Lombok Timur dan Inspirasi dari Dasan Lekong

H. M. Sukiman Azmy (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Sampah masih menjadi persoalan serius di Kabupaten Lombok Timur (Lotim). Apalagi, ketika musim hujan, dengan kondisi geografis yang terdiri dari dataran tinggi dan dataran rendah. Daerah di dataran rendah sering mendapatkan sampah kiriman dari daerah dataran tinggi.

Bupati Lombok Timur, Drs. H. M. Sukiman Azmy, MM dalam Diskusi Terbatas Harian Suara NTB bertema “Kerja Bersama untuk NTB Zero Waste” yang digelar di Ruang Redaksi Harian Suara NTB, Sabtu, 23 Maret 2019 mengatakan, daerah dataran rendah di Lotim ketika musim penghujan mendapatkan kiriman sampah yang tak terkira jumlahnya dari daerah dataran tinggi seperti Kecamatan Montong Gading dan Kecamatan Sikur.

Persoalan sampah kiriman ke daerah dataran rendah seperti Pancor, Selong sampai Labuhan Haji menjadi problem setiap musim penghujan. Setelah hujan, tugas Dinas Kebersihan Lotim bukan saja membersihkan sampah. Tetapi juga membersihkan gorong-gorong yang tersumbat akibat sampah. ‘’Jadi problematika utama kita adalah bagaimana menyadarkan masyarakat agar membuang sampah pada tempatnya,’’ kata Bupati Lotim.

Sukiman mengatakan, dulu ada kearifan lokal di masyarakat. Setiap KK biasanya membuat lubang atau lelongkaq sebagai tempat membuang sampah di tiap-tiap rumah. Setelah lubang tersebut penuh maka ditimbun, kemudian dibuat lagi lubang berikutnya. Sekarang, kearifan lokal tersebut nyaris tidak ditemukan lagi di masyarakat.

Baca juga:  Investasi Padat Karya, Percepat Penurunan Kemiskinan

Menurutnya, kearifan lokal itu hilang akibat adanya kantong plastik yang mudah didapatkan setiap saat dan di mana saja dengan harga yang murah. Sukiman mengatakan, Pemkab Lotim berupaya mengedukasi masyarakat agar jangan membuang sampah sembarangan. Menumbuhkan kesadaran masyarakat agar membuang sampah pada tempatnya. Sehingga sampah yang ada dapat didaur ulang.

Hal yang menjadi perhatian Pemda, kata Sukiman, pertama mengubah paradigma masyarakat. Jangan membuang sampah sembarangan, tetapi juallah sampah pada tempatnya. Menurut Sukiman, sampah bukan diperangi tetapi disayangi. Dengan kata lain, manusia harus berdamai dengan sampah. Sebab, sampah terbukti memiliki nilai ekonomis yang sangat besar.

Kedua, Pemkab Lotim mewajibkan seluruh desa untuk mengalokasikan Dana Desa/Alokasi Dana Desa (DD/ADD) dalam APBDes untuk program penanggulangan sampah. Pada tahun 2019, kata bupati, ada desa yang mengalokasikan program penanggulangan sampah dalam APBDes-nya sebesar Rp350 juta. Ada juga desa yang mengalokasikan sebesar Rp50 juta. Paling rendah ada yang mengalokasikan sebesar Rp35 juta.

Semua desa/kelurahan di Lotim yang berjumlah 254 mengalokasikan dana untuk program penanggulangan sampah pada 2019 ini. ‘’Dengan demikian kita sudah bisa membayangkan mudah-mudahan akhir 2019 ini sudah ada dampak positif dari kebijakan itu,’’ harapnya. Membuang sampah pada tempatnya tak bisa dipisahkan dari budaya masyarakat. Untuk itu, selain melakukan edukasi kepada masyarakat, juga dibuat regulasi atau peraturan daerah (Perda) dan Peraturan Desa (Perdes). Sukiman mengatakan, Lotim sudah memiliki Perda tentang Pengelolaan Sampah. Bahkan, sebanyak 35 desa telah membuat Perdes tentang Pengelolaan Sampah. Ditargetkan sampai akhir 2019, seluruh desa di Lotim sudah membuat Perdes tentang pengelolaan sampah.

Baca juga:  Perlu Strategi Investasi yang Menyentuh Masyarakat

Pemkab Lotim menjanjikan kepada 25 Kepala Desa (Kades) yang berhasil dalam pengelolaan sampah di desanya dengan baik akan diberangkatkan umroh. Sukiman mengatakan, sudah ada satu desa yang berhasil dalam pengelolaan sampah di Lotim, yakni Desa Dasan Lekong. Bahkan, dirinya bersama Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah sudah mendeklarasikan Desa Dasan Lekong sebagai desa percontohan bagi desa-desa lain dalam hal pengelolaan sampah.

Diharapkan, dari Dasan Lekong akan menular semangat untuk penanggulangan sampah ke ratusan desa lainnya di Lotim. Beberapa waktu lalu, semua Kades dikumpulkan di Desa Dasan Lekong untuk diberikan pemahaman tentang pengelolaan sampah. Sehingga mereka punya wawasan bagaimana pengelolaan sampah dengan baik. ‘’Dan apa yang dihasilkan oleh Desa Dasan Lekong dan lima desa yang lain dijual sampahnya kepada bank sampah yang ada. Dan kami berharap penularan bisa terlaksana. Sehingga pada akhir 2019 ini ada dampaknya,’’ kata Sukiman. (tim)