NTB Masuk Fase Puncak Kekeringan Ekstrem

Anggota Posramil 1608-05/Donggo  berusaha memadamkan api di kawasan hutan Desa Piong Kecamatan Sanggar, Kabupaten Bima. (Suara NTB/kodim 1608/bima) 

Mataram (Suara NTB) – Hampir seluruh daerah di NTB sedang masuk fase puncak musim kemarau atau kekeringan ekstrem. Pada situasi kekeringan meteorologi ini,  Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan dampak kebakaran hutan, krisis air bersih, kekeringan lahan irigasi.

Dengan masuknya periode puncak musim kemarau di NTB, masyarakat diimbau agar waspada dampak kekeringan, kekurangan ketersediaan air bersih dan potensi kebakaran lahan di sebagian besar wilayah NTB. Potensi ini khususnya di daerah – daerah rawan kekeringan dengan fase Hari Tanpa Hujan (HTH) lebih dari 60 hari.

Catatan BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat, peluang terjadinya hujan pada dasarian (waktu 10 hari) II pada Agustus 2019 sangat rendah. Peluang terjadi hujan kurang dari 20 mm per dasarian atau hanya sebesar 10 sampai 20 persen di seluruh wilayah NTB.

Situasi ini sama dengan saat dasarian I Agustus 2019, umumnya tidak terjadi hujan di seluruh wilayah NTB. Curah Hujan hanya tercatat di Pos Hujan Pringgasela sebesar 10 mm per dasarian. Sifat hujan pada dasarian I Agustus 2019 umumnya bawah normal.

Baca juga:  Api di Bukit Sempana Diperkirakan Padam Sendiri

‘’Hari Tanpa Hujan (HTH) berturut – turut umumnya dalam kategori sangat panjang, antara 31 sampai 60 hari, hingga Kekeringan ekstrem  dengan HTH lebih dari 60 hari,’’ kata Kepala Seksi  Data dan Informasi BMKG Satklim Lobar, Luhur Tri Prayitno, SP, Selasa, 13 Agustus 2019.  Daerah tanpa hujan terpanjang terjadi di  Jereweh, Kabupaten Sumbawa Barat sepanjang 118 hari.

Peringatan dini dampak kekeringan disampaikan untuk  daerah dengan HTH lebih dari 60 hari, seperti  Lombok Utara di Bayan, Tanjung, Gangga.  Lombok Tengah di Batukliang Utara.  Lombok Timur di Labuhan Pandan dan Sambelia.  Sumbawa Barat untuk Brang Rea, Taliwang, Brang Ene dan  Jereweh. Sementara  Sumbawa Besar, HTH terpanjang paling banyak. Seperti Alas, Orong Telu, Buer, Batulanteh, Sumbawa, Moyohilir, Moyohulu, Alas Barat, Lape.   Sementara di Dompu, Manggalewa, Woja, Kempo, Hu’u, Kilo, Pajo. Kabupaten Bima, daerah kemarau panjang seperti Donggo, Palibelo, Tambora, Langgudu, Madapangga, Wera, Belo, Wawo, Bolo, Woha, Sape, serta Kota Bima seperti Raba, Asakota Kolo, Asakota Jatiwangi.

Baca juga:  BMKG Ingatkan Hutan dan Lahan NTB Rawan Terbakar

Kebakaran di Sanggar 

Dampak kekeringan mulai terlihat. Setelah kebakaran hutan dan lahan di Lombok Timur, kejadian sama di  Kabupaten Bima. Titik api ditemukan di atas lahan Hak Guna Usaha (HGU) Usaha Tani Lestari (UTL) Desa Piong Kecamatan Sanggar Kabupaten Bima, Selasa, 13 Agustus 2019 kemarin.

Upaya pemadaman dilakukan anggota TNI dipimpin Danpos Ramil 1608-05/Donggo Pelda Barahima bersama anggota Posramil.

Dandim 1608/Bima Letnan Kolonel Inf Bambang Kurnia Eka Putra  sesuai laporan diterimanya, Danposramil berkoordinasi dengan PT. Sanggar Agro dan aparat Pemerintahan setempat dengan menghubungi tim Pemadam Kebakaran (Damkar).

“Api awalnya sudah bisa dipadamkan. Namun, tidak lama kemudian muncul lagi sehingga Damkar mengerahkan mobil pemadam kebakaran tambahan,” ungkap Dandim.

Belum diketahui pasti pemicu kebakaran. Namun demikian, Dandim lulusan Akmil 1999 ini mengajak seluruh warga yang dekat kawasan hutan berhati-hati, tidak sembarang membuang puntung rokok atau menyalakan api yang dapat memicu kebakaran hutan.

‘’Mengingat saat ini sudah memasuki musim kemarau panjang,’’ ujarnya. (ars)