Digagas Hj.Putu Selly Andayani, Sekolah Sampah Gelisah Diluncurkan

Hj. Putu Selly Andayani memberi sambutan saat launching Sekolah Sampah Gelisah. (Suara NTB/ist).

Advertisement

Mataram (Suara NTB) – Masalah sampah memang masih menjadi persoalan di sejumlah daerah di NTB. Termasuk di Kota Mataram. Produksi sampah di Kota Mataram menjadi sekitar 400 ton setiap hari. Sementara yang baru bisa ditangani baru sekitar 75 persennya saja.

Adalah Kepala Lingkungan (Kaling) Banjar, Kelurahan Banjar, Kecamatan Ampenan, Syamsudin Fajar, mengawali mengelola sampah yang menumpuk dan menimbulkan bau tak sedap menjadi persoalan di wilayahnya. Awalnya hal ini merupakan sebuah tantangan dan persoalan yang sulit.

Namun berkat sentuhan Dra.Hj. Putu Selly Andayani, M.Si yang saat tahun 2015 lalu menjabat sebagai Penjabat Wali Kota Mataram, ia merasa terbantu. Sebab, dengan gerakan gotong royong yang digagas Kepala Dinas Perdagangan NTB itu, sampah yang awalnya menjadi momok yang menakutkan, akhirnya bisa mendatangkan berkah.

‘’Saya ingat, pada Jumat pagi tahun 2015 saat awal saya menjabat jadi Kaling, saya kaget Ibu Selly sudah di depan rumah saya. Dan bilang, ayo Pak Kaling kerahkan warganya kita bersihkan saluran air di semua wilayah di Banjar agar tidak banjir dan menimbulkan penyakit pada warga,’’ ujar Syamsudin saat menyampaikan sambutannya pada launching Sekolah Sampah Gelisah, Lingkungan Banjar, Sabtu, 23 November 2019.

Menurut Onting, panggilan akrab Kaling Banjar itu, berkat aksi gerakan gotong royong setiap Jumat yang menjadi program rutin Pemkot setempat di bawah Penjabat Walikota Mataram, Hj. Putu Selly Andayani, semua masyarakat di Lingkunhan Banjar. Kini, mulai menyadari jika keberadaan sampah plastik yang acap kali menyumbat saluran air akan bisa memicu banjir.

Oleh karenanya, peninggalan baik dari Hj Putu Selly Andayani itu hingga kini sudah diterapkan. Yakni, pemilahan semua sampah dari rumah per rumah dengan memerangi sampah plastik menjadi gerakan masyarakat di Lingkungan Banjar.

“Dulu kampung ini kotor karena sampah berserakan. Sekarang jadi lebih bersih. Yang paling penting warga semua sekarang bisa  memilah sampah dan dapat uang,” kata Onting.

“Alhamdulillah sampah plastik sudah enggak ada lagi di Lingkungan Banjar. Ini karena arahan langsung Bu Selly, dan yang kita syukuri. Sekarang sudah enggak ada lagi banjir. Karena, sampah plastik yang menyumbatnya sudah kami pilah memiliki nilai ekonomis bagi warga sekitar,’’ sambungnya.

Onting mengaku, peran generasi muda menjadi inspirasi dalam pembentukan Gerakan Lingkungan Sampah Nihil (Gelisah). Kata dia, Gelisah ini menjadi pioner pemanfaatan sampah di wilayahnya.

Milineal Peduli

Menurut Ketua Gelisah Lingkungan Banjar, Ulfah, pelibatan generasi muda di wilayahnya menjadi penting dalam menggerakkan kegiatan pengurangan sampah di lingkungan tersebut. Mereka memiliki kesadaran lebih tinggi dalam menjaga lingkungan.

Meski awalnya tidak mudah menyakinkan warga untuk mau memilah sampah, kini aktivitas organisasinya sampah tergolong ramai. Setiap harinya, ada saja warga yang menyetorkan sampah.

‘’Dulu susah awalnya mengajak warga. Mereka bilang ngapain kumpulin sampah, ribet. Kita lalu sosialisasi ke ibu rumah tangga dari pintu ke pintu dan sekarang lumayan banyak nasabahnya,’’ kata Ulfah

Sejak berdiri Februari tahun 2015 lalu,  Gelisah yang efektif bekerja menjaring sampah dari warga Banjar baru pada tahun 2018 lalu, sudah membukukan omzet Rp 5 juta per bulannya. Nasabahnya mencapai 101 kepala keluarga.

‘’Dulu pernah dijadwal seminggu sekali untuk penimbangan sampah tapi sedikit yang datang. Kalau dibuka setiap hari banyak yang datang meski kita kewalahan kadang-kadang karena tenaganya di sini sedikit, hanya 15 orang saja. Kita terus melayani lah,’’ jelas Ulfah.

Gelisah ini menerima berbagai sampah anorganik, seperti botol plastik, dupleks, boncos, beling, hingga besi. Untuk harga beli, bank sampah memberi harga yang kompetitif demi menarik minat warga.

Sampah juga dijual dengan harga yang tidak terlalu tinggi dari harga beli dengan selisih Rp100-Rp500 rupiah. Rata-rata pengurangan sampahnya mencapai sekitar 800 Kg per bulan. ‘’Kita tidak ambil untung besar karena mau menarik warga memilah sampahnya dan menjadi nasabah bank sampah,’’ tandas Ulfah.

Saat ini, edukasi pemilihan sampah tengah mulai di intensifkan pihaknya ke dua ponpes di Lingkungan Banjar. Yakni, Ponles NW Nurul Jannah dan Riadul Ulum.

‘’Makanya, kenapa kita launching sekolah sampah ini tidak lain agar santri dan siswa mulai sadar jika sampah itu bukan lagi barang yang berbau. Namun bisa menjadi nilai ekonomis manakala telah dimanfaatkan. Caranya, dengan memilihanya terlebih dahulu. Nanti, kami bantu mengkreasikannya,’’ pungkas Ulfah.

‘’Jadi, karena Bunda Selly yang mencetus dan menggugah sampah itu harus bisa dimanfaatkan, maka beliau juga yang kita daulat untuk me-launching sekolah sampah yang akan berlangsung rutin setiap Sabtu sore untuk siswa sekolah dan kalangan santri,’’ katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan NTB Hj. Putu Selly Andayani mengaku, sejak menjabat Penjabat Walikota Mataram, dirinya berpikir kenapa wilayah Banjar itu selalu banjir manakala hujan dengan intensitas tinggi terjadi.

Hal itu lantaran, daerah tersebut berada di daerah hilir. Sehingga wajar jika perlu ada penanganan ekstra. “Makanya, saja ajak Pak Kaling Banjar kala itu untuk kita bergotong royong, sehingga dengan begitu kita akan tahu jenis sampah apa saja yang banyak menyumbat di sini untuk kita carikan solusi penangananya,’’ kata Hj.Selly.

Menurut Istri H. Rachmat Hidayat, sebagai seorang muslim, ia menyadari jika kebersihan itu adalah sebagian dari iman. Oleh karenanya, konsep kebersihan hakiki sebagai seorang muslim harus diterapkan secara utuh.

‘’Makanya, saya gedor warga bergotong royong dan menanamkan keimanan umat IIslam. Alhamdulillah, pola itu sangat efektif, dan saya bangga jika gerakan bersih-bersih dan memilah sampah di Banjar sudah bisa mengarah memberi nilai ekonomis pada warga sekitar,’’ ujarnya.

Sejak awal, menurut dia, banyak komunitas peduli sampah yang ada di Kota Mataram. Salah satunya, Gelisah ini sangat penting untuk menanamkan semangat menjaga kebersihan lingkungan. Apalagi, kini Pemprov NTB dibawah kepemimpinan Gubernur Dr.H. Zulkeiflimansyah dan Wagub Dr.Hj. Sitti Rohmi Djalilah telah memprogramkan NTB Zero Waste.

‘’Semangat kebersihan lingkungan harus kita tanamkan, pokoknya jangan sirna. Jadi, adik Ulfah ini dulu pendiam anaknya Pak Kaling, begitu saya datang dengan Bu Wagub sebelumnya, saya bilang terus semangat Ulfa. Bunda di belakangmu, Alhamdulillah, kelihatan sekarang hasilnya. Gelisah Banjar memang top,’’ tegas Hj.Selly.

Ia memastikan, akan siap membantu komunitas Gelisah untuk memasarkan segala produk yang dihasilkan dari hasil pemilahan sampah saat ini. Bahkan, kata Hj. Selly, ia merasa bangga menggunakan buku agenda dari produk Gelisah yang berasal dari limbah plastik.

“Banyak yang tanya ke saya, lho Bu Selly pakai buku agenda dari siapa kok unik. Saya bilang ini dari limbah sampah. Di situ kawan-kawan saya dari luar daerah banyak yang kaget. Dan pada mau pesan. Insya Allah, pemasaran dari mulut ke mulut ini efektif. Saya siap jadi terdepan dalam memasarkan produk dari limbah rumah tangga dari komunitas Gelisah ini,’’ janji Hj .Selly. (*)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.