Ada 520 Ribu Hektar Lahan Kritis di NTB

Praya (Suara NTB) – Luas lahan kritis di NTB tercatat terus bertambah. Data hingga tahun 2016 lalu saja, luas lahan kritis sudah mencapai sekitar 520 ribu hektar. Di mana separuh di antaranya masuk kawasan hutan.

Demikian diungkapkan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan NTB, Madani Mukarom, Jumat, 20 Januari 2017.

“Luas lahan kritis tersebut setara dengan 25 persen luas NTB,” terangnya saat ditemui usai penghijauan di kawasan hutan Desa Aik Berik Kecamatan Batukliang Kabupaten Lombok Tengah (Loteng).

Madani mengatakan, dengan kondisi lahan kritis bisa dikatakan kalau NTB sudah cukup memprihatinkan, sehingga upaya pencegahan dan antisipasi serta penanganan lahan-lahan kritis mendesak untuk dilakukan. Hanya saja, katanya, jika kemudian hanya mengandalkan pemerintahan tentunya tidak akan bisa maksimal.

Baca juga:  Warga Masih Duduki Hutan Lindung TNGR

Dibutuhkan kerjasama para pihak terkait dan seluruh elemen masyarakat di daerah untuk bisa menangani lahan-lahan kritis supaya lahan-lahan kritis bisa kembali berproduksi.

“Kemampuan pemerintah dalam

menangani lahan kritis terbatas. Jadi butuh dukungan dan kerjasama masyarakat luas,” tambahnya. Tanpa dukungan masyarakat, bagaimanapun keras upaya yang dilakukan pemerintah tidak akan maksimal hasilnya.

Kian bertambahnya luasan lahan kritis di NTB, termasuk di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) disebabkan banyak faktor. Salah satunya, maraknya aktivitas peladangan yang tanpa memperhatikan keseimbangan alam. Selain itu masih tingginya kasus perambahan hutan dan pembukaan ladang tanpa konsep, juga ikut memberi andil, sehingga banyak lahan kawasan hutan menjadi lahan kritis.

Baca juga:  Kabupaten/kota Jangan Lepas Tangan Soal Pembalakan Liar

Pemerintah, setiap tahun tetap memprogramkan rehabilitasi lahan kritis yang ada. Bahkan, program rehabilitasi lahan kritis merupakan salah satu program prioritas. “Tapi kembali lagi, itu tidak akan berhasil kalau kemudian masyarakat tidak mendukung,”  tambahnya.

Paling tidak masyarakat ikut peduli dengan kondisi lingkungan sekitarnya dengan tidak menebang pohon secara sembarangan. Lebih bagus lagi kalau kemudian masyarakat ikut menghijaukan kembali lahan-lahan kritis yang ada di sekitarnya. (kir)