Program NTB ‘’Zero Waste’’, Dinas LHK Sebut Bank Sampah Belum Bergerak

Madani Mukarom (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB mengatakan bank sampah yang dibentuk di tiap-tiap desa tahun ini belum bergerak. Tahun ini, Dinas LHK baru memberikan pelatihan kepada 74 bank sampah yang telah dibentuk di kabupaten/kota.

‘’Semua desa ini sedang proses pembentukan, baru 74 bank sampah sedang dilatih. Tahun ini baru melatih mereka,  tahun depan sudah mulai bergerak,’’ kata Kepala Dinas LHK NTB, Ir. Madani Mukarom, B. Sc.F, M. Si di Mataram, Selasa, 9 Juli 2019 siang.

Ia mengatakan, Pemprov NTB dan Pemda kabupaten/kota sedang bergerak untuk pembentukan bank sampah di NTB. Bahkan, katanya, Pemda kabupaten/kota sudah mewajibkan pemerintah desa membentuk bank sampah lewat dukungan anggaran dana desa.

Madani mengatakan, sudah ada Memorandum of Understanding (MoU) antara Gubernur NTB dan Bupati/Walikota se-NTB soal pembentukan bank sampah di desa dan kelurahan. Ia mengatakan, dampak program zero waste memang belum terlihat signifikan. Karena program ini baru berjalan enam bulan.

Enam bulan berjalan, program NTB Zero Waste, kata Madani sudah mulai terlihat gaungnya. Meskipun banyak yang mencela, tetapi hal itu menunjukkan masyarakat semakin peduli terhadap persoalan sampah.

‘’Yang dulu orang tak pernah omongkan. Sampah menumpuk di mana-mana, ndak pernah orang ngomong. Tapi sekarang langsung disampaikan,’’ katanya.

Program unggulan NTB Zero Waste diakui dukungan anggaran masih sedikit. Tetapi tahun 2020 mendatang, ia optimis anggarannya akan ditambah. Meskipun anggaran terbatas, kata Madani, tetapi pihaknya bergerak dengan komunitas peduli lingkungan. ‘’Saya hampir seminggu tiga kali diundang. Saya hadir terus,’’ ungkapnya.

Terkait dengan inovasi pengolahan sampah, Dinas LHK NTB menandatangani kerjasama dengan STT PLN. Kerjasama itu untuk riset, pengembangan teknologi sampai pemasaran hasil olahan sampah yang akan diolah menjadi bahan bakar energi listrik.

Baca juga:  Sampah di Mataram Sulit Tertangani

Dinas LHK menargetkan tahun ini terbangun pabrik pengolahan sampah kapasitas 5 ton sehari. Pabrik tersebut akan mengolah sampah menjadi bahan bakar energi listrik khususnya untuk  Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Madani mengatakan, Dinas LHK akan membeli mesin pengolah sampah sebanyak satu unit setelah penetapan APBD Perubahan 2019. Mesin pengolah sampah ini nantinya akan dikembangkan oleh Science Technology and Industrial Park (STIP) NTB yang berada di Banyumulek untuk kapasitas yang lebih besar.

‘’Kita sudah mulai pengolahan sampah untuk residu pembakaran campuran batu bara. Jadi semua sampah nanti dibuat jadi pelet sampah. Tahun ini kita mulai uji coba untuk skala 5 ton sehari. Nanti kita dorong akan dikembangkan di STIP untuk pengembangan yang lebih besar,’’ kata Madani.

Mesin pengolahan sampah yang diadakan tahun ini rencananya akan ditempatkan di Tempat Pemrosesan Industrialisasi Sampah Rincung. Dengan adanya pabrik pengolahan ini semua jenis sampah dapat diolah menjadi pelet. Pelet sampah inilah yang akan menjadi campuran batu bara untuk bahan bakar PLTU.

‘’Tahun ini sudah kita mulai di anggaran perubahan kita beli satu unit. Nanti dicontoh oleh STIP untuk pengembangan karena sederhana alatnya,’’ ujarnya.

Terkait pasar pelet sampah ini, Madani mengatakan nantinya bank sampah bisa bekerjasama dengan PLTU Jeranjang, PLTU Sambelia dan PLTU AMNT. Bahkan, kata Madani, pelet sampah untuk kebutuhan PLTU Jeranjang didatangkan dari Bali.

Baca juga:  Pemkot Berencana Beli Mesin Penghancur Sampah

Madani mengatakan, nantinya mesin pengolahan sampah menjadi bahan bakar energi listrik ini harus ada di bank sampah yang dibentuk di kabupaten/kota. Dengan adanya pabrik pengolahan ini, ia yakin tak akan ada lagi sampah yang memenuhi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Regional Kebun Kongok. Pasalnya semua jenis sampah, baik plastik dan organik dapat diolah menggunakan mesin tersebut.

Berdasarkan data Dinas LHK NTB, sekitar 80 persen sampah masih dibuang sembarangan di NTB. Sampah yang dibuang sembarangan jumlahnya  2.695,63 ton  tiap hari di seluruh NTB.

Dari 2.695,63 ton sampah yang dibuang sembarangan terdapat di Lombok Barat 409 ton,  Lombok Utara sebesar 128,15 ton, Lombok Tengah 627,67 ton, Lombok Timur 786,26 ton, Sumbawa 189,64 ton, Dompu dan Bima masing-masing 124,67 ton dan 286,38 ton. Kemudian  Kota Mataram 15,59 ton, Sumbawa Barat 60,44 ton dan Kota Bima 67,83 ton.

Produksi sampah masing-masing kabupaten/kota setiap hari di NTB cukup tinggi. Kota Mataram produksi sampahnya sebesar 314,3 ton, Lombok Barat 469,56 ton, Lombok Utara 149,15 ton. Kemudian Lombok Tengah 645,73 ton, Lombok Timur 801,74 ton, Sumbawa Barat 92,39 ton, Sumbawa 311,85 ton, Dompu 164,27 ton, Bima 325,94 ton dan Kota Bima 113,83 ton.

Dari produksi sampah sebesar itu, sampah yang diangkut ke TPA di Kota Mataram sebanyak 283 ton tiap hari. Kemudian Lombok Barat 60 ton, Lombok Utara 21 ton, Lombok Tengah 12,25 ton, Lombok Timur 15,4 ton, Sumbawa Barat 28,7 ton, Sumbawa 115,97 ton, Dompu 39,6 ton, Bima 20 ton dan Kota Bima 46 ton. (nas)