35 Hektar Hutan dan Lahan di Lobar Terbakar

Kebakaran lahan di Aik Ampat Gerung yang disebabkan kelalaian manusia, Rabu,  9 Oktober 2019. (Suara NTB/ist)

Advertisement

Giri Menang (Suara NTB) – Kasus kebakaran di Lombok Barat (Lobar) meningkat tajam tahun ini.  Jumlahnya mencapai 40-45 kasus. Selain kebakaran bangunan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga tinggi.  Sampai dengan bulan Oktober saja, tercatat 28 kasus dengan luas lahan yang terbakar mencapai 35 hektar lebih.

‘’Bahkan, Rabu (9 Oktober)  saja tercatat terjadi empat kasus kebakaran. Tiga kasus di antaranya kebakaran lahan dan hutan,’’ ungkap Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Lobar Fauzan Husniadi di ruang kerjanya, Kamis,  10 Oktober 2019.

Untuk menekan kasus kebakaran yang didominasi oleh kelalaian warga ini, ujarnya, pihaknya meningkatkan upaya pencegahan dengan melakukan kegiatan sosialisasi mitigasi bencana dengan menyasar sekolah bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Fauzan menyebut, kasus kebakaran yang terjadi Rabu lalu. Seperti kejadian kebakaran hutan dan lahan di Jembatan Gantung, Jagaraga dan Aik Ampat ditambah satu kebakaran di SMPN 4 Gerung. Untuk penanganan kebakaran ini cukup merepotkan sebab terjadi hampir bersamaan.  Pihaknya pun bergerak cepat dengan membagi tim. Dibantu oleh aparat Polri dan warga, pihaknya berhasil menangani kebakaran tersebut.

Menurutnya, penyebab kebakaran ini hampir semua kelalaian warga yang membakar sampah. Seperti yang terjadi di beberapa tempat Rabu lalu, kebakaran dipicu warga yang membakar sampah di sekitar lokasi. “99 persen kebakaran hutan dan lahan ini disebabkan kelalaian,” jelas dia.

Untuk penanganan kebakaran pihaknya mengedepankan aspek pencegahan dengan melainkan sosialisasi mitigasi bencana kepada anak-anak usia dini di sekolah. Pihaknya masuk dalam Ketua Tim Satgas Pencegahan Karhutla, sehingga lebih serius lagi melakukan penanganan.  Pihaknya pun mengangkat persoalan ini sebagai bahan Diklatpim.  Sebab menurut dia dalam pencegahan ini paling bagus dan efektif melalui sekolah-sekolah.  Ia berharap materi diklatnya ini bisa menjadi role model nasional.

Langkah pencegahan ini penting, mengingat kondisi sarana prasarana kendaraan pemadam yang dimiliki sangat terbatas.  Sebab bicara SPM mengacu  Permendagri terbaru Nomor 114 tahun 2018, jumlah armada yang dimiliki sangat jauh kurang. Mengacu permendagri itu setiap kecamatan harus memiliki armada. Minimal, satu unit.

Saat ini pihaknya baru memiliki 3 unit sehingga masih kurang 8 unit. Karena itulah, pihaknya meningkatkan sosialisasi. Di samping pihaknya memperbanyak relawan di dusun dan desa. Pihaknya juga mengintensifkan koordinasi dengan Babinsa serta Bhabinkamtibmaspol.  (her)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.