Warga Lendang Lekong Protes Tumpukan Sampah

Mataram (Suara NTB) – Warga Lingkungan Lendang Lekong, Kelurahan Mandalika memprotes tumpukan sampah di pinggir jalan dekat Pasar Selak. Mereka sangat terganggu dengan tumpukan sampah yang hanya diangkut satu kali sepekan itu. Apalagi saat musim angin seperti belakangan ini, bau busuk sampah terbawa sampai di rumah mereka. Termasuk juga lalat dari tumpukan sampah ikut terbang ke rumah mereka dan dikhawatirkan dapat memicu penyakit.

Hal ini disampaikan salah seorang warga, Muhadis, kepada Suara NTB, Jumat, 4 Agustus 2017. “Kita bisa terganggu di sini karena kalau arah anginnya ke barat baunya enggak sedap, menimbulkan virus banyak, lalat-lalat bertebaran kesana kemari,” keluhnya. “Apalagi sekarang musim angin, musim hujan. Ini yang bahaya, baru kita mau makan saja sudah numpuk lalatnya, bagaimana bisa makan,” sambungnya.

Muhadis mengatakan sampah tersebut diangkut hanya satu kali dalam sepekan. Namun sampah akan terus menumpuk karena setelah diangkut akan kembali datang orang membuang sampah di tempat tersebut. Ia berharap Pemkot Mataram memperhatikan keluhan warga ini dan segera memindahkan TPS tersebut ke tempat lain yang jauh dari rumah warga.

Baca juga:  Mulai Membusuk, Tumpukan Sampah Sejumlah TPS di Kota Mataram Dikeluhkan Warga

Ia pun menyarankan agar lahan yang dijadikan TPS itu dibangun lapak untuk pedagang sehingga tak ada lagi yang berani membuang sampah di sana. “Kalau

harapan saya mudah-mudahan bisa dibikin lapak ke sini ini. Biar bisa buang sampahnya di tempat lain,” harapnya. Beberapa waktu lalu TPS tersebut sempat dijaga Satgas Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup (LH), namun hanya sementara.

Muhadis mengatakan warga pernah berdemonstrasi menuntut penutupan TPS tersebut. Namun hingga kini belum bisa ditangani. Ia pun khawatir jika TPS tak segera ditutup maka dapat menimbulkan konflik sosial antar warga. “Yang buang sampah warga mana barangkali, yang dapat baunya orang sini. Marah jadinya warga sini,” jelasnya. “Kalau bisa secepatnya ditangani biar tidak begini terus,” tambahnya.

Baca juga:  Pemprov Kekurangan Armada Padamkan Kebakaran TPA Kebon Kongok

Protes yang sama juga disampaikan warga lainnya, Muazzim. “Sampah ini mengganggu masyarakat. Kita mau jalan kesana kesini harus pakai masker, bau sekali. Bagaimana caranya itu biar bisa dibersihkan setiap hari,” keluhnya.

Selain khawatir dapat menimbulkan penyakit, sampah itu juga menyebabkan macet di sekitar jalan tersebut. Bahkan tak sedikit pengendara yang jatuh karena tumpukan sampah. “Kalau bisa secepatnya dituntaskan. Bila perlu bikinkan tempat di mana, biar enggak di sini lagi,” ujarnya.

Muazzim mengaku heran kenapa Kota Mataram bisa mendapatkan Adipura sementara sampah di sekitar lingkungannya masih terus menumpuk dan tak terangkut. “Mungkin hanya sekadar simbol saja. Tapi yang di sini enggak diperhatikan,” tandasnya. (ynt)