Usai Bau Nyale, Sampah Penuhi Pantai Seger

Praya (Suara NTB) – Pasca perayaan puncak tradisi Bau Nyale di Lombok Tengah, sampah di Pantai Seger terlihat berserakan. Kawasan pantai tersebut, dikonsentrasikan sebagai lokasi kegiatan puncak yang berlangsung tanggal 16 – 17 Februari lalu.

Fenomena serakan sampah itu, ditanggapi serius oleh sejumlah pegiat komunitas di wilayah setempat. Mereka menyarankan supaya penyelenggara kegiatan juga menyediakan sarana pengumpulan sampah. Kegiatan yang menyedot perhatian publik, utamanya wisatawan itu harus terbebas dari dampak negatif, umpamanya dampak kerusakan alam atau lingkungan.

“Setiap tahun memang selalu begitu. Selesai kegiatan puncak bau nyale, sampah wajib berserakan,” kata Damar, seorang pelaku pariwisata di Desa Kuta, Kabupaten Lombok Tengah, usai perayaan tersebut.

Masalah sampah merupakan perkara yang harus diatasi secara bersama. Analisis mereka atas penyebab terjadinya serakan sampah, mengarah pada kurangnya kesadaran pengunjung untuk tidak membuang sampah secara sembarangan.

Baca juga:  NTB Care Terima 13 Aduan, Keluhan PDAM, PLN dan Sampah Mendominasi.

Pengunjung yang suka membuang sampah sembarangan, kadang-kadang berasal dari kalangan penduduk dalam negeri. Wisatawan asing dinilai pantang membuang sampah sembarangan.

“Kalau wisatawan, saya yakin mereka patuh terhadap aturan. Mereka cenderung taat dan tidak mengotori lingkungan dengan sampah,” katanya.

Lagi-lagi, soal kesadaran yang belum terbangun diyakini menjadi faktor utama yang menyebabkan terjadinya serakan sampah. Kesadaran masyarakat tidak terbangun lantaran lemahnya pemahaman akan bahaya sampah terhadap lingkungan.

“Kita yang dari kalangan komunitas kadang-kadang menjadi ‘korban’ karena kita sering mengadakan kegiatan bersih pantai,” kata Risman menimpali.

Baca juga:  Banyak Aduan, Masyarakat NTB Dinilai Semakin Peduli Soal Sampah

Atas fenomena itu, mereka berinisiatif mendesak pemerintah agar membentuk perangkat berbentuk petugas kebersihan. Petugas kebersihan tidak melulu harus bekerja mengangkat sampah. Salah satu tugas pokok yang perlu dikerjakan yakni, mengingatkan para pengunjung agar tidak membuang sampah.

“Kita usulkan saja, pemerintah membentuk peraturan. Dimana, pengunjung yang membuang sampah dikenakan denda,” bebernya.

Pemberlakukan denda tersebut, tidak harus diorientasikan pada hal yang bersifat provit. Peraturan dan denda perlu ditegakkan, guna mencegah pengunjung membuang sampah secara semena-mena.

Kelestarian objek wisata ada di genggaman penduduk lokal.  Kebersihan di wilayah setempat tidak mampu dipelihara adalah ancaman besar bagi bisnis pariwisata. Kebersihan dan keamanan merupakan aset yang cukup berharga dalam dunia pariwisata. (met)