Banyak Aduan, Masyarakat NTB Dinilai Semakin Peduli Soal Sampah

Madani Mukarom (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Masalah penanganan sampah menjadi salah satu persoalan yang banyak diadukan masyarakat lewat aplikasi NTB Care. Menurut Pemprov NTB, banyaknya aduan mengenai persoalan sampah menandakan masyarakat semakin ‘’demam’’ mengenai program NTB Zero Waste yang di-launching Pemprov NTB akhir Desember 2018 lalu.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB, Ir. Madani Mukarom, M. Si mengatakan masyarakat NTB semakin peduli dengan persoalan sampah. ‘’Dulu nggak pernah dilihatin. Karena gaungnya program NTB Zero Waste,  makanya sekarang agak ribut. Sekarang sudah ada kepedulian, banyak yang  melirik program ini sampai pelosok-pelosok,” kata Madani dikonfirmasi Suara NTB, Jumat, 14 Juni 2019.

Dengan adanya program NTB Zero Waste yang dicanangkan Pemprov di bawah kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M. Sc – Dr. Ir. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M. Pd, persoalan sampah menjadi perhatian masyarakat. Banyaknya aduan mengenai penanganan sampah, menurut Madani merupakan suatu hal yang baik.

Dengan adanya masukan dari masyarakat, Pemda dapat masukan untuk perbaikan penanganan masalah sampah ke depannya. ‘’Semua harus membuka diri, sehingga keluar hal yang baik,’’ katanya.

Madani menjelaskan, sesuai roadmap NTB Zero Waste, ditargetkan sistem sudah mulai jalan. Artinya semua pihak termasuk kabupaten/kota menyadari betapa pentingnya menangani masalah sampah. Selain terus membangun kesadaran dan mengubah mindset masyarakat tentang sampah, Madani mengatakan Pemprov terus bergerak melakukan kampanye dan sosialisasi ke SMA/SMK yang ada di NTB.

Baca juga:  Investor Malaysia Tertarik Kelola Sampah NTB

Kemudian melakukan penguatan kelembagaan bank sampah yang ada di masing-masing desa di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Pascadi-launching program NTB Zero Waste, kata Madani memang pengurangan sampah masih sedikit.

‘’Penguatan kelembagaan bank sampah yang sedang dilakukan. Pengurangan pembuangan sampah sembarangan sedikit-sedikit sudah mulai di Lombok,’’ katanya.

Terkait penyiapan infrastruktur persampahan, Madani menjelaskan ada pembagian kewenangan antara provinsi dan kabupaten/kota. Untuk penyiapan bak sampah di lokasi-lokasi tertentu seperti bantaran sungai, tempat umum menjadi tanggungjawab kabupaten/kota. ‘’Tidak bisa provinsi semua. Tapi kabupaten/kota menyiapkan infrastrukturnya,’’ terangnya.

Madani menambahkan, untuk mewujudkan NTB Zero Waste tidak bisa dalam waktu singkat. Ia mencontohkan seperti Qatar yang menggelontorkan dana penanganan sampah triliunan, persoalan sampah dapat tertangani selama 10 tahun.

“Kita baru lima bulan berjalan ini. Di  Qatar sudah berjalan 10 tahun dengan dana triliunan. Kita dengan modal cuap-cuap saja sudah mulai ramai dimana-mana sekarang,” katanya.

Data Dinas LHK NTB, sekitar 80 persen sampah masih dibuang sembarangan di NTB. Sampah yang dibuang sembarangan jumlahnya  2.695,63 ton  tiap hari di seluruh NTB.

Baca juga:  Kemenko Maritim Soroti Persoalan Sampah

Dari 2.695,63 ton sampah yang dibuang sembarangan terdapat di Lombok Barat 409 ton,  Lombok Utara sebesar 128,15 ton, Lombok Tengah 627,67 ton, Lombok Timur 786,26 ton, Sumbawa 189,64 ton, Dompu dan Bima masing-masing 124,67 ton dan 286,38 ton. Kemudian  Kota Mataram hanya 15,59 ton, Sumbawa Barat 60,44 ton dan Kota Bima 67,83 ton.

Produksi sampah masing-masing kabupaten/kota setiap hari di NTB cukup tinggi. Kota Mataram produksi sampahnya sebesar 314,3 ton, Lombok Barat 469,56 ton, Lombok Utara 149,15 ton. Kemudian Lombok Tengah 645,73 ton, Lombok Timur 801,74 ton, Sumbawa Barat 92,39 ton, Sumbawa 311,85 ton, Dompu 164,27 ton, Bima 325,94 ton dan Kota Bima 113,83 ton.

Dari produksi sampah sebesar itu, sampah yang diangkut ke TPA di Kota Mataram sebanyak 283 ton tiap hari. Kemudian Lombok Barat 60 ton, Lombok Utara 21 ton, Lombok Tengah 12,25 ton, Lombok Timur 15,4 ton, Sumbawa Barat 28,7 ton, Sumbawa 115,97 ton, Dompu 39,6 ton, Bima 20 ton dan Kota Bima 46 ton. (nas)