Satelit BMKG Pantau Puluhan Titik Panas di NTB

Ilustrasi titik panas (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)  mendeteksi puluhan hotspot (titik panas) di NTB. Titik panas terpantau pada satelit, diperkirakan dipicu kebakaran lahan dan hutan.

Pantauan terakhir Senin, 2 September 2019, sebaran titik panas dominan Pulau Sumbawa.  Jumlah titik terpantau mencapai 11 titik.  “Terpantau adanya beberapa sebaran titik panas di wilayah NTB berdasarkan citra satelit modis,” kata Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi BIL, Nanang Bochari, SP.

Dijelaskannya, hasil deteksi hotspot menggunakan sensor modis pada satelit Terra dan Aqua itu,  memberikan gambaran lokasi wilayah yang mengalami kebakaran lahan dan hutan. Setiap ada kejadian kebakaran, sebutnya, satelit akan mendeteksi anomali suhu panas dalam luasan 1 kilometer persegi.

Baca juga:  Pelajar dan ASN NTB Gelar Salat Minta Hujan

“Pada suatu lokasi di permukaan bumi akan diobservasi 2 sampai 4 kali per hari. Pada wilayah yang tertutup awan, maka hotspot tidak dapat terdeteksi,” ujarnya.

Sementara pantauan lebih spesifik oleh BMKG Bima untuk wilayah Kota Bima, Kabupaten Bima dan Dompu.  Berdasarkan pantauan

pukul 08.00 – 17.00 Wita, terdapat 21 titik panas di dua wilayah  tersebut. Di antaranya,  Ambalawi 1 titik panas,  Bolo 1 titik panas, Parado 2 titik panas,  Kempo 5 titik panas,  Sanggar 5 titik panas,  Pekat 3 titik panas, Hu’u 1 titik panas, Kilo 2 titik panas, Wera 2 titik panas.

Sementara Satgas Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Polda NTB terus memantau titik panas di NTB. Melalui aplikasi yang dipantau operator khusus, jika terdeteksi titik panas, Satgas di masing masing Polres akan bergerak ke lokasi.  Jika didapati kebakaran, tim akan langsung melakukan pemadaman menggunakan dengan mobil pemadam kebakaran (Damkar).

Baca juga:  BMKG Jelaskan Waktu Tibanya Hari Tanpa Bayangan di NTB

Jika sulit terjangkau kendaraan karena di atas bukit, tim akan melakukan pemadaman manual. “Jadi begitu ada kejadian, langsung turun melakukan pemadaman. Pakai Damkar atau manual, supaya api tidak menjalar,” kata Satgas Karhutla melalui Kabid Humas Polda NTB, Kombes Pol Purnama, SIK.

Demi memudahkan koordinasi dan penanganan, dalam Satgas itu terlibat juga BMKG, Damkar, TNI, Pemda, termasuk melibatkan komunitas Masyarakat Peduli Api. (ars)