Proyek PLTGU Dikhawatirkan Munculkan Abrasi

Mataram (Suara NTB) – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi NTB menyarankan PT. PLN benar-benar memperhatikan keberadaan masyarakat pesisir lingkar Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) yang saat ini sedang dibangun di Bagek Kembar, Ampenan.

DKP Provinsi NTB sangat mengkhawatirkan bila perencanaan pembangunan infrastruktur pendukung PLTGU berkapasitas 150 Megawatt (MW) tak memperhatikan lingkungan, dampaknya terhadap abrasi pantai akan sangat hebat.

“Yang kita khawatrikan, salah perencananaan dalam membangun dermaga kapalnya akan membuat abrasi pantai yang dapat merugikan masyarakat di sekitar pembangunan akan luar biasa,” kata Kepala Bidang P4K DKP Provinsi NTB, Ir. Beny Iskandar dihubungi di Mataram, Selasa, 17 Januari 2017.

Baca juga:  5000 KK di NTB Belum Tersentuh Listrik

PLN sedang membangun PLTGU berkapasitas 150 MW di Bagek Kembar, Ampenan. Saat ini sedang progres pembangunan fisik pembangkit. Rencananya paling telat 2018 PLTGU tersebut akan beroperasi.

Beny mengatakan, terhadap proyek tersebut, PLN telah melakukan komunikasi dengan DKP Provinsi NTB terkait penambahan pembangunan infrastruktur pendukung PLTGU, misalnya dermaga kapal pemasok gas, dan pembangunan pipa gas dari kapal ke pembangkit.

Baca juga:  Pemprov Bentuk Tim Khusus Tanggulangi Kerusakan Akibat Bencana

“Pihak PLN sudah melakukan koordinasi koordinat pembangunan dermaganya dan pipa gas dari kapal ke mesin pembangkit. Berdasarkan peta di RZWP3K (Rencana Zonasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil) sudah sesuai, karena itu perairan umum. Tapi saran kami pembangunan dermaga dapat memperhatikan nelayan sekitar,” jelasnya.

PLTGU tersebut berada di tepi pantai di Bagek Kembar, tak berdekatan langsung dengan muara sungai kali Ancar. Ia berkaca dari pembangunan PLTU Jeranjang di Kebon Ayu, Lombok Barat. Pembangunan PLTU Jeranjang persis di dekat muara Sungai Dodokan Moyosari. Pembangunan dermaga di sana menyebabkan abrasi yang sangat hebat 50 meter. Sangat berpengaruh terhadap keberadaan nelayan dan masyarakat pesisir sekitar.

Baca juga:  Tiga Jembatan Putus di Bima, Kerugian Ditaksir Rp7,5 Miliar

“Kita berharap dalam pembangunannya dermaga diperkirakan potensi dampak sekitar, jangan seperti di Jeranjang. Di sana parah abrasinya sampai 50 meter,” demikian Beny. (bul)