Menggairahkan Tradisi Membaca yang Lesu

Mataram (Suara NTB) – Membaca termasuk salah satu kebutuhan paling pokok dalam kehidupan manusia. Aktivitas membaca tidak semata – mata ditujukan untuk memenuhi kebutuhan individu, namun kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari cara untuk berbagi antar sesama. Beragam komunitas muncul untuk memulihkan tradisi membaca di daerah ini.

Kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dengan mengukur perkembangan tradisi kepustakaan (literasi). Maju – mundurnya peradaban manusia dalam satu bangsa, bisa disaksikan melalui kemapanan tradisi pustaka di dalamnya. Tradisi baca – tulis, cukup mewakili wajah peradaban serta jati diri bangsa.

foto 2

Adapun komunitas yang bergerak untuk memulihkan tradisi kepustakaan itu antara lain Aku Pinjam Buku Ini dan Komunitas Cinta Baca (KCB). Dua komunitas tersebut, rutin membuka stan di Lapangan Umum Sangkareang. Selain memfasilitasi orang – orang yang berkenan mengembangkan diri dengan membaca, mereka juga melakukan kampanye agar seseorang tergerak melestarikan tradisi literasi, demi pengembangan pustaka.

“Membaca itu kita anggap tidak semata – mata menjadi cara menyerap ilmu. Ada hal besar yang ingin kita jaga, yaitu tradisi pustaka. Dimana orang mendapatkan satu pengetahuan, kemudian dia menuliskannya lagi untuk dibagikan kepada orang lain,” kata A. S. Rosyid, S.Sy pendiri Komunitas Cinta Baca, Jumat (21/10).

Hal inilah memicu pemikiran dalam kepalanya, bahwa membaca merupakan langkah untuk berbagi. Tenaga pendidik di Madrasah Tsanawiyah Alam Sayang Ibu di Dasan Griya, Lombok Barat ini, mendirikan komunitas untuk memancing minat baca setiap individu. Komunitas tersebut juga bertujuan memengaruhi individu yang telah gemar membaca itu, agar mereka membagikan ilmu yang telah diserap kepada orang lain.

“Kita berkomunitas ini tujuannya supaya orang – orang tidak hanya membaca untuk dirinya sendiri. Bagaiamana caranya supaya mereka membagikan apa yang mereka peroleh dari buku tertentu. Ini yang kita sebut upaya mempertahankan tradisi pustaka itu tadi,” kata pria yang akrab disapa Ical ini.

Dirinya terus memegang teguh prinsip pengembangan bangsa yang dimiliki oleh Tan Malaka. Prinsip tersebut dijadikan konsep dasar dalam organisasi yang ia bangun. Prinsip mempertahankan tradisi literasi yang tertuang dalam buku berjudul Aksi Massa karya Tan Malaka itu kurang lebih berbunyi ; “Bila perlu makan dikurangi, baju dikurangi dari pada harus kekurangan pustaka, kekurangan buku”.

“Saya selalu teringat hal tersebut. Tan Malaka selalu mengatakan, kalau baju bisa dibangun lagi. Kalau pustaka hilang, akan butuh waktu lama untuk membangkitkannya lagi. Butuh orang yang belajar lagi, menulis lagi, mengedarkan gagasannya lagi,” katanya menyerukan pemikiran – pemikiran Tan Malaka.

Perpustakaan Darurat

Untuk memulihkan minat baca, komunitas yang satu ini sering membuka stan perpustakaan darurat di Taman Sangkareang, setiap hari Sabtu. Berbeda dengan komunitas Aku Pinjam Buku Ini yang membuka stan setiap hari. Dua komunitas ini memiliki misi yang sama, yakni mewujudkan generasi muda yang peduli pustaka dan bergairah mengembangkan diri, dengan membaca buku.

“Kalau tidak sabtu, kita biasanya membuka stan malam minggu. Tapi yang itu, pandangan umum kita bahwa minat baca di daerah ini masih sangat lemah,” bebernya.

Dirinya mengaku prihatin melihat situasi dan kondisi kepustakaan yang terjadi belakangan ini. Setiap membuka stan perpustakaan darurat, gairah publik atau individu – individu tertentu untuk membaca buku relatif rendah.

fotoo 3

Penggagas Sekolah Alam, Nursyida Syam ketika berkunjung dan berbagi pengalaman di Sekretariat KCB, Sabtu pekan lalu.

“Itu yang kita sayangkan, ketika kita fasilitasi penuh, sangat jarang ada orang yang berminat untuk bergabung dan membaca, bahkan nimbrung untuk diskusi,” katanya.

Dalam sekretariat Komunitas Cinta Baca yang terletak di Jl. Melati Raya, Nomor 9 Rembiga, Kota Mataram ini, terdapat sedikitnya 500 judul buku yang siap dibaca. Jumlah anggota komunitas yang satu ini baru mencapai 70 orang. Mereka terdiri dari berbagai kalangan utamanya pelajar.

“Orang tua juga sepertinya tidak memiliki kepedulian, sehingga mereka tidak mendorong anaknya supaya terbentuk menjadi generasi yang gemar membaca,” katanya.

Padahal, menurut Ical bahwa dari sudut pandang medis, aktivitas membaca dapat membantu peningkatan kecerdasan otak. Ical menjabarkan kebiasaan membaca dapat merasangsang terhubungnya syaraf – syaraf dan menjaga kesuburan sel otak. Membaca dapat memperkaya wawasan dan sudut pandang. Selain itu, membaca juga dapat memicu seseorang menjadi pribadi yang arif dan bijaksana, melalui penguatan daya intelektual dan spiritualitas manusia.

“Setiap kali kita membaca, meski hanya beberapa menit. Ada banyak syaraf – syaraf di otak yang terhubung dan saling berketerkaitan. Semakin banyak syaraf yang saling terkait, maka semakin kuat pula daya pikir dan daya ingat kita,” katanya.

Kegiatan membaca harus dilakukan secara intens. Butuh konsistensi yang kuat agar Aktivitas tersebut benar – benar menjadi kebiasaan yang melekat dalam diri seseorang. Sebab kalau membaca hanya menjadi kegiatan sesaat juga berdampak yang kurang baik.

“Kalau kita berhenti membaca, dalam jangka waktu tertentu, syaraf – syaraf yang sudah saling terkait tadi akan runtuh dalam jumlah yang lebih besar. Itu sebabnya, membaca ini butuh konsistensi yang kuat. Tujuannya agar dilakukan secara terus – menerus,” ujarnya.

 

Bedah Buku

Sebelum mengarah ke tujuan yang lebih besar, yakni memproduksi buku untuk memperkaya kepustakaan, komunitas yang berdiri sejak tahun 2015 ini rutin melakukan bedah buku. Selain demikian, komunitas ini juga memang rutin menyelenggarakan diskusi, dimulai dari tema dan topik yang sederhana hingga mengupas wacana – wacana berat.

KCB membedah buku berupa novel karya Jamal Abdullah, Minggu (23/10) malam kemarin. Novel yang mengupas seputar intisari surat al-fatihah dalam Al-Qur’an itu dibedah dan didiskusikan oleh publik. Novel tersebut terbit sebagai karya penulis lokal. Novel tersebut terbangun dengan nilai – nilai dan nuansa lokalitas yang kental.

foto 4

Para anggota KCB berfoto bersama usai kegiatan temu baca.

“Ada banyak juga tulisan – tulisan karya anggota KCB. Maka, tradisi seperti inilah yang sebetulnya ingin kita bangun dan memang selayaknya dikembangkan secara terus menerus,” katanya.

Kendati demikian, pihaknya belum pernah menghitung secara ilmiah tentang sejauh mana manfaat yang diberikan KCB. Berdasarkan respons dari beberapa member yang bergabung, komunitas yang satu ini lumayan bermanfaat. Terutama untuk membantu upaya pengembangan diri dengan meningkatkan wawasan dan pengetahuan.

Awalnya, member KCB tergolong sebagai sosok yang benar – benar tidak peduli dengan bahan bacaan. Setelah “terjebak” dalam lingkungan penggemar buku, orang – orang yang sukar membaca tersebut lambat lau akan semakin gemar menelusuri ilmu dari beragam jenis buku bacaan.

“Awalnya, orang yang gemar membaca di KCB ini dapat dihitung dengan jari. Tetapi setelah bergabung, seperti mereka mau tidak mau, ya akhirnya tergerak juga untuk hobi membaca. Mahasiswa yang awalnya hanya berkutat dengan upaya mengerjakan tugas kuliah, jadi lebih rajin mencari referensi dari  beragam disiplin ilmu pengetahuan,” tandasnya. (*)