Mengenali Tradisi dari Panggung Kesenian

Himpunan Mahasiswa Seni Tari Universitas Nahdatul Ulama (Hima Sentanu), mengeksplorasi kesenian tradisional masyarakat di NTB. Itu dilaksanakan dalam rangka menggali dan mengenali nilai – nilai yang terkandung dalam setiap tradisi masyarakat. Kesenian dieksplorasi lalu diekspresikan menjadi bentuk baru dalam realitas kehidupan.

Komunitas mahasiswa pecinta seni di UNU NTB menampilkan kesenian Gendang Beleq di Kampus ISI Surakarta.

“Kesenian menjadi sarana bagi kita untuk mengenal tradisi. Kita perlu mengenal tradisi yang dimiliki masyarakat kita. Sebab, bagaimana kita mau mengenali tradisi orang lain, sementara tradisi kita sendiri saja tidak mampu kita kenali,” tutur Najamudin, mahasiswa yang tergabung dalam Himasentanu, Jumat, 16 Desember 2016.

Mahasiswa Universitas Nahdatul Ulama (UNU) NTB, yang dipercaya sebagai ketua panitia kemah kesenian ini mengatakan, tradisi yang berkembang di kalangan masyarakat mulai luntur akibat kegagalan setiap individu untuk mengenalinya. Nilai – nilai yang luhur, lepas begitu saja tanpa sempat dipahami dan diterapkan oleh generasi penerus dalam kehidupan sehari – hari. Mahasiswa UNU NTB melakukan kemah kesenian dalam rangka mematangkan proses dari berbagai laku kesenian. Kemah tersebut terselenggara sejak Sabtu, 17 Desember hingga Minggu, 18 Desember 2016.

Mahasiswa Hima Sentanu Mementaskan Tapi Putri Mandalika di Universitas Negeri Semarang.

“Kita kemah dalam rangka anniversary Hima Sentanu. Agendanya, akan diisi dengan kegiatan olah tubuh dan olah sukma. Ini akan menjadi sarana bagi para calon pelaku seni untuk mendekatkan diri kepada alam,” tuturnya.

Supaya lebih akrab, olah tubuh sengaja akan dilakukan pada kubangan – kubangan lumpur di wilayah sekitar. Interaksi yang dilakukan itu dilihat menjadi sebuah bentuk komunikasi antara manusia dengan alam.

“Selain mengenali tubuh, kita juga perlu mengenali alam. Kita harus berkomunikasi dan membangun chemistry dengan alam. Dengan melakukan oleh tubuh di alam bebas, mungkin kita bisa lebih mengenal dan semakin dekat dengan alam,” katanya.

Lailatul Art
Selain mengisi kegiatan diatas, komunitas mahasiswa di UNU NTB ini juga memiliki kegiatan yang diselenggarakan secara rutin. Beberapa kegiatan diantaranya lailatul art dan monolog day. Dua kegiatan tersebut diselenggarakan secara ajek.

Mahasiswa Hima Sentanu Mementaskan Tari Gandrung di ISI Surakarta.

“Lailatul Art itu adalah malam seni, kegiatan tersebut menjadi wadah apresiasi kesenian. Hima Sentanu menyelenggarakan lailatul art sekali dalam setahun. Karena itu menjadi program kerja tetap,” imbuh Najamudin.

Sementara itu, agenda Monolog Day telah menjadi kegiatan yang wajib diselenggarakan setiap pekan. Masing – masing mahasiswa memiliki tanggungjawab untuk memproduksi karya. Karya dari masing – masing mahasiswa tersebut menjadi bahan pementasan setiap tibanya moment penyelenggaraan Monolog Day.

“Kalau monolog day itu kita selenggarakan setiap hari kamis. Rutin. Teman – teman merasa berkewajiban mencetuskan karya untuk dipentaskan,” jelasnya.

Pada pertengahan Desember mendatang, kader – kader pelaku kesenian ini akan menyelenggarakan pentas monolog  bertajuk Sidang Jembatan. Naskah monolog karangan Adhy Pratama (mahasiswa UNU) itu akan dipentaskan oleh Budiman (juga mahasiswa setempat).

“Tanggal 22 Desember besok ada monolog lagi. Ini akan menjadi monolog ke-6 yang pernah kita selenggarakan,” tandasnya. (met)