Ratusan Hektar Hutan TNGR Ditemukan Hancur

Anggota TNI dan Polri bersama warga menanam bibit pohon pada area yang gundul akibat perladangan liar. (Suara NTB/ist_tngr)  

Mataram (Suara NTB) – Operasi penertiban perladangan liar di hutan lindung Pesugulan, Desa Bebidas, Kecamatan Wanasaba, LomboK Timur yang dilakukan tim gabungan berakhir Rabu, 18 September 2019. Petugas Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) menyisir lokasi dan menemukan ratusan hektar kawasan hutan hancur.

Pohon tegakan usia puluhan tahun bahkan pohon purba khas hutan tropis ditemukan hanya batang sisa chainsaw hingga kapak. Sekitar akar pohon sisa penebangan terlihat hamparan tanah gersang bekas perladangan warga.  Bahkan terlihat kontras dengan perbukitan yang hutannya masih terlihat utuh karena masih kawasan Taman Nasional. Tidak dirasakan lagi udara segar dan kawasan sejuk, sebab yang tersisa tanah dan debu beterbangan. Udara panas dan matahari yang terasa menyengat.

Menurut Kepala TNGR Sudiyono, jumlah kawasan hutan Pesugulan yang digerus perladangan terdata sebelumnya mencapai 110 hektar. Luas ini diperkirakan semakin meluas karena aktivitas perladangan semakin massif meski beberapa kali warga diusir dari dalam kawasan. ‘’Total kawasan yang sudah rusak sedang dalam pendataan tim,’’ ujar Sudiyono.

Sebelum penertiban, kawasan hutan lindung Pesugulan dari tahun ke tahun  sejak 2012  semakin memprihatinkan. Pantauan berdasarkan google satelit, perambahan kian massif akibat pembukaan lahan baru oleh oknum warga.

Tim gabungan diterjunkan ke lokasi terdiri dari unsur Kesatuan Pengamanan Hutan (KPH) Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi NTB, Kodim Lombok Timur, Polres Lombok Timur, Sat Pol PP. Tim menemukan hamparan lahan yang sudah tandus dan sudah dipetak petani untuk menanam berbagai jenis komoditi. Perilaku ini disebut Pemanfaatan Kawasan Tanpa Izin (PKTI).

‘’Kawasan yang dulunya penuh dengan tegakan pohon, sejuk dan rindang telah berubah akibat kegiatan PKTI. Pohon-pohon ditebang dan digantikan dengan gubuk-gubuk kerja semi permanen. Tanaman pertanian seperti cabai, tomat, jagung dan lain-lain,” papar Sudiyono prihatin.

Soal kesan tindakan itu tidak manusiawi karena menghilangkan mata pencahariaan masyarakat petani ditepis Sudiyono. Kegiatan pembongkaran gubuk dan pembersihan kawasan hutan bukan berarti menyengsarakan rakyat. Menurutnya, penindakan itu semata untuk mengembalikan fungsi kawasan hutan.

‘’Mungkin terlihat kejam namun jika tidak ditanami pohon kembali dan ketika bencana datang kemudian akan timbul penyesalan,’’ ungkapnya.

Tidak sekadar menertibkan, tim operasi simpatik melakukan revitalisasi kawasan hutan Pesugulan.
Rehabilitasi kawasan dilakukan melalui penanaman sedikitnya 550 bibit pohon. Jenis bibit yang ditanam diantaranya 400 bibit pohon beringin yang diambil dari persemaian BPDASHL Dodokan Moyosari NTB dan 150 bibit klokos dari persemaian TNGR Resort Setiling.

Dua jenis pohon ini sengaja dipilih karena kemampuan menyerap dan menyimpan air yang sangat baik serta memiliki tajuk yang lebat.

Dalam hitungan beberapa tahun ke depan, kawasan ini akan mulai terlihat hijau sembari terus dilakukan pengawasan ketat agar warga tidak kembali berladang. (ars)