Konferensi Nasional PRBBK XIII (2)

Rekomendasi Disusun Demi Maksimalkan Peran Komunitas

Mataram (Suara NTB) – Penanganan dan pengurangan risiko bencana berbasis komunitas masih jadi tema utama Konferensi Nasional Penanggulangan Risiko Bencana Berbasis Komunitas (PRBBK) ke – XIII di hari kedua, Rabu, 13 September 2017 di Mataram.

Peserta  yang sebelumnya turun melakukan tinjauan lapangan ke komunitas  yang dibina, ditugaskan menyusun setiap temuan lapangan dan disusun jadi bahan rekomendasi.

Dalam kunjungan lapangan 90 peserta konferensi dari berbagai daerah ini, terbagi ke empat komunitas. Di Kabupaten Lombok Utara terbanyak jadi sasaran kunjungan, yakni di ekowisata Dusun Kerujuk, Kecamatan Pemenang Barat.

Desa Bentek, Kecamatan Gangga dan Desa Jenggala, Kecamatan Tanjung. Sementara di Mataram hanya satu lokasi, yakni komunitas di Lingkungan Bintaro, Kelurahan Ampenan Utara. Hasil rekomendasi dari kunjungan lapangan itu akan jadi bahan deklarasi seputar pengurangan risiko bencana.

“Malam ini kami mengumpulkan bahan untuk rancang isi deklarasinya. Hari ini agendanya masih diskusi. Nanti malam  baru hasilnya dirangkum,” kata Sekjen Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia, Catur Sudiro kepada Suara NTB.

Diskusi pagi hingga siang kemarin dibahas per topik. Membicarakan hasil kunjungan ke empat komunitas tersebut. Masing-masing kelompok membahas segala temuan di lapangan, terkait kendala apa saja soal penanganan bencana berbasis komunitas, masalah dan rekomendasi yang bisa diberikan.

Setelah itu, akan ada diskusi panel, mengulas apa saja bahan yang sudah disimpulkan peserta dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar setelah kunjungan lapangan itu. Baik itu dari aspek perlindungan masyarakat, pendanaan pendamping komunitas.

Catur menambahkan, dibahas juga soal penanganan risiko bencana melibatkan anak anak sebagai subjek dan penyandang disabilitas. Kelompok yang hampir dianaktirikan soal perannya dalam  penanggulangan bencana.

Agenda pembahasan rekomendasi dan isi deklarasi dipastikan akan dirumuskan malam hari. Tapi Catur memberi sedikit gambaran, isinya seputar penekanan kepada pemerintah terkait bagaimana memelihara Sumber Daya Alam (SDA) yang ramah, sumber daya finansial, kebijakan yang pro kepada masyarakat. Tiga hal utama yang akan tertuang dalam rekomendasi.

Selain itu akan mendorong dunia usaha yang selama ini minim partisipasinya dalam penanggulangan risiko bencana.

Tujuan akhir mendatangi komunitas yang sudah didampingi oleh lembaga-lembaga mitar BPBD itu, agar pendamping bisa memikirkan strategi kemandirian. Artinya setelah diberikan advis selama beberapa tahun, komunitas harus mampu mandiri memberi jaminan kepada masyarakat dalam penanggulangan bencana dan pengurangan risiko bencana.

‘’Jangan buat ketergantungan masyarakat kepada kita. Setelah itu pelan- pelan ditinggalkan sehingga mandiri dan tidak tergantung pihak lain. Ini strategis besarnya,” pungkas dia.

Peserta konferensi, Nanang Suryanto dari Federasi Tim Siaga Bencana Kota Bima menjelaskan,  dia bersama timnya mendatangi komunitas siaga bencana di Bintaro, Ampenan. Komunitas ini didamapingi lembaga Islamic Relief.

Dua bencana paling rawan di sana, rob dan angin kencang.  Rob yang jadi langganan 5000 kepala keluarga di sana, 3000 kepala keluarga selalu terendam.  Temuannya, pendamping memberikan bimbingan teknik evakuasi dan pertolongan pertama,  juga bantuan rubber boat.

Namun persoalan  yang jadi temuan, komunitas belum bisa mandiri. Setelah dua tahun pendampingan, anggota komunitas terpaksa memakai dana dari kantong sendiri, sehingga programnya tak maksimal.

Rama Aditya Rahim selaku pendamping komunitas dari Muslim Id, mengaku mendapat bagian untuk pengurangan risiko bencana dengan adaptasi perubahan iklim. ‘’Programnya, penanggulangan bencana yang diakibatkan perubahan iklim. Seperti kekeringan, banjir, penebangan hutan,’’ jelasnya.

Hasil itu terlihat pada Ekowisata Dusun Kerujuk. Ekowisata yang memang sudah ada, semakin diperkuat pihaknya dengan memaksimalkan menjaga dan merawat kelestarian hutan sekitar desa. Mereka bekerjasama dengan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dan kelompok wanita tani.

Capaian yang nyata dilihatnya, sudah ada kesadaran masyarakat Dusun Kerujuk, umumnya Desa Pemenang Barat untuk partisipasi dalam pengurangan risiko bencana. Ini tidak lepas dari sosialiasi yang sudah dilakukan terkait tema pengurangan risiko tadi dan perubahan iklim. (ars/*)