Penyuluh Pertanian di KLU Terkesan Dianaktirikan

Tanjung (Suara NTB) – Keberadaan penyuluh pertanian sangat penting bagi proses pemberdayaan para kelompok tani (umum) di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Namun tidak jarang rotasi di sebuah daerah menyebabkan penyuluh keluar dari tupoksi fungsionalnya. Di KLU sendiri, geliat penyuluhan pertanian dipandang mati suri.

Dikonfirmasi Suara NTB, Jumat, 14 Juli 2017, Ketua Perhimpunan Penyuluh Pertanian KLU, I Made Radita, mengklaim keberadaan penyuluh masih terkesan dianaktirikan. Di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian KLU, penyuluh tidak didesain selayaknya mitra pemerintah.

“Penyuluh sepertinya dianaktirikan. Oleh Kadis tidak dibuatkan koordinator penyuluh, sehingga nyaris tidak berjalan secara mekanisme kelembagaan,” ungkap Radita.

Di KLU, jumlah pertanian berstatus PNS tercatat masih 11 orang. Radita mengklaim seluruhnya tergolong penyuluh senior. Jumlah ini menyusut setelah pemerintah mengatur Penyuluh Perikanan dan Penyuluh Kehutanan di tarik ke provinsi. Jumlah ini bertambah setelah menjadi 47 orang, setelah pemerintah merekrut 24 orang THL (tenaga harian lepas) menjadi CPNS dan sisanya Petugas Penyuluh Pertanian dan Kontrak (P3K).

Baca juga:  Warga Tolak Proyek Irigasi Tetes

Peran penyuluh pertanian jelas Radita, seolah tidak memiliki gereget pasca-OPD baru di KLU. Tupoksi yang dijalankan hanya bersifat perbantuan di bawah UPTD Dinas di Kecamatan. Padahal dalam peran, status penyuluh dipandang menjadi faktor utama yang menentukan tingkat keberhasilan kelompok pertanian di masyarakat.

“Penyuluh tidak diberikan tupoksi yang jelas. Ada tupoksinya tapi kawan-kawan

tidak digiring ke tupoksinya. Contoh, dalam mendukung WUB (wira usaha baru) itu penyuluh diminta padahal tupoksinya jauh sekali,” tandas mantan Kabid Penyuluh yang kini jadi staf di Dinas Penendalian Penduduk KB dan Pemdes KLU ini.

Terpisah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Penyuluh dan Pertanian Lombok Utara, Ir. Melta, membantah tudingan penyuluh di KLU mati suri. Melta justru berbalik menyindir bahwa yang mati suri adalah personalnya.

“Tidak mati suri, tapi dia (dimaksud Made Radita, red) yang mati suri. Orang sekarang saja penyuluh mendampingi petani di mana-mana,” kata Melta.

Baca juga:  Warga Tolak Proyek Irigasi Tetes

Di dinas yang dipimpinnya, Melta mengaku tengah memerankan penyuluh pada berbagai kegiatan, salah satunya membina kelompok melalui program bina kawasan. Misalnya kawasan sayur dan kawasan peternak. “Di Desa Sesait penyuluh sampai mendampingi kelompok hingga mampu mengakses pasar,” katanya.

Dari jumlah 47 orang penyuluh yang ada, Melta mengutarakan rencananya untuk mem-back up kegiatan kelompok di semua desa. Saat ini jumlah desa di KLU sebanyak 43 desa (termasuk 10 Desa Persiapan). Desa-desa itu akan dibantu dengan masing-masing 1 orang penyuluh.

Sisa 3 penyuluh lagi, akan ditempatkan di dinas sebagai penyuluh kabupaten yang akan mengkoordinir 43 penyuluh agar mampu menterjemahkan program daerah. “Kalau hubungannya dengan Perhiptani, itu organisasi mitra. Dimana orangnya, kita bermitra untuk mendukung Taruna tani ataupun Komite Penyuluhan,” tutup Melta. (ari)