BTNGR Usulkan Ada Fasilitas Pengolahan Sampah di Sekitar Rinjani

Seorang pendaki sedang bersitirahat di salah satu titik pendakian Gunung Rinjani dengan pemandangan Danau Segara Anak. (Suara NTB/ars)

Advertisement

Mataram (Suara NTB) – Masalah sampah masih menjadi momok bagi pendakian Gunung Rinjani. Pasalnya, dengan semakin meningkatkan tingkat kunjungan ke kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), masih belum dibarengi kesadaran tidak membuang sampah sembarang.

‘’Tren kunjungan wisatawan mancanegara kita itu tinggi. Sehingga ekspektasi mengenai nyaman dan bersihnya kawasan semakin tinggi (juga),’’ ujar Kepala Tanan Nasional Gunung Rinjani, Dedy Asriady, kepada Suara NTB, Jumat, 22 November 2019 di Mataram.

Diterangkan Dedy, sejak dibuka pada 14 Juni lalu pascagempa perbandingan pendaki mancanegara dan domestik jukup jauh berbeda. Di mana pendaki mancanegara mencapai 11.414 orang sedangkan pendaki domestik hanya 2.842 orang.

Terkait masalah sampah, Dedy menerangkan bahwa wisatawan mancanegara telah dipastikan membawa kembali sampah-sampah mereka melalui pengawasan dari agen perjalanan maupun pramuwisata yang mendampingi. BTNGR selalu memberikan kantong sampah khusus dan melakukan pengecekan pendaki ketika masuk dan keluar untuk memastikan sampah benar-benar dibawa kembali.

‘’Kita di Taman Nasional membaginan trash bag (kantong sampah) untuk guide dan poternya. Jadi ada investasi kita di situ. Yang agak berat itu justru di para pendaki lokal kita. Trash bag-nya (sering) dibawa pulang,’’ ujar Dedy.

Untuk penanganan sampah, pihak BTNGR mencanangkan adanya fasilitas pengolahan sampah yang representatif di sekitar kawasan. Pasalnya, selama ini sampah yang sudah dibawa kembali oleh para pendaki belum menemukan sistem pengelolaan yang baik.

‘’Selesai dari situ (gunung, Red) mau dibawa ke mana, itu yang belum nyambung. Makanya ke depan kami mau koordinasi dengan pemerintah daerah, salah satunya membawa sampah di kaki gunung sampai ke TPA, atau memastikan di kaki gunung itu ada tempat pengolahan sampah,’’ ujar Dedy.

Salah satu hal yang sudah dilakukan untuk mewujudkan itu adalah koordinasi yang dibangun antara pihak BTNGR dengan pemerintah Desa Sajang, yang menawarkan pengolahan sampah boleh dilakukan di desa tersebut. Pengolahan yang dimaksud adalah menjadikan sampah sebagai usaha produktif melalui bank sampah dan lain sebagainya.

Diterangkan Dedy, dengan adanya fasilitas pengolahan sampah pihaknya mengharapkan adanya tahapan yang pasti untuk pengelolaan sampah di TNGR. ‘’Itu PR Kita. Sekarang dengan SOP penanganan sampah pendakian yang kita buat memang cenderung menurun. Tapi usaha untuk zero waste harus tetap ada,’’ ujarnya.

Salah satu momen yang ditunggu untuk mewujudkan itu adalah penutupan tahunan pendakian yang akan dilakukan pada Desember mendatang. Menurut Dedy, selain mengecek kondisi terkini struktur tanah di jalur pendakian mengikuti musim hujan, pihaknya juga akan memastikan potensi sampah yang masih ada di kawasan Gunung Rinjani.

Pengecekan akan dilakukan sebelum penutupan tahunan dengan melibatkan agen perjalanan, pramuwisata, dan porter yang selama ini aktif berkegiatan di Gunung Rinjani. ‘’Mereka mau memastikan menjualnya untuk tahun depan. Kita lihat saja, sebelum tutup kami akan mendaki,’’ ujar Dedy.

Setelah ditutup pada Desember nanti, pembukaan kembali jalur pendakian dijadwalkan pada April 2020 mendatang. Walaupun begitu, Dedy menerangkan pihaknya akan tetap melakukan pengecekan rutin sebelum bulan April untuk memastikan jika pendakian dapat dibuka lebih cepat.

‘’Setelah musim hujan ada ketidakstabilan struktur tanah. Supaya aman kita tutup dulu. Tapi kita lihat, kalau memang sudah memungkinkan sama-sama kita buka (sebelum April),’’ pungkasnya. (bay)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.