NTB Olah Sampah Jadi Bahan Bakar Pembangkit Listrik

0
13
Hasil olahan sampah jadi pellet RDF di TPA Kebon Kongok. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB mulai mengolah sampah menjadi pellet refuse derived fuel (RDF) sebagai campuran batubara untuk bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di TPA Regional Kebon Kongok Lombok Barat. Pellet RDF yang selama ini didatangkan PLTU Jeranjang dari Klungkung Bali, akan mampu dipasok TPA Regional Kebon Kongok setelah adanya perjanjian kerjasama dengan PLN.

Kepala UPT TPA Regional Kebon Kongok, H. Didik Mahmud Gunawan Hadi yang dikonfirmasi Suara NTB, Rabu, 29 Januari 2020 menjelaskan pihaknya ditraining oleh PLN untuk pengolahan sampah menjadi pellet RDF selama dua bulan. “Nanti pelet itu dibawa ke Jeranjang jadi bahan bakar campuran batubara. Sementara ini, PLTU Jeranjang ngambilnya dari Klungkung Bali,” jelasnya.
Ia mengatakan PLN memberikan pinjaman mesin pengolah sampah menjadi pellet RDF di TPA Kebon Kongok sampai Agustus mendatang dengan kapasitas sampah 500 kg per jam. Pellet yang dihasilkan nantinya sekitar 80 persen. Dalam waktu 8 jam, makan mampu mengolah sampah sebanyak 4.000 kg.

Ia menjelaskan sampah yang diolah menjadi pellet itu terdiri dari tiga spesifikasi. Pertama, 100 persen sampah organik, 90 persen sampah organik dan 70 persen sampah organik. Grade pellet yang akan diterima PLN dengan sampah organik sebesar 70 persen.
Rencananya, Pemprov akan mengadakan mesin pengolah sampah menjadi pellet RDF dengan kapasitas 5 ton per jam setelah APBD Perubahan 2020 mendatang. Saat ini, Pemprov hanya memiliki mesin pengolah sampah dengan kapasitas 250 kg per jam yang berada di TPST Lingsar.

Mesin pengolah sampah organik menjadi pellet RDF yang berada di Lingsar belum dioperasionalkan. Karena operatornya sedang ditraining oleh PLN. Didik mengatakan apabila masing-masing desa/kelurahan di NTB memiliki satu mesin melalui dana desa (DD), maka akan mengurangi sampah yang dibuang ke TPA.

  Penanganan Sampah Perkotaan Harus Komprehensif

Di samping itu, akan dapat mendatangkan pemasukan bagi desa. Karena pellet yang dihasilkan pasarnya sudah jelas yang akan membeli, yakni PLN. Didik menyebutkan dalam 100 ton batubara, dibutuhkan 3 ton pellet RDF untuk bahan bakar PLTU.
“Pasarnya sudah jelas. Kita jajaki juga di perjanjian kerja sama dengan PLN akan mengambil semua pelet sampah ini sesuai grade yang dipersyaratkan,” katanya.

Sedangkan untuk sampah plastik seperti kantong kresek akan diolah menjadi batako. Didik mengatakan Pemprov juga akan mengadakan mesin untuk mengolah sampah kantong plastik menjadi batako.
“Insya Allah tahun ini di APBD Perubahan kita beli alatnya. Termasuk di TPST yang akan dibangun di Pulau Lombok dan Sumbawa, kita taruh mesin pelet dan mesin pengolahan sampah jadi batako,” tandasnya.

Berdasarkan data Dinas LHK NTB, produksi sampah di NTB setiap hari sebanyak 3.388,76 ton. Dari jumlah itu, baru 641,92 ton yang diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sedangkan sampah yang didaur ulang baru 51,21 ton setiap hari.
Produksi sampah masing-masing kabupaten/kota setiap hari di NTB. Kota Mataram produksi sampahnya sebesar 314,3 ton, Lombok Barat 469,56 ton, Lombok Utara 149,15 ton. Kemudian Lombok Tengah 645,73 ton, Lombok Timur 801,74 ton, Sumbawa Barat 92,39 ton, Sumbawa 311,85 ton, Dompu 164,27 ton, Bima 325,94 ton dan Kota Bima 113,83 ton.

Dari produksi sampah sebesar itu, sampah yang diangkut ke TPA di Kota Mataram sebanyak 283 ton tiap hari. Kemudian Lombok Barat 60 ton, Lombok Utara 21 ton, Lombok Tengah 12,25 ton, Lombok Timur 15,4 ton, Sumbawa Barat 28,7 ton, Sumbawa 115,97 ton, Dompu 39,6 ton, Bima 20 ton dan Kota Bima 46 ton. (nas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

15 − 13 =