Loteng dan Lotim Penyumbang Sampah Terbesar di NTB

Sampah memenuhi salah satu sungai di kota Praya. Loteng tercatat sebagai salah satu daerah penyumbang sampah terbesar di NTB. (Suara NTB/kir)

Praya (Suara NTB) – Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) bersama dengan Kabupaten Lombok Timur (Lotim) tercatat sebagai daerah penyumbang sampah terbesar di NTB. Data dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB tahun 2018 menyebutkan rata-rata kedua kabupaten tersebut menyumbang sekitar 1.447,47 ton sampah per hari. Di mana sebagian besar sampah yang dihasilkan terbuang percuma tanpa ada pengelolaan yang baik.

Demikian disampaikan Kasi Pengelolaan Sampah pada Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB, Ahmad Munzir, usai sosialisasi Perda NTB No. 5 tahun 2019 tentang Sampah, di Praya, Selasa,  12 November 2019.

Selain itu, ujarnya, Lotim tercatat menghasilkan sampai sekitar 801,74 sampah ton per hari. Dari jumlah tersebut yang dikelola di TPA hanya 15,4 ton per hari. Sementara yang bisa didaur ulang hanya 0,08 ton.

Adapun Loteng, menyumbang sampah sekitar 645,73 ton per hari dengan 12,25 ton sampah dibuang ke TPA Pengengat dan 5,81 ton di antaranya bisa didaur ulang serta sisanya dibuang sembarang.

“Kalau bicara persentase sampah yang terkelola, baik itu yang ke TPA ataupun didaur ulang Loteng sebesar 3 persen. Sisanya 97 persen sampah dibuang berserakan. Sedangkan Lotim hanya bisa mengelola sampah sekitar 2 persen. Sisanya dibuang percuma,” ujar Munzir.

Tingginya volume sampah yang dihasilkan kedua daerah tersebut bisa jadi ancaman tersendiri. Bukan hanya bagi kabupaten bersangkutan. Tetapi juga NTB secara lebih luas. Terlebih bagi Loteng, karena akan ada event dunia berupa balap MotoGP dan program pengembangan pariwisata lainnya, pemerintah daerahnya diharapkan bisa lebih keras berpikir untuk bisa menangani persoalan sampahnya.

Dalam hal ini tidak hanya berpikir bagaimana bisa membuang sampah ke TPA saja. Karena kalau hanya sebatas bagaimana sampah bisa diangkut dan dibuang ke TPA, itu tidak akan menyelesaikan persoalan. Mengingat, luas TPA juga terbatas dan tidak akan mampu menampung volume sampah dalam jangka waktu panjang.

Tetapi yang lebih utama sekarang bagaimana sampah-sampah yang kebanyakan bersumber dari sampah rumah tangga bisa dikelola dan didaur ulang, sehingga sampah yang ada bisa menjadi barang bernilai ekonomi, apakah itu bisa dijadikan kompos dan barang bernilai ekonomi lainnya. “Sampah itu kalau dikelola bisa menjadi barang bernilai ekonomi. Tapi kalau tidak dikelola tetap akan jadi sampah dan jadi persoalan,” tegasnya.

Diakuinya, persoalan sampah sudah menjadi persoalan akut yang dihadapi hampir semua daerah di NTB. Mengingat tingginya volume sampah yang ada. Di mana jika bicara NTB, data tahun 2018 menyebutkan total sampah yang dihasilkan per harinya mencapai 3.388,76 ton.

Dari jumlah tersebut yang masuk ke TPA hanya sekitar 641,92 ton. Sementara yang bisa didaur ulang hanya 51,21 ton per hari. Sisanya sekitar 2.695,63 ton sampah itu tidak terkelola. Dalam arti, itulah yang dibuang ke selokan, sungai, pinggir jalan dan tempat-tempat sampah lainnya. (kir)