KPS, Merawat Sungai Setulus Hati

Mataram (Suara NTB) – Sungai berpengaruh besar terhadap kehidupan manusia melalui siklus hidrologi. Selain bisa dimanfaatkan menjadi saluran irigasi, sungai juga dapat dijadikan wahana rekreasi dan pariwisata. Melihat pengaruh dan potensi sungai begitu yang besar terhadap kehidupan, komunitas peduli sungai bertekad merawat sungai setulus hati.

Komunitas Peduli Sungai (KPS) se-Kota Mataram tergabung menjadi satu dalam Forum Kokoq Mentaram (For Komen). Komunitas – komunitas tersebut merawat sungai secara sukarela. Tujuannya, ialah untuk menjaga kelestarian sungai demi menghindari timbulnya potensi bencana, khususnya banjir.

KEPEDULIAN – Anak – anak dilibatkan dalam aksi bersih di sungai guna menumbuhkan kepedulian mereka terhadap kelestarian sungai.

KEPEDULIAN – Anak – anak dilibatkan dalam aksi bersih di sungai guna menumbuhkan kepedulian mereka terhadap kelestarian sungai.

Meski menyandang status level aman, kondisi sungai di kota ini relatif parah. Hal ini dilihat dari potret kebersihan sungai yang belum memadai. Wajah sungai di Kota Mataram masih terlihat “murung” akibat terjejal tumpukan sampah. Kesadaran masyarakat agar tidak lagi membuang sampah ke bantaran sungai masih belum terbangun. Segenap warga kota, khususnya penduduk yang bermukim di tepi sungai, masih perlu diimbau agar berhenti membuang sampah ke sungai.

“Warga di beberapa kawasan, khususnya di kota ini ada yang sudah sadar. Mereka tidak lagi membuang sampahnya ke wilayah sungai. Kita masih terus melakukan penyadaran agar masyarakat berhenti mengotori sungai,” tutur H. Azmi, Ketua For Komen, Jumat (18/11).

Azmi mengatakan, kondisi sungai yang melintasi Kota Mataram masih memprihatinkan. Kota mataram dilintasi empat sungai masing – masing; Sungai Jangkuk, Ancar, Berenyok dan Sungai Unus. Hingga saat ini seluruh sungai itu masih belum terbebas dari sampah.

Foto 3

AKSI BERSIH- Anggota KPS di Mataram melakukan aksi bersih terhadap sungai untuk mencegah pendangkalan.

Selain melakukan sosialisasi dan berkampanye mengimbau masyarakat untuk terlibat menjaga kebersihan sungai, komunitas – komunitas yang tergabung dalam For Komen juga sering menyelenggarakan aksi bersih sungai. Gerakan tersebut ditumbuhkan agar kondisi sungai tetap bersih. Disamping itu, upaya tersebut juga menjadi langkah mengedukasi masyarakat supaya sadar dan turut merawat sungai.

“Kalau kita mampu merawat sehingga sungai kita tetap bersih, seperti di kota – kota besar, masyarakat bisa memanfaatkan sungai sebagai tempat mencari penghidupan. Artinya, sungai kita bisa dijadikan tempat pariwisata dan lain sebagainya,” tegas Azmi.

Hasil studi yang dilakukannya ke kota – kota yang lebih memberdayakan sungai menunjukkan, wilayah sungai telah dijadikan objek pariwisata yang menyenangkan. Ketika menjadi objek pariwisata, sungai yang terawat, bersih dan indah telah menjadi lahan yang berkontribusi lebih terhadap perekonomian penduduk. Sebagian besar warga mencari penghidupan melalui sektor pariwisata dengan memanfaatkan sungai sebagai ladangnya.

BERKEGIATAN – Komunitas peduli sungai sengaja berkegiatan di sungai untuk menggerakkan kepedulian masyarakat terhadap kebersihan sungai.

BERKEGIATAN – Komunitas peduli sungai sengaja berkegiatan di sungai untuk menggerakkan kepedulian masyarakat terhadap kebersihan sungai.

“Keinginan kita mengarah kesitu. Bagaimana caranya supaya sungai – sungai di Kota Mataram ini bisa dijadikan objek pariwisata. Dengan begitu, lapangan kerja bagi masyarkat bisa bertambah. Perekonomian penduduk, khususnya yang bermukim di sekitar sungai bisa meningkat,” ujarnya.

Sejauh ini, hampir seluruh kawasan sungai di Kota Mataram belum bisa dimanfaatkan menjadi sarana rekreasi dan wisata. Pasalnya, kondisi sungai yang masih memprihatinkan, belum memungkinkan wilayah tersebut dijadikan wahana rekreasi. Seluruh KPS di Kota Mataram terus mendorong supaya masyarakat turut menciptakan kondisi sungai yang bersih, terawat dan nyaman. Tujuannya agar semua kawasan sungai di kota ini bisa dijadikan objek pariwisata.

Penataan Terencana

Demi mencapai tujuan akhir yakni pemanfaatan sungai sebagai objek pariwisata, For Komen berupaya menyusun Program Kerja (Proker). Selain menjadi landasan kerja, proker tersebut akan menjadi wujud penataan yang terstruktur dan terencana.

Program kerja yang disusun lembaga lintas komunitas ini akan direalisasikan pada 2017 mendatang. Program penataan sungai ditujukan untuk menciptakan wilayah sungai yang bersih, nyaman serta menyenangkan. Menurut Azmi, sungai juga perlu dirawat agar ekosistem mahluk yang hidup di perairan tetap lestari.

“Program kerja sedang kita susun. Kebetulan penggabungan seluruh KPS di Kota Mataram ini terlaksana baru kemarin – kemarin. Program kerja akan direalisasikan mulai tahun depan,” katanya.

Foto 5

PATROLI – Beberapa anggota komunitas melakukan patroli dan mengangkat sampah yang mengendap di sungai Ancar.

Upaya pelestarian sungai harus dilakukan dari hulu sampai hilir. Semangat menjaga kebersihan sungai patut dijadikan budaya yang diwariskan secara turun temurun. Minat keterlibatan merawat sungai ditularkan dari individu ke individu. Gerakan pelestarian sungai baru dicanangkan sejak dua tahun terakhir. Upaya menempatkan empati serta perhatian yang lebih terhadap sungai harus dilakukan secara berkelanjutan.

“Kita sering mengadakan aksi bersih sungai. Tujuannya untuk mempengaruhi atau menularkan kepedulian agar seluruh penduduk terbangun menjadi pribadi yang benar – benar berempati dan peduli terhadap kelestarian sungai,” terangnya.

Sejauh ini, aksi bersih sungai masih terealisasi di wilayah sungai yang melintasi Kota Mataram. For Komen belum menyentuh masyarakat yang bermukim di wilayah hulu sungai. Penduduk di hulu sungai juga perlu diimbau agar melakukan hal yang sama dengan penduduk yang berada di hilir. Pasalnya, persoalan kebersihan sungai yang dihadapi penduduk hilir, juga tidak lepas dari persoalan yang timbul di wilayah hulu. Upaya melestarikan kebersihan sungai harus dimulai dari kawasan hulu.

Foto 6

PERINGATAN – Ketua For Komen memasang plang peringatan sebagai imbauan agar masyarakat tidak membuang sampah ke sungai.

“For Komen melakukan sosialisasi ke setiap kelurahan yang dilintasi sungai. Kita akan memperkenalkan sungai kepada masyarakat, kemudian kita ajak mereka untuk merawatnya dengan baik,” jelasnya.

Pemetaan

Dalam merealisasikan program, komunitas yang bertekad melestarikan sungai itu akan melakukan pemetaan. For Komen akan mendata seluruh kelurahan yang dilintasi sungai. Setelah itu, masyarakat yang di kelurahan tersebut akan diajak berkonsolidasi. Membangun kesadaran masyarakat supaya mereka turut berpartisipasi dalam melakukan perawatan.

“Sasaran kita yang utama adalah golongan anak muda. Sesuai arahan dari pak Walikota, kita akan mendata dan mengajak seluruh anak muda untuk terlibat melestarikan sungai,” bebernya.

Sejauh ini, terdapat 16 KPS di Kota Mataram yang aktif melakukan penyadaran kepada masyarakat. Seluruh KPS tersebut beranggotakan relawan yang benar – benar peduli terhadap sungai. Masing – masing KPS berdiri di tiap – tiap kelurahan yang dilintasi sungai.

MELINTAS - Usai penetapan ketua, sejumlah anggota KPS melintas menggunakan perahu di wilayah Sungai Jangkuk.

MELINTAS – Usai penetapan ketua, sejumlah anggota KPS melintas menggunakan perahu di wilayah Sungai Jangkuk.

“Sebelum adanya KPS, kita masih sangat awam, termasuk mengenai mau diapakan sungai ini. Kalau dulu, kita masih sering seenaknya membuang sampah ke sungai. Tanpa merasa bersalah sedikitpun,” katanya.

Setelah ada KPS, penduduk – penduduk yang bermukim di dekat sungai sudah dapat merasakan dampaknya. Seluruh KPS di Indonesia diinstruksikan agar mendirikan sekolah sungai sungai. Sekolah tersebut diharapkan dapat menjadi wadah untuk mendidik generasi penerus sehingga mereka memiliki kemampuan mengelola sungai.

“Di Kota Mataram kita belum mempunyai sekolah sungai. Hal itu memang diinstruksikan oleh kementerian. Untuk sementara, For Komen akan menyebarkan pemahaman tentang sungai kepada anak – anak dengan cara masuk ke sekolah – sekolah,” ujarnya.

Azmi meyakinkan publik bahwa upaya merawat sungai agar tetap lestari tidak akan pernah sia – sia. Ia mengingatkan, banjir bandang yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia ini tidak lepas dari dampak sungai. Pada dasarnya, timbulnya gejala alam yang berujung mendatangkan petaka itu juga tidak lepas dari akibat perilaku manusia. Bahwa selama ini manusia tidak pernah menyadari bahwa perilaku buruk, seperti membuang sampah ke bantaran sungai akan berdampak negatif terhadap eksistensi kehidupan. Manusia terkadang selalu mengabaikan hal – hal kecil, dan tidak pernah merenungkan mengenai dampaknya. Bahwasanya, bencana banjir yang melanda permukiman itu tidak lepas dari rendahnya kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk tidak membuang sampah ke wilayah sungai.

“Makanya kesadaran itu yang coba kita bangun. Kita ingin masyarakat berhentu membuang sampah ke sungai. Selain menghindari pendangkalan, penyumbatan yang akhirnya berpotensi mendatangkan banjir, kita juga berharap sungai bisa bermanfaat positif bagi kehidupan sehari – hari,” tandasnya.