TNGR dan tim gabungan melakukan survei sebelum dikaji  kelayakannya untuk jadi jalur resmi. (Suara NTB/ist_TNGR)

Mataram (Suara NTB) – Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) bersama tim gabungan melakukan survei jalur pendakian. Kali ini tim mengecek jalur Senaru Lombok Utara menuju Torean Rinjani. Survei  sejak awal Februari itu masih berlangsung hingga Rabu, 12 Februari 2020. Hasilnya akan jadi dasar penataan dan perbaikan jalur jika diputuskan dilegalkan.

Survei di jalur Torean yang dikenal paling tropis melewati lembah, menyusuri sungai Kokok Putih dari Danau Segara Anak.  Bagi para trekker, jalur ini disebut jalur “surga”, karena dianggap paling lengkap, termasuk ketersediaan air. Meski belum populer seperti empat jalur resmi lainnya,  Torean dikategorikan paling tropis diapit punggung Rinjani dan bukit Sangkareang.

Pendaki  akan menemukan sensasi menyusuri hutan lebat, melalui tebing, lembah, sungai, air terjun hingga sumber air panas alami yang mengalir dari dalam gua. Selama ini dikenal juga dengan jalur tradisional, karena familiar jadi akses mancing ke Danau Segara Anak, petani Kakao dan peternak, termasuk umat Hindu yang ingin sembahyang di danau.

Kepala TNGR Dedy Ashriady kepada Suara NTB  Rabu menjelaskan, akan mempertimbangkan melegalkan jalur tersebut sebagai alternatif tambahan dari empat jalur resmi lainnya.

“Hasil survei akan dirapatkan terlebih dahulu sebagai bahan pertimbangan untuk dibukanya jalur Senaru – Torean. Keputusan pembukaan jalur akan melibatkan stakeholder terkait,” jelasnya.

Selain Senaru akan dilakukan hal sama di empat jalur resmi lainnya, jalur Senaru Lombok Utara, Jalur Sembalun dan Jalur Timbanuh di Lombok Timur, keempat jalur Aik Berik Lombok Tengah. Secara bertahap akan dilakukan survei, mengingat jarak dan waktu tempuh yang membutuhkan berhari hari untuk satu jalur dan cukup menguras tenaga.

“Jadi ada  empat jalur utama, jalur resmi, satu lagi jalur Torean. Ini kita cek lagi, kalau ada kemungkinan longsor di mana, kerusakan di mana, itu kita pastikan dulu,” kata   Dedy. Namun  belum bisa merinci titik longsor atau kerusakan jalur karena masih menunggu laporan dari tim di lapangan.

  Momentum Upaya Peningkatan Kualitas Keluarga

“Jadi masih panjang ceritanya.  Setelah survei, kemungkinan perbaikan, survei lagi. Baru setelah ini kita pastikan apakah akan dibuka atau tidak,” jelas Dedy.Pengecekan di lima jalur itu sesuai kesepakatan dengan berbagai pihak, diantaranya

Denzibang 2/IX Mataram, Resort Senaru, Asosiasi TO Lombok Utara, Asosiasi TO Lombok Tengah, DPH UGG Rinjani-Lombok, KUN Humanity Sistem.

Berdasarkan kesepakatan dari semua pihak bahwa survei jalur sudah dilakukan Minggu pertama bulan Februari 2020 dengan melibatkan beberapa pihak terkait diantaranya ahli geologi, ahli sipil, Denzibang, medis, perwakilan TO, juga masyarakat adat setempat. (ars)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five − four =