Kawasan Bekas Perambahan Hutan Tambora ‘’Disulap’’ Jadi Agrowisata

Kawasan Agrowisata Oi Kampasi yang dikembangkan Balai KPH Tambora bersama Poktan dan Pokdarwis. (Suara NTB/ist_kph tambora)

Mataram (Suara NTB) – Berbagai cara ditempuh Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Tambora untuk memberantas illegal logging dan perambahan hutan kawasan Tambora. Selain cara represif, saat ini sedang dikembangkan pendekatan persuasif melalui agrowisata. Kawasan ini sudah berkembang dan kini jadi  sumber ekonomi baru masyarakat sekitarnya.

Lokasi itu di kawasan yang disebut Oi Kampasi, Kecamatan Manggelewa Kabupaten Dompu. Kawasan ini sebelumnya jadi sasaran perambahan hutan untuk penanaman jagung. Kawasan hutan lindung dan sudah ditetapkan sebagai blok pemanfaatan wilayah tertentu KPH Tambora.

‘’Lokasi yang kami sasar sekarang adalah lokasi yang memang sudah kosong karena ditanami jagung. Dan kami tidak memfasilitasi areal perambahan baru. Kami akan tekan untuk pembukaan lahan baru,’’ kata Kepala Balai KPH Tambora, Burhan, SH kepada Suara NTB Minggu, 1 Desember 2019.

Di kawasan itu kini dikembangkan agrowisata dengan tiga konsep, pemandian di Oi Kampasi, kawasan wisata buah buahan dan tumpang sari. Tiga konsep itu sejalan dengan proses reboisasi kawasan hutan yang sudah rusak. Gerakan ini dilakukan kelompok Tani Oi Kampasi, juga Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Oi Kampasi, di bawah binaan Balai KPH Tambora. Kolaborasi ini melibatkan BPDAS HL Dodokan Moyosari NTB, BPHP VII Denpasar dan Pemda Dompu melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat.

Baca juga:  Diduga, Ada ‘Penumpang Gelap’ di Hutan Konservasi Pesugulan

Kolam pemandian tersebut dibangun sebagai salah satu pengungkit dan daya tarik awal masyarakat berwisata ke Oi Kampasi, dengan memanfaatkan sumber mata air Oi Kampasi. Sementara bibit tanaman buah dibeli secara swadaya oleh masyarakat dengan cara mengumpulkan uang yang nilainya hampir Rp  100 juta, kemudian ditanam secara swadaya pula. Ada juga bantuan dari instansi pemerintah, setelah melihat aktivitas kelompok tani Oi Kampasi.

Gerakan ini konsisten dilakukan Kelompok Tani Oi Kampasi serta Pokdarwis, digaungkan   baik langsung ke masyarakat maupun melalui media sosial. Berbagai pihak pun memberikan dukungan, baik dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Kabupaten.

“Alhamdulillah, beberapa mimpi kami mulai menunjukkan progres. Sebuah kolam pemandian yang disingkat Kopa sedang dalam proses pengerjaan. Sumber anggaran kolam pemandiannya dari BPHP VII Denpasar.  Sedangkan buah yang ditanam setahun lalu masih bertahan dan menunjukkan perkembangan cukup menggembirakan. Bahkan beberapa anggota sudah mulai merasakan hasil dari tanaman buah tersebut,’’ kata Burhan.

Baca juga:  Warga Masih Duduki Hutan Lindung TNGR

Diinformasikannya, dari proses tumpangsari di kawasan hutan sudah membuahkan hasil.  Muhtar adalah salah seorang warga setempat yang sudah menerima hasil, meraup untung Rp  4 juta sampai Rp 5 juta per bulan dari tanaman pisang.

Burhan berharap, ini menjadi kebaikan yang terus mendapat dukungan masyarakat. Ada dua manfaat sekaligus yang diperoleh, reboisasi dan sumber ekonomi masyarakat.

‘’Kami arahkan 5 tahun ke depan selain sebagai pusat buah dan wisata, juga menjadi basis industri kemiri. Setelah petani menanam kemiri 5 tahun yang akan datang, akan dibangun industri pengolahan kemiri,’’ jelasnya.

Ditambahkan Burhan, kerja ini sudah diupayakan sejak setahun lalu, diawali dengan diskusi mencermati kesuksesan dan komitmen masyarakat di daerah lain dalam melestarikan hutan.

Diawali dengan menawarkan kepada masyarakat pembangunan kehutanan berkelanjutan. Setelah disambut komitmen masyarakat,  Manggelewa disulap sebagai kawasan agrowisata dan pusat buah Dompu. Mulailah dirancang sebuah gerakan perubahan dengan hastag #darikampasiuntukdompu yaitu sebuah gerakan untuk mengembangkan sebuah pusat wisata berbasis agro buah buahan.

“Kami berkomitmen untuk mempercepat pelaksanaan dengan berbagi peran. Kami akan membangun sebuah kolam pemandian dan teman-teman kelompok tani mulai melakukan penanaman,” pungkasnya. (ars)