Kementerian LHK Atensi Khusus Hutan dan Lahan Kritis Kawasan Mandalika

KEK Mandalika (suarantb.com/ist)

Advertisement

Mataram (Suara NTB) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) memberikan atensi khusus rehabilitasi  hutan dan lahan (RHL) yang kritis di Kawasan Mandalika. Rehabilitasi diarahkan pada daerah-daerah destinasi wisata super prioritas Danau Toba, Mandalika, Borobudur, Labuan Bajo dan Likupang serta lokasi ibukota negara di Kalimantan Timur (Kaltim).

Kepala Dinas LHK NTB, Ir. Madani Mukarom, B. Sc.F, M. Si mengatakan pada 2019 ini, akan dipersiapkan kebun bibit di sekitar Kawasan Mandalika. ‘’Tahun ini sekitar Mandalika akan dipersiapkan berupa kebun bibit, nanti penanamannya dilakukan swadaya bersama masyarakat setempat,’’ terang Madani dikonformasi Suara NTB, Minggu, 17 November 2019 siang.

Untuk reboisasi hutan dan lahan kritis di NTB, pada tahun 2019 ini, dapat dukungan dari Kementerian LHK. Madani menyebutkan dalam APBN 2019, NTB mendapatkan dukungan rehabilitasi hutan dan lahan kritis seluas 3.100 hektare.

Berdasarkan data Dinas LHK dalam NTB Satu Data, luas hutan dan lahan kritis pada 2018 mencapai puluhan ribu hektare tersebar di delapan kabupaten di NTB. Untuk kawasan hutan yang kritis di Lombok Barat mencapai ribuan hektar pada 2018. Hutan produksi yang kritis seluas 2.111 hektare, hutan lindung 2.209 hektare dan hutan konservasi 434 hektare.

Di Lombok Tengah juga demikian. Untuk hutan produksi yang kritis seluas 2.635 hektare, hutan lindung 1.086 hektare, hutan konservasi 291 hektare dan luar kawasan 72 hektare. Di Lombok Timur, untuk luar kawasan seluas 3.472 hektare, hutan produksi 1.362 hektare, hutan lindung 1.680 hektare dan hutan konservasi 254 hektare.

Di Lombok Utara, untuk luar kawasan hutan seluas 446 hektare, hutan produksi yang kritis seluas 712 hektare, hutan lindung 198 hektare dan hutan konservasi 12 hektare. Di Kabupaten Sumbawa, luar kawasan hutan yang kritis seluas 9.528 hektare dan sangat kritis 10 hektare. Sedangkan untuk hutan produksi yang kritis seluas 7.309 hektare, hutan lindung 5.667 hektare dan hutan konservasi 17 hektare.

Selanjutnya di Kabupaten Sumbawa Barat, luar kawasan hutan yang kritis seluas 120 hektare, hutan produksi yang kritis seluas 535 hektare dan sangat kritis 1.303 hektare, hutan lindung yang kritis seluas 1.759 hektare dan sangat kritis 14 hektare.

Di Dompu, luar kawasan hutan yang kritis seluas 978 hektare, hutan produksi 4.150 hektare, hutan lindung 3.792 hektare dan hutan konservasi yang kritis seluas 832 hektare. Sementara di Bima, luar kawasan hutan yang kritis seluas 2.963 hektare, hutan produksi yang kritis 4.489 hektare dan sangat kritis 350 hektare, hutan lindung kritis 333 hektare, hutan konservasi kritis 95 hektare dan sangat kritus 4.483 hektare.

Pada 2019, Kementerian LHK menyiapkan anggaran Rp2,7 triliun untuk rencana penanaman pohon di areal seluas 206 ribu hektare selain pengembangan kebun bibit dan persemaian di seluruh Indonesia.

Menteri LHK Siti Nurbaya, menyampaikan bahwa sebelum tahun 2019, luasan RHL 23 ribu hektar. Pada tahun 2019 mencapai 206 ribu hektar, artinya hampir 10 kali lipat.

Rehabilitasi hutan dan lahan diarahkan pada daerah-daerah destinasi wisata super prioritas seperti  Danau Toba, Mandalika, Borobudur, Labuan Bajo dan Likupang serta pada lokasi ibukota negara di Kaltim. Selain itu pada lokasi 15 DAS prioritas, 15 danau prioritas, daerah rawan bencana banjir dan tanah longsor, serta daerah hulu dari 65 bendungan/waduk. (nas)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.