Rendahnya Kesadaran Warga Berkontribusi Lahirkan Persoalan Sampah

Mataram (Suara NTB) – Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kota Mataram telah memberlakukan jam pembuangan sampah dalam rangka mencegah tumpukan-tumpukan sampah di berbagai titik. Namun hingga kini, masih ditemukan warga yang membuang sampah di luar jam yang telah ditetapkan yaitu pukul 18.00-06.00.

Pantauan Suara NTB di TPS dekat jembatan Ampenan, Jumat, 3 Maret 2017 siang sekitar pukul 11.30, beberapa warga tampak dengan santai tetap membuang sampahnya ke dalam kontainer yang telah penuh terisi sampah. Padahal telah dipasang spanduk di sekitar TPS terkait jadwal pembuangan sampah ini.

Salah seorang pemulung yang tiap hari berada di TPS itu, Misnah menuturkan kendati telah siang hari, tetap saja ada warga yang membuang sampahnya ke TPS itu. Memang beberapa waktu sebelumnya petugas dari Dinas LH Kota Mataram telah mengingatkan warga agar tidak membuang sampah di luar jadwal yang telah ditetapkan. “Dulu ada mandornya di sini. Dia juga sempat menyampaikan ndak boleh warga buang sampah siang sampai sore hari,” ujarnya.

Baca juga:  Pemkot Berencana Beli Mesin Penghancur Sampah

Masih rendahnya kesadaran warga untuk tertib membuang sampah ini diakui Kepala Dinas LH Kota Mataram, Irwan Rahadi. Ia pun meminta kepada warga agar taat dengan jam pembuangan sampah yang telah ditetapkan pemerintah.

“Hanya dua kita minta sama masyarakat. Satu; taati jam pembuangan sampah sesuai dengan Keputusan Walikota; kedua, wadahi sampah. Kenapa harus diwadahi? Itu untuk mempercepat kerjanya buruh angkut,” jelas Irwan.

Terkait pemberlakuan sanksi bagi warga yang membuang di luar jadwal, Irwan mengatakan belum akan diterapkan. Saat ini masih dalam tahapan sosialisasi dan pendekatan persuasif karena belum ada regulasi yang mengatur perihal sanksi.

Rencananya tahun ini warga akan diberikan karung untuk mewadahi sampahnya sehingga pembuangan menjadi lebih tertib. Saat ini Dinas LH mulai mensosialisasikan pentingnya mewadahi sampah sebelum dibuang ke TPS.

“Tugas kami di dinas itu membantu mensosialisasikan dulu. Nanti seiring dengan adanya Tossa (kendaraan roda tiga) di masing-masing lingkungan, kelurahan akan mendukung dengan pengadaan karung. Bisa dibayangkan kalau semua sampah masuk ke TPS dengan wadah begitu, enak sekali,” paparnya.

Baca juga:  Mulai 2020, Sampah Tak Terpilah akan Ditolak di TPA Kebong Kongok

Untuk mengatasi tumpukan sampah, khususnya yang masih kerap terjadi di TPS depan Pasar Pagesangan, Dinas LH mulai menerapkan TPS bergerak (mobile), khususnya pada malam hari. TPS bergerak ini ialah kendaraan angkut Dinas LH menunggu sampah dari petugas lingkungan untuk dinaikkan langsung ke atas truk pengangkut. Ke depan pola ini akan tetap dipertahankan setelah pengadaan kendaraan roda tiga untuk tiap lingkungan rampung dilaksanakan. “Kita menunggu sampah. Sampah langsung naik truk,” ujarnya.

Dengan penerapan TPS bergerak, pihaknya ingin mengurangi sampah yang masuk ke TPS sehingga dapat meminimalisir penumpukan sampah. Hal ini juga sebagai salah satu upaya alternatif dalam mengatasi keterbatasan armada pengangkut sampah. (ynt)