BNPB Ingatkan Pemprov Antisipasi Kekeringan Ekstrem

Anggota Samapta Polres Bima Kabupaten saat droping air bersih kepada warga di Desa Sanolo Sabtu pagi lalu. (Suara NTB/ist_b.satrio) 

Mataram (Suara NTB) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Lombok Barat merilis informasi puncak kekeringan terjadi pada Agustus. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan Pemprov NTB, khususnya Pemda Kabupaten dan kota untuk waspada dampak kekeirngan ekstrim.

Prakirawan BMKG Restu Patria Megantara menyebut, tahun 2019 ini musim kemarau di NTB umumnya mulai merata ketika masuk April hingga awal Mei. ‘’Puncak musim kemarau di NTB diprakirakan pada periode Juli sampai Agustus,’’ Restu Patria Megantara, Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat, Selasa (25/6).

Dijelaskannya, dari monitoring dinamika atmosfer, ada  kondis disebut dengan ENSO (El Nino Southern Oscillation),  berada pada kondisi El Nino lemah dan diperkirakan masih akan bertahan hingga tiga bulan ke depan. Sementara angin timuran monsun Australia saat ini aktif, mengurangi potensi hujan di NTB.

Dijelaskan juga, ada hubungannya dengan udara dingin dirasakan akhir akhir  ini. Kondisi tersebut  merupakan salah satu tanda masuknya musim kemarau. Udara dingin disebabkan oleh aktifnya angin timuran yang membawa massa udara yang bersifat dingin dan kering ke wilayah NTB.

‘’Suhu permukaan laut sekitar NTB saat ini lebih dingin dibandingkan normalnya, kondisi ini mengurangi potensi hujan di NTB,’’ jelasnya.

Baca juga:  Tanaman Petani di NTB Terancam Puso

Dari kondisi dinamika atmosfer di atas, diperkirakan musim kemarau di NTB akan normal. Namun yang perlu diingatkannya, normalnya musim kemarau di NTB adalah kering, khususnya ketika memasuki puncak musim bulan Juli – Agustus.

‘’Perlu diperhatikan ketersediaan air khususnya di daerah-daerah yang rawan kekeringan,’’ ujarnya mengingatkan.

Sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memantau perkembangan kemarau tiap daerah. Setidaknya ada delapan provinsi yang diprediksi alami kekeringan ekstrem, termasuk NTB.

Berdasarkan Pusat Analisis Situasi Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Pastigana BNPB) memperkirakan terjadi hari tanpa hujan kategori ekstrem atau lebih dari 60 hari. Wilayah NTB termasuk yang diperkirakan terkena hari tanpa hujan kategori panjang.

 “Hari tanpa hujan kategori sangat panjang, diperkirakan terjadi di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Papua,” kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat BNPB Rita Rosita kepada Suara NTB via ponsel.

Menghadapi kemungkinan cuaca ekstrem tersebut, BNPB mengimbau pemerintah daerah, termasuk Pemprov NTB untuk mengantisipasi kemungkinan dampak kekeringan yang dialami masyarakat.

Dia mengimbau pemerintah daerah untuk mempersiapkan warganya dengan penyiapan sumber daya, pemantauan ketersediaan air bersih, serta pemenuhan standar minimum air untuk kebutuhan warga dan hewan ternak.

Baca juga:  Pemprov NTB akan Gerakkan Seluruh Sumber Daya Tangani Kekeringan

‘’Siapkan sarana prasarana seperti tangki untuk distribusi air. Kan ada kerjasama juga dengan Dinas Sosial dan PDAM untuk membantu mengatasi kekeringan khususnya dialami warga,” jelasnya.

Pastigana BNPB memperkirakan awal musim kemarau 2019 umumnya terjadi pada Mei, Juni, dan Juli dengan persentase sekitar 83 persen. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi Agustus 2019 dengan persentase 53 persen.

Sementara ditingkat daerah, distribusi air terus berlangsung. Tidak hanya Dinas Sosial, PDAM, juga aparat kepolisian turun tangan membantu mengurangi dampak kekeringan dialami masyarakat. Sebagaimana dilakukan Polres Bima Kabupaten, sejak awal Juni lalu, tangki air bersih lalu Lalang dan blusukan ke kecamatan kecamatan yang mulai terdampak kekeringan.

Kapolres Bima Kabupaten, AKBP Bagus Satrio Wibowo menjelaskan, tim Samapta bersama Anggota Subsektor  di masing masing kecamatan secara bergiliran mendistribusikan air.

 “Kami ingin membantu masyarakat yang sekarang mulai terlihat kekurangan air bersih,” jelasnya.

Kegiatan lanjutan pada Sabtu (22/6) lalu,  pendistribusian air bersih bersama PDAM  Kota Bima  berlangsung di Dusun Muku, Desa Sanolo Kecamatan Bolo melibatkan anggota Ton 1 Dalmas Sat Samapta.

“Kami ingin mejaga sinergitas dengan masyarakat, termasuk dalam situasi saat kekurangan air bersih ini,” jelasnya. (ars)