Persoalan Limbah Mulai Resahkan Masyarakat Sekotong

Giri Menang (Suara NTB) – Pemda Lombok Barat (Lobar) diminta serius mengatasi persoalan limbah tambang di daerah Sekotong. Pasalnya, sejauh ini limbah tambang diduga mulai mencemari kawasan di Sekotong, seperti pencemaran di lokasi pembuatan garam rakyat di Cendi Manik dan adanya ternak mati diduga meminum air bekas sisa bahan tambang di daerah Pelangan.

Untuk mengelola limbah ini, Pemda perlu mengandeng pihak ketiga agar penanganannya serius. Sebab jika mengandalkan pemda, sejauh ini kurang maksimal. Hal ini ditegaskan Pemuda Lobar, Abdul Majid ditemui Senin, 3 Oktober 2016 di Sekotong. “Masyarakat mulai resah dengan kondisi pencemaran lingkungan akibat limbah tambang ini, karena itu pemda harus serius menangani ini. Pemda perlu mengandeng pihak ketiga mengelola limbah ini,” jelas Majid.

Baca juga:  Pemkot Kesulitan Atasi Limbah Lumpur Tinja

Menurutnya, beberapa kejadian menjadi bukti pencemaran limbah tambang di Sekotong di antaranya temuan pencemaran garam rakyat di Cendi Manik. Hal ini diketahui setelah garam di wilayah itu diperiksa oleh pihak terkait ternyata ditemukan bahan berbahaya seperti raksa. Kejadian kematian ternak di daerah Pelangan, diduga meminum air yang bercampur air limbah tambang. Kondisi ini jelasnya, tak boleh dibiarkan pemda karena sangat membahayakan masyarakat. ‘’Untung yang mengkonsumsi ternak,’’ ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Lobar, Ir. Budi Dharmajaya menyampaikan terkait peredaran bahan kimia, seperti mercuri, termasuk limbah B3 yang dilarang beredar di daerah Sekotong.

Baca juga:  Pemkot Kesulitan Atasi Limbah Lumpur Tinja

Pemda Lobar sendiri telah lama membuat SE tidak memperbolehkan peredaran mercuri di daerah setempat. “Kalau ada yang memperjualbelikan, berarti itu ilegal,” tegas Budi. Dijelaskan, terkait izin pejualan bahan kimia itu tidak ada kewenangan di daerah, namun ada dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Terkait pengawasan peredaran bahan kimia ini sendiri, pihaknya bersama-sama dengan BLH dan aparat.

Terpisah, Kepala Pusat Puskesmas Sekotong, I Nyoman Adnyana Putra menyampaikan pihaknya terus memberikan sosialisasi terkait penggunaan bahaya bahan kimia. Ia mengakui, dari hasil penelitian kerjasama dengan sebuah lembaga, ada indikasi bahan kimia yang dipergunakan sudah mencemari lingkungan, termasuk warga. “Itu masih dirahasiakan identitasnya,” jawabnya pendek. (her)