Rinjani Tetap Masuk UGG

H. Chairul Mahsul (Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB mulai mempersiapkan materi validasi untuk menjamin Taman Nasional Gunung Rinjani tetap menjadi geopark dunia berdasarkan sidang Unesco Executive Board. Validasi akan dilakukan oleh dua orang Assessor dari Unesco pada 2021 mendatang.

General Manager Geopark Rinjani, H. Chairul Mahsul, SH, MM, menerangkan bahwa sertifikat untuk Unesco Global Geopark (UGG) berlaku untuk kurun waktu empat tahun. Proses validasi pada 2021 dijalani untuk tetap menjamin predikat geopark dunia periode 2022-2026.

‘’Untuk tetap masuk UGG setiap tahun kita harus menambah satu geo-site (situs geologi) yang dikembangkan,’’ ujar Chairul. Untuk 2020, pengembangan situs geologi tersebut akan dilakukan di Desa Tanak Beak, Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah (Loteng) yang diduga menjadi lokasi berdirinya Kerajaan Pamatan yang tertimbun letusan Gunung Samalas.

Baca juga:  Uji Coba Wisata Helikopter ke Rinjani Desember 2020

‘’Itu kita push (dorong),’’ ujar Chairul. Mengingat jejak sempurna dari letusan Gunung Samalas (gunung purba Rinjani) bisa terlihat di kawasan tersebut.  ‘’Di Tanak Beak itu punya struktur berlapis. Kita akan fokus di situ,’’ sambungnya.

Pengelolaannya, akan diserahkan kepada Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) NTB. Di sisi lain, integrase program yang telah dilakukan sepanjang 2019 juga akan dimatangkan di 2020. ‘’Laporan 2019 termasuk soal selesainya APGN. Taman nasional dan stakeholder lain juga sudah menyusun kegiatan,’’ ujarnya.

Selain itu, telah dibangun juga pusat informasi geologi di Museum Negeri NTB, dan gedung pusat informasi Geopark Rinjani di Cemara Sewu, Sembalun Lawang, Lombok Timur. Khusus untuk pusat informasi di Cemara Semu disebut akan mulai diisi tahun ini dengan berbagai informasi dan diorama.

Baca juga:  TNGR Pertimbangkan Legalkan Jalur Torean Rinjani

Ditekankan Chairul menjamin status UGG untuk kawasan Rinjani adalah hal penting mengingat dampak yang dibawanya. Selain untuk konservasi kekayaan alam NTB, hal tersebut juga memiliki potensi peningkatan pembangunan serta peningkatan ekonomi masyarakat melalui kegiatan pariwisata.

‘’Banyak warisan geologi yang bernilai bagi warisan dunia tetapi tidak layak masuk. Sesuatu yang prestisius di bidang geologi bagi kita memiliki jejak warisan geologi,’’ ujarnya.

Walaupun begitu, ia mengakui masyarakat dan pemerintah secara umum belum bisa memanfaatkan status tersebut dengan maksimal. Mengingat struktur geografis di kawasan geopark yang belum benar-benar pulih dari dampak bencana gempa 2018.

Baca juga:  Selain Kereta Gantung, Investor Ingin Buat Wisata Helikopter di Segara Anak Rinjani

Dicontohkan Chairul seperti pembangunan geo-homestay yang sempat rusak dan kini tengah direnovasi pascagempa 2018. Selain itu, paket-paket wisata seperti pendakian dan lain-lain disebut belum bisa mencapai normal seperti sebelumnya.

‘’Dulu waktu gempa di hari minggu itu ada 1.600 pendaki di atas puncak. Sekarang dengan kuota 500 per hari saja belum bisa terpenuhi. Paling 200 atau 300,’’ ujarnya.

Kondisi tersebut diharapkan dapat pulih dan meningkat setelah seluruh proses deformasi struktur tanah di kawasan Rinjani dinyatakan aman. Chairul menyebut hal tersebut susah diprediksi mengingat sifatnya yang sangat alamiah. ‘’Dia (struktur tanah, Red) harus terkupas dulu. Entah karena gempa atau karena hujan,” ujarnya. (bay)