Sekolah Lapang Iklim Bakal Sasar Penyuluh Perikanan dan Nelayan NTB

Mataram (suarantb.com) – Setelah sebelumnya menggelar Sekolah Lapang Iklim Petani, tahun ini, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Lombok Barat akan melaksanakan kegiatan Sekolah Lapang Iklim (SLI) yang diperuntukkan khusus kepada nelayan.

“Tujuan SLI  khusus nelayan ini diharapkan nelayan kita memiliki wawasan yang luas terkait iklim dan cuaca,” kata Kepala BMKG Stasiun Lombok Barat, Wakodim, SP saat  ditemui usai menghadiri rapat koordinasi  Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) NTB, Selasa, 21 Februari 2017 di Mataram.

SLI nelayan yang pertama kali digelar di NTB ini, rencananya akan diagendakan pada Agustus dan Oktober tahun 2017.

Ke depannya, kegiatan SLI angkatan I ini akan diikuti oleh 30 PPL perikanan dari seluruh kabupaten/kota di NTB. Selanjutnya, PPL inilah yang kemudian melanjutkan pelatihan kepada para nelayan. Selain PPL, kegiatan SLI ini juga dihadiri oleh ketua kelompok nelayan.

Baca juga:  Suhu Terendah 16 Derajat, Sepuluh Daerah Alami Kekeringan Ekstrem di NTB

Diakui Wakodim, BMKG sebagai media pemberi informasi kepada masyarakat berupaya memberikan informasi yang akurat, terpercaya dan mudah dipahami masyarakat. Namun, ia mengakui tidak semua masyarakat awam dapat memahami dengan mudah informasi BMKG tersebut, khusunya pihak terdekat dengan BMKG yakni petani dan nelayan.

Sehingga, kegiatan ini menurutnya, menjadi pijakan penting bagi BMKG dalam memberikan pemahaman kepada nelayan terkait penggunaan  informasi yang dikeluarkan BMKG.

Jika sudah ada informasi terkait cuaca dan iklim yang ekstrim, menurut Wakodim para nelayan dapat mengantisipasi dan membuat manajemen  waktu yang tepat untuk melaut. Hal ini akan berdampak positif kepada produksi atau hasil laut yang didapat nelayan.

Baca juga:  BMKG Pasang Tiga ‘’Shelter’’ untuk Monitor Gempa

Ia menambahkan, dalam waktu dekat, BMKG juga akan menambah tingkat informasinya. Yaitu dengan menginformasikan besaran arus laut, sehingga nelayan dapat dengan mudah memahami wilayah yang arusnya sedang kuat. Begitu juga dengan wilayah yang plankton ikan atau alat pendeteksi ikannya sedang naik.

“Nantinya para nelayan ini bisa langsung menuju ke plankton ikan.  Seperti contohnya nelayan Jepang itu bukan mencari ikan tapi mengambil ikan langsung di plankton,” tandasnya. (hvy)