Lombok Landscapers

Melawan Waktu, Menanti Momen

Dibalik foto – foto pemandangan alam yang menawan, selalu ada seorang fotografer yang rela melakukan pengorbanan. Fotografer dari Komunitas Lombok Landscapers selalu berpacu melawan waktu, menanti momen demi menghasilkan sebuah karya fotografi yang mempesona.

Sebuah karya fotografi laiknya pemandangan alam waktu pagi ketika matahari baru terbit (sunrise), lahir atas dasar suka cita sang fotografer dalam mengejar dan mengabadikan momen tersebut. Sulit dibayangkan betapa mereka rela menerabas hawa dingin saat subuh, demi memproduksi karya. Dengan kamera, masing – masing fotografer mengabadikan gambar dan berbagi keindahan.

Sebelum momen itu datang, biasanya para fotografer yang ingin mengabadikan keindahan sudah berada di tempat. Fotografer yang baik, tidak pernah melewatkan momen – momen terbaik yang selalu muncul setiap hari. Di Pulau Lombok, terdapat ribuan titik yang bisa dijadikan sudut pemotretan momen – momen terbaik itu.

Ketua Komunitas Lombok Landscapers Imran Iswandi alias Imran Putra Sasak mengabadikan momen pagi yang indah di Pantai Sungkun, Kabupaten Lombok Timur.

“Karena Lombok adalah daerah pariwisata, jadi tempat ini selalu menjadi surga bagi para landscapers. Biasanya, sebelum momen itu datang, fotografer sudah bersiap – siap  di lokasi tertentu untuk melakukan pemotretan,” kata Imran Iswandi, Ketua Komunitas Lombok Landscapers, Jumat (4/11) pekan kemarin.

Fotografer yang lebih akrab disapa Imran ini mengatakan, upaya melahirkan karya fotografi landscape membutuhkan tenaga dan pengorbanan yang ekstra. Pasalnya, foto – foto landscape biasanya diambil dari dataran – dataran tinggi.

“Foto landscape itu kan sebuah panorama berupa pemandangan yang luas. Jadi untuk memotretnya, kita harus berada di lokasi ketinggian. Seperti dari puncak bukit, tebing atau kawasan pegunungan,” jelasnya.

Pemandangan alam di Pantai Ujung Melangit, Wilayah Lombok Barat yang menawan diabadikan oleh Nyoman Ady Sanjaya.

Lebih – lebih ketika sang landscapers ingin mengabadikan momen malam. Fotografer harus menyingkir dari pusat kota, menelusuri tempat – tempat terisolir. Sebisa mungkin, mencari lokasi yang minim cahaya.

“Misalnya kita ingin memotret foto langit yang dihiasi bintang – bintang. Itu tidak bisa dilakukan dari tengah kota. Kita harus keluar dan menghindari tempat – tempat yang banyak cahaya, ya ke gunung, bukit dan tempat yang minim cahaya,” imbuhnya.

Kiprah seorang fotografer dapat dilacak melalui karya – karya yang telah dihasilkan. Keterampilan mengabadikan keindahan alam, bertumbuh secara otodidak, tanpa paksaan. Pengalaman menjadi guru paling berjasa dalam perjalanan menumbuh kembangkan keterampilan.

“Teman – teman di Lombok Landscapers kebanyakan belajar tentang ilmu fotografi secara otodidak. Kita menyerap ilmu pengetahuan seputar profesi ini di lapangan,” bebernya.

Beberapa anggota  Komunitas Lombok Landscaper foto bersama ketika melakukan kegiatan “Hunting Bareng”

Profesi fotografi belakangan ini berkembang menjadi pekerjaan yang menggiurkan. Ada sensasi kepuasan tersendiri yang dirasakan fotografer, ketika karya yang dilahirkan benar – benar membanggakan. Lebih – lebih, saat karya yang dihasilkan – melewati proses panjang serta pengorbanan yang tinggi – meraih sebuah penghargaan.

“Rekan – rekan fotografer di Lombok sudah banyak meraih penghargaan. Banyak yang sudah meraih juara nasional. Jumlah anggota komunitas kita sudah mencapai angka 400 orang fotografer. Menjadi fotografer belakangan ini dipandang sebagai profesi yang menyenangkan,” ujarnya.

Hobi seputar dunia fotografi telah menjadi kesukaan banyak orang dari berbagai kalangan. Profesi ini seakan telah menjadi bagian dari gaya hidup separuh penduduk dunia. Aktivitas pengabadian gambar hampir tidak pernah terlewatkan dalam pergerakan hidup manusia modern.

Dalam Komunitas Lombok Landscapers tergabung fotografer yang berasal dari beragam latar belakang profesi. Mulai dari dokter, pegawai negeri, wirausahawan, petugas keamanan hingga aparat penegak hukum (polisi). Profesi fotografer kadang – kala dijadikan pengisi waktu senggang, ajang refreshing demi melepas penat dalam keseharian. Seperti halnya yang dilakukan dr. Yuyun Muhir, petugas medis di salah satu puskesmas di Kota Mataram.

Pesona di Pantai Tanaq Beaq, Kawasan Pantai Kuta, Kabupaten Lombok Tengah diabadikan dengan tekhnik mirror oleh Jhony.

“Saya motret buat ngisi waktu senggang, misalnya lepas piket bosen di rumah, ya keluar aja nyari – nyari lokasi pemandangan yang bagus,” katanya.

Fotografer yang satu ini sedikit berbeda dengan orang – orang yang memang menggantungkan hidupnya dari karya fotografi.  Banyak fotografer yang mengais rezeki dengan cara menjual hasil karya yang diproduksi. Keuntungannya dapat dikatakan sudah lebih dari sekadar kata cukup.

Baksos Sambil Motret
Saat perayaan ulang tahun yang ke-5, Komunitas Lombok Landscapers menggelar Bakti Sosial (Baksos) sambil melakukan pemotretan. Aksi baksos digelar di Pulau Maringkik, Kawasan Tanjung Luar, Kabupaten Lombok Timur. Para fotografer yang tergabung dalam komunitas ini, sepakat melakukan pemeriksaan kesehatan warga setempat.

Sebelumnya, perayaan hari pendirian komunitas tersebut telah dirangkai dengan agenda workshop fotografi landscape. Disamping itu, komunitas ini juga melakukan pemotretan dari puncak Bukit Pergasingan, Desa Sembalun, Kabupaten Lombok Timur.

“Komunitas ini berdiri tepatnya tanggal lima November. Makanya kita menyelenggarakan kemah bareng dan pemotretan di bukit pergasingan pada tanggal lima sampai enam November besok,” katanya ketika diwawancara Jumat lalu.

Selain termotivasi mencari penghargaan melalui karya yang dihasilkan,  para fotografer dalam komunitas yang satu ini selalu bersemangat mendedikasikan diri. Para fotorgrafer landscape tetap berkarya sebagai bentuk kontribusi terhadap upaya pengenalan daerah pariwisata.

“Di Lombok ini, masih banyak spot – spot wisata yang tersembunyi  dan sangat natural. Nah, informasi seputar  tempat – tempat itulah yang ingin kita sebarluaskan kepada masyarakat,”  jelasnya.

Momen – momen indah yang telah diabadikan dalam bentuk foto itu, disebar luaskan melali media sosial (medsos). Hal tersebut menjadi wujud dari upaya pengenalan daerah Lombok terhadap masyarakat di nusantara. Hasilnya, banyak wisatawan domestik yang mengetahui tentang keindahan Lombok dari foto – foto hasil kreatifitas para fotografer.

“Motivasi kita memang selalu mengarah agar apa yang kita hasilkan bisa mendatangkan manfaat atau dampak positif. Baik bagi kita sendiri maupun orang lain. Terutama masyarakat di daerah ini melalui kemajuan pariwisata,” tandasnya.