753 Hektare Vegetasi Rinjani Terbakar

Ilustrasi kebakaran lahan. (Suara NTB/ist)

Advertisement

Mataram (Suara NTB) – Hasil rekapitulasi data Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) Polda NTB, sekitar 753, 24 hektare vetegasi di  Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) hangus terbakar.

Kebakaran terjadi di wilayah Utara dan Timur pada ketinggian sekitar 1.000 hingga 2.000 meter di atas permukaan laut (Mdpl) hingga kawasan kaki Gunung Rinjani. Banyaknya sebaran api diperparah dengan kondisi kekeringan ekstrem pada vegetasi sehingga mudah terbakar.  Jenis vetegasi yang terbakar seperti ilalang hingga pohon pohon tropis yang sudah mengering.

Rentetan kejadian sejak awal Oktober lalu diantaranya, terjadi di bukit savana Adas Petak Sembalun Bumbung, Kecamatan  Sembalun. Lokasi kebakaran pada ketinggian 1500 Mdpl. Kebakaran paling luas di padang savana Semaring Desa Mekarsari, Kecamatan Suela  pada ketinggian 2.329 Mdpl. Api melalap vetegasi di sana hingga 52,94 hektare.

‘’Kawasan ini termasuk paling luas yang terbakar,’’ kata Kabid Humas Polda NTB, Kombes Pol. Purnama, SIK sesuai informasi dari Kabag Pengendalian Operasi Satgas Karhutla, AKBP Rustanto, Senin, 28 Oktober 2019.

Areal hutan savana TNGR yang terbakar selain di Sembalun, juga merambat ke kawasan Rinjani lainnya.  Api bahkan masuk hingga ke hutan  kawasan KPH Rinjani Timur pada petak HP41 dan HP56 di Kecamatan Sambelia. Hutan produksi tidak luput dari kebakaran mencapai puluhan hektar.

Selain kawasan timur, wilayah Utara Rinjani juga dilanda kebakaran. Sebagian menimpa jalur pendakian Sembalun menuju Pelawangan. Sebaran api hingga Desa Senaru dengan luas kebakaran mencapai 20 hektar. Kawasan paling sulit dijangkau adalah lembah Sangkareang di kaki Rinjani yang juga turut terbakar hingga 20 hektar.

Kebakaran di wilayah konservasi ini menjadi perhatian khusus Satgas Karhutla Polda NTB. Sehingga menerjunkan kekuatan personel secara maksimal di semua titik hotspot. Seperti personel Polsek, Polres dan Polda NTB hingga Sat Brimob. Tim Satgas terdiri dari polisi, TNI, personel TNGR, hingga Masyarakat Peduli Api (MPA), para pelaku wisata seperti guide dan Trekking Organizer  (TO).

Hasil evaluasi sementara penyebab kebakaran, sejauh ini belum ditemukan unsur kesengajaan. ‘’Faktor alam karena cuaca yang panas, rumput sudah kering. Faktor penyebab yang lain masih lidik,’’ sebut Kabid Humas.

Saat ini pemantauan titik hotspot masih terus dilakukan melalui aplikasi citra satelit. Jika ditemukan titik merah, maka Satgas Karhutla yang bertindak sebagai operator akan menginformasikan ke tim  Satgas  terdekat, agar lebih cepat menjangkau lokasi.  ‘’Sampai saat ini belum ada terpantau hotspot,’’ pungkasnya. (ars)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.