Padi di KSB Mulai Tercemar Merkuri

Ilustrasi tanaman padi (pixabay)

Taliwang (Suara NTB) – Kandungan merkuri yang terdapat dalam sejumlah komoditas yang dikonsumsi masyarakat KSB sudah berada di atas ambang batas. Temuan ini berdasarkan hasil uji laboratorium Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Surabaya.

Demikian diungkapkan, Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Sumbawa Barat, H. Tuwuh, S.Ap kepada Suara NTB, Senin, 22 Juli 2019. Menurut Tuwuh, beberapa sampel seperti daging kuda, padi dan juga ikan sudah terpapar merkuri. Sampel yang diambil di Kecamatan Brang Rea dan Taliwang tersebut mengindikasikan bahwa KSB sudah masuk katagori bahaya merkuri.

‘’Berdasarkan hasil sampel tanaman padi, ikan, dan daging kuda yang diambil dari Kecamatan Brang Rea dan Taliwang tingkat paparan merkuri sudah berada di atas ambang batas. Bahkan, di beberapa sampel rambut yang diambil juga ditemukan adanya kandungan merkuri,’’ ujarnya.

Fenomena tersebut menandakan bahwa pencemaran oleh merkuri di KSB sudah sangat parah dan harus segera disikapi. Jika tidak, maka kondisi yang terjadi saat ini akan semakin parah di masa-masa yang akan datang. “Maka dari itu, upaya untuk menekan penggunaan merkuri harus segera dilakukan demi masa depan yang lebih baik,” imbuhnya.

Baca juga:  Padi dan Ikan di Sekotong Terindikasi Tercemar Merkuri

Berdasarkan hasil uji laboratorium yang diterima pihaknya, untuk tanaman padi ditemukan kadar merkuri sebesar 0,37 miligram atau diatas ambang batas dari batas aman sebesar 0,3 miligram. Begitu juga daging kuda. Juga ditemukan kadar merkuri di atas 0,3 miligram sesuai standar kesehatan lingkungan yang ditetapkan.

Sementara pada manusia, berdasarkan sampel yang diambil rata-rata di rambut mereka ditemukan kandungan merkuri dan tingkat anemia yang diderita juga meningkat secara signifikan. Tentu bagi masyarakat yang sudah terpapar merkuri efeknya tidak akan dirasakan saat ini, melainkan beberapa tahun yang akan datang baru akan memberikan dampak.

Karena pada prinsipnya, merkuri ini merupakan logam berat sehingga tidak akan mudah dicerna oleh tubuh dan akan mengendap hingga bertahun-tahun lamanya.

Bahkan, dampak buruk bagi kesehatan jika tidak segera ditanggulangi akan menimbulkan kerusakan ginjal dan hati. Maka dari itu perlu langkah bersama untuk bisa menangani masalah pencemaran merkuri ini.

‘’Memang dampak dari pencamaran merkuri bukan seperti penyakit yang lainnya karena langsung dirasakan dampaknya, malainkan butuh waktu yang cukup panjang. Tetapi jika paparan merkuri di dalam tubuh sudah semakin banyak, maka kerusakan organ vital yang ada di dalam tubuh sangat dimungkinkan terjadi,’’ katanya.

Baca juga:  Tutup Tambang Liar, Polda NTB Putus Rantai Peredaran Merkuri

Ditambahkannya, melihat kondisi tersebut maka upaya untuk melakukan penertiban merkuri akan semakin digalakkan baik itu melalui kegiatan sosialisasi kepada masyarakat secara luas. Baik kepada para pemilik gelondong, para penambang di seluruh wilayah maupun masyarakat secara umum. Apalagi untuk untuk saat ini sudah ada tim khusus yang sengaja dibentuk oleh Polda untuk bisa melakukan penertiban terhadap merkuri.

Pembentukan tim khusus ini dilakukan sebagai upaya tegas pemerintah untuk menjamin lingkungan yang aman dan tidak terpapar zat berbahaya (merkuri). Makanya dengan adanya tim khusus yang terbentuk, upaya tegas dalam penertiban akan lebih di kedepankan. Tidak ada lagi toleransi karena dampak sudah sangat luas bagi masyarakat dan produk pertanian.

‘’Kami berharap agar tim khusus yang dibentuk oleh Polda bisa melakukan penertiban secara paksa dengan harapan paparan merkuri yang saat ini berada di ambang batas bisa dihilangkan,’’ pungkasnya. (ils)