Faktor Kesadaran Masyarakat Jadi Tantangan Berat Wujudkan Zero Waste

Madani Mukarom (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Kesadaran masyarakat melakukan pemilahan sampah masih menjadi pekerjaan rumah (PR) yang cukup berat bagi NTB. Pasalnya, 80 persen sampah masih dibuang sembarangan.

Hal ini menjadi tantangan berat untuk mewujudkan pencapaian target salah satu indikator Sustainable Development Goals (SDGs), yakni rumah tangga dengan perilaku pemilahan sampah yang skornya masih nol. Artinya, pencapaiannya masih cukup jauh dari target SDGs.

‘’Pemilahan sampah  itu memang agak berat. Karena itu berkaitan dengan edukasi, mengubah mindset orang. Dan itu tak sebatas satu, dua tahun,’’ kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB, Ir. Madani Mukarom, B. Sc.F, M. Si dikonfirmasi Jumat, 13 September 2019 sore.

Menurutnya, edukasi dan penyadaran kepada masyarakat tentang pentingnya pemilahan sampah merupakan upaya yang terus menerus akan dilakukan. Karena menurut Madani, PR paling besar terkait dengan zero waste adalah mengubah mindset masyarakat.

Untuk itu, Pemprov sedang mengadvokasi Pemda kabupaten/kota kaitan dengan anggaran zero waste. Pemda kabupaten/kota diharapkan memperhatikan anggaran terkait dengan pemberian edukasi kepada masyarakat.

Belum lama ini, kata Madani, Wakil Gubernur NTB, Dr. Ir. Hj. Sitti Rohmi Djalilah sudah mengundang Pemkot Mataram kaitan dengan upaya pengurangan dan penanganan sampah. Termasuk di dalamnya mengenai anggaran untuk mendukung program tersebut.

Baca juga:  Jaksa Telaah Dugaan Bantuan Bank Sampah Fiktif

Selama ini katanya, umumnya anggaran untuk Dinas Lingkungan Hidup (DLH) baik provinsi dan kabupaten/kota sangat marginal. Kalau pun ada anggaran yang dialokasikan Pemda, sifatnya hanya menggugurkan kewajiban, nilainya sangat kecil.

Namun, Pemprov NTB sudah mulai memberikan perhatian dari sisi anggaran sejak beberapa tahun terakhir. Anggaran untuk Dinas LHK terus mengalami peningkatan. Tinggal, Pemda kabupaten/kota diminta lebih fokus menangani persoalan sampah.

Madani mengatakan, Singapura menjadi negara yang maju karena terkenal dengan kebersihannya. Dengan menjadi negara yang bersih, membuat orang tertarik berkunjung ke sana. Sehingga mendatangkan pendapatan bagi negara.

‘’Harusnya itu menjadikan teman-teman kabupaten/kota bahwa kebersihan itu menjadi hal yang penting,’’ ujarnya.

Pemprov NTB meminta kabupaten/kota untuk fokus dalam pengurangan dan penanganan sampah. Sehingga akan dapat mendongkrak pencapaian indikator SDGs yakni rumah tangga dengan prilaku pemilahan sampah.

Produksi sampah masing-masing kabupaten/kota setiap hari di NTB cukup tinggi. Misalnya,  Kota Mataram produksi sampahnya sebesar 314,3 ton, Lombok Barat 469,56 ton, Lombok Utara 149,15 ton. Kemudian Lombok Tengah 645,73 ton, Lombok Timur 801,74 ton, Sumbawa Barat 92,39 ton, Sumbawa 311,85 ton, Dompu 164,27 ton, Bima 325,94 ton dan Kota Bima 113,83 ton.

Baca juga:  Kemenko Maritim Soroti Persoalan Sampah

Dari produksi sebesar itu, sampah yang diangkut ke TPA di Kota Mataram sebanyak 283 ton tiap hari. Kemudian Lombok Barat 60 ton, Lombok Utara 21 ton, Lombok Tengah 12,25 ton, Lombok Timur 15,4 ton, Sumbawa Barat 28,7 ton, Sumbawa 115,97 ton, Dompu 39,6 ton, Bima 20 ton dan Kota Bima 46 ton.

Sedangkan sampah yang dibuang sembarangan mencapai 80 persen atau 2.695,63 ton  tiap hari. Dari 2.695,63 ton sampah yang dibuang sembarangan terdapat di Lombok Barat 409 ton,  Lombok Utara sebesar 128,15 ton, Lombok Tengah 627,67 ton, Lombok Timur 786,26 ton, Sumbawa 189,64 ton, Dompu dan Bima masing-masing 124,67 ton dan 286,38 ton. Kemudian  Kota Mataram hanya 15,59 ton, Sumbawa Barat 60,44 ton dan Kota Bima 67,83 ton. (nas)