NTB Targetkan Pengurangan Sampah 30 Persen

Ilustrasi penanganan sampah (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB menargetkan pengurangan sampah sebanyak 30 persen sampai 2023 mendatang dengan menggerakkan masyarakat lewat bank sampah dan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Sedangkan 70 persen sampah ditargetkan tertangani selama lima tahun ke depan.

Direktur Bank Sampah Bintang Sejahtera, Syawaluddin mengatakan bahwa memang saat ini sedang dilakukan pelatihan terhadap 74 bank sampah yang dibentuk Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB. Ditargetkan tahun depan, bank sampah bentukan Pemprov ini sudah mulai bergerak.

Tetapi, untuk bank sampah yang sudah mandiri, dibentuk oleh kelompok masyarakat sudah banyak yang jalan. Syawal mencontohkan, seperti bank sampah yang berada di bawah jaringan Bank Sampah Bintang Sejahtera yang jumlahnya sekitar 170 buah, sudah berjalan.

‘’Tahun ini pemerintah mengadakan pelatihan untuk bank sampah yang sudah dibentuk. Pak Kadis merujuk pada program tahun ini. Tahun ini baru melakukan pelatihan. Ada 74 desa tahun ini. Sekarang masih dalam proses pelatihan, persiapan,’’ kata Syawal dikonfirmasi Suara NTB, Rabu, 10 Juli 2019.

Sebanyak 74 bank sampah yang dibentuk Pemprov tersebut berada di desa miskin yang sudah ditetapkan berdasarkan SK Gubernur. Selain membentuk bank sampah, program zero waste juga terintegrasi dengan program lainnya seperti desa wisata, revitalisasi Posyandu dan lainnya.

Selain itu, pembentukan bank sampah juga dilakukan pemerintah kabupaten/kota dengan sumber anggaran dana desa. Syawal menyebut, tahun ini ditargetkan ada 1.000 bank sampah yang terbentuk di desa-desa yang ada di NTB.

Syawal menambahkan, apabila menunggu dana dari pemerintah, memang bank sampah tak bisa bergerak cepat. Karena pemerintah memiliki dana dan sumber daya yang terbatas. Sehingga dibutuhkan inisiatif dari masyarakat.

Baca juga:  Program NTB ‘’Zero Waste’’, Dinas LHK Sebut Bank Sampah Belum Bergerak

‘’Apabila 1.000 bank sampah tersebut bergerak,’’ kata Syawal. Maka ribuan ton sampah bisa diolah setiap bulan. Misalnya satu bank sampah dapat mengolah 5 ton sampah sebulan. Jika seluruh bank sampah bergerak, maka sekitar 5.000 ton sampah dapat diolah setiap bulan.

‘’Targetnya dengan adanya program partisipasi masyarakat dalam bank sampah ini. Sampai tahun 2023, itu ditargetkan 30 persen sampah dapat  dikurangi. Dan 70 persen sampah tertangani,’’ sebut Syawal.

Meskipun bank sampah yang dibentuk pemerintah belum bergerak. Namun Syawal mengatakan sekitar 200 bank sampah yang dibentuk oleh masyarakat secara mandiri sudah berjalan. Saat ini sedang dilakukan pendataan terhadap bank sampah-bank sampah yang dibentuk masyarakat secara swadaya.

Syawal menambahkan, tolok ukurnya adalah neraca persampahan. Bagaimana menyeimbangkan potensi timbunan sampah dengan infrastruktur atau usaha yang dilakukan masyarakat untuk mengurangi sampah menjadi nol.

‘’Sekarang neraca persampahan targetnya masyarakat mengolah sampah dari sumber. Kemudian penanganan sampah 70 persen dengan infrastruktur yang dimiliki,’’ tandasnya.

Pemprov NTB melalui Dinas LHK sudah membuat roadmap atau peta jalan penanganan sampah di daerah ini. Sesuai roadmap program zero waste, Pemprov menargetkan pada 2023 ada pengurangan sampah sebesar 30 persen dan penanganan sampah sebesar 70 persen.  Yakni melalui pengelolaan sampah berbasis masyarakat lewat bank sampah.

Selain melalui upaya pengelolaan berbasis masyarakat dan bank sampah, juga dilakukan kerjasama pengelolaan sampah antara Pemprov, Pemda kabupaten/kota dan lembaga non pemerintah. Serta industrialisasi pengolahan sampah dan daur ulang.

Target ini lebih awal akan dicapai dibandingkan target nasional. Di mana, nasional menargetkan pengurangan sampah 30 persen dan sampah tertangani sebesar 70 persen pada 2025.

Baca juga:  Program NTB ‘’Zero Waste’’, Dinas LHK Sebut Bank Sampah Belum Bergerak

Data Dinas LHK NTB, produksi sampah di NTB setiap hari sebanyak 3.388,76 ton. Dari jumlah itu, baru 641,92 ton yang diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sedangkan sampah yang didaur ulang baru 51,21 ton setiap hari.

Artinya, baru 20 persen sampah yang ditangani atau diangkut ke TPA. Sisanya 80 persen sampah masih dibuang sembarangan di parit, got dan sungai. Sampah yang dibuang sembarangan inilah yang kemudian mencemari laut.

Sebesar  80 persen sampah yang dibuang sembarangan tersebut jumlahnya  2.695,63 ton  tiap hari di seluruh NTB.  Secara rinci produksi sampah masing-masing kabupaten/kota setiap hari di NTB.

Kota Mataram produksi sampahnya sebesar 314,3 ton, Lombok Barat 469,56 ton, Lombok Utara 149,15 ton. Kemudian Lombok Tengah 645,73 ton, Lombok Timur 801,74 ton, Sumbawa Barat 92,39 ton, Sumbawa 311,85 ton, Dompu 164,27 ton, Bima 325,94 ton dan Kota Bima 113,83 ton.

Dari produksi sampah sebesar itu, sampah yang diangkut ke TPA di Kota Mataram sebanyak 283 ton tiap hari. Kemudian Lombok Barat 60 ton, Lombok Utara 21 ton, Lombok Tengah 12,25 ton, Lombok Timur 15,4 ton, Sumbawa Barat 28,7 ton, Sumbawa 115,97 ton, Dompu 39,6 ton, Bima 20 ton dan Kota Bima 46 ton.

Dari 2.695,63 ton sampah yang dibuang sembarangan terdapat di Lombok Barat 409 ton,  Lombok Utara sebesar 128,15 ton, Lombok Tengah 627,67 ton, Lombok Timur 786,26 ton, Sumbawa 189,64 ton, Dompu dan Bima masing-masing 124,67 ton dan 286,38 ton. Kemudian  Kota Mataram hanya 15,59 ton, Sumbawa Barat 60,44 ton dan Kota Bima 67,83 ton. (nas)