Lembah Madani, Upaya Jangka Panjang Atasi Kekeringan di NTB

Mataram (suarantb.com) – Kekeringan di NTB yang sedang mencapai puncaknya kini telah banyak menyedot perhatian banyak pihak termasuk Kepala Pelestarian Lembah Madani, TGH.Hasanain Juaini,Lc. Lembah Madani mempunyai luas hutan sekitar 500.000 hektar dan hampir jarang terjadi perusakan hutan seperti penebangan pohon, dan sebagainya.

Hal tersebut merupakan upaya pelestarian hutan jangka panjang untuk mengatasi kekeringan di NTB. Topik mengenai pelestarian hutan dan tata kelola hutan yang baik itu, dibahas dalam diskusi bersama Ketua Lembah Madani TGH. Hasanain. Turut hadir mantan Wakil Gubernur NTB, Ir. H. Badrul Munir dan para tokoh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Baca juga:  Wujudkan NTB Hijau dan Asri, Kelompok Pemuda Tanam 1.000 Pohon di Pusuk

“Kami mengajak turut serta dalam pengelolaan Lembah Madani, sebagai camp pelajar untuk meneliti dan reboisasi hutan, dengan target selama15 tahun,” ujar Hasanain dalam diskusi tersebut, Sabtu, 10 September 2016.

Dari 500.000 hektar luas Lembah Madani seluas 360.000 hektar adalah milik warga. Dalam diskusi tersebut salah satunya juga membahas bagaimana mengajak warga sebagai penanam saham dalam program camp pelajar reboisasi hutan, untuk bekerja sama. Program ini katanya akan dibiayai langsung oleh UNDP.

Namun kata pimpinan Ponpes Nurul Haramain Narmada Lombok Barat ini, untuk sementara hanya 5000 hektar saja yang akan dijadikan percontohan. Bukan hanya hutan di Lombok Barat, tapi juga di seluruh kabupaten yang ada di NTB.

Baca juga:  Wujudkan NTB Hijau dan Asri, Kelompok Pemuda Tanam 1.000 Pohon di Pusuk

Ia menjelaskan, camp pelajar selain bertujuan untuk mengelola hutan secara baik, juga untuk meningkatkan fungsi hutan. Seperti budidaya madu, kerajinan, wisata, edukasi, budidaya tanaman hias dan lain sebagainya.

“Kita akan menempa para pelajar untuk mempelajari lingkungan pada malam harinya, dan siangnya akan menanami hutan,” ungkapnya.

Sementara mantan Wakil Gubernur NTB, Ir. H. Badrul Munir, MM mengatakan, program tersebut tidak akan sukses jika dalam kelembagaan pengelola tidak kuat. Dalam artian maraknya pembalakan liar tak bisa dibendung. Menurutnya pembalakan liar juga bisa terjadi karena ulah oknum aparat.

Baca juga:  Wujudkan NTB Hijau dan Asri, Kelompok Pemuda Tanam 1.000 Pohon di Pusuk

“Masyarakat sudah bagus, namun kelembagaan rapuh. Kita lemah dalam tata kelola, jika kita sudah keluar dari masalah ini pembangunan kelembagaan, selesai sudah ini,” tambahnya.

Menurutnya hutan sebagai fungsi ekonomi, sosial, dan ekologi seharusnya dikelola dengan kelembagaan yang kokoh, agar bisa menghadapi intervensi dari luar. Karena penebangan pohon tidak serta merta dilakukan oleh warga sekitar hutan namun juga oleh aparat. (ism)