Motor Custom, Wajah Lain si Kuda Besi

Ada sensasi kenikmatan tersendiri yang dirasakan ketika mengendarai motor custom. Kenikmatan itu muncul saat sepeda motor yang ditunggangi memang berbeda dengan yang lain. Demikian pengakuan Agus Sofian (35) pengendara motor custom kepada Suara NTB di Jalan Udayana, Mataram baru-baru ini.

Oleh Sahmat Darmi

duo

Motor custom lebih dikenal dengan istilah kuda besi. Agus Sofian, anggota komunitas Barisan Bikers Lombok Indonesia Anti Rasis, mempunyai cara tersendiri untuk merawat motor – motor custom yang dimilikinya. Motor custom ibarat benda mati yang diperlakukan seperti sesuatu yang hidup. Setiap hari motor – motor custom yang dikoleksinya selalu meraih perhatian yang lebih dari dirinya.

“Motor yang kita pake (kendarai, red) ini jenisnya Jab Style. Aslinya sih Honda GL-Pro tapi setelah di-custom ya jadi beginilah rupa dan rasanya,” jelasnya sembari menambah laju kendaraan dalam perjalanan menuju markas komunitasnya yang terletak di Dusun Duman, Desa Bug – Bug, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat.

Sesampai di markas komunitas Babi Liar (Barisan Bikers Lombok Indonesia Anti Rasis), ia memperlihatkan sejumlah sepeda motor custom. Ada yang sudah jadi, bahkan ada pula yang masih dalam tahap pengerjaan. Ragam jenis motor custom ditentukan sesuai bentuk dan variasi masing – masing.

2

“Yang ini juga motor saya, sedang dalam tahap pengerjaan. Kalau modelnya seperti ini, ini jenisnya Chover. Cukup untuk dikendarai satu orang,” ujarnya sembari tertawa.

Kebanyakan motor custom yang berjenis chover memang sengaja dirancang sebagai kendaraan pribadi. Tidak dibuat untuk memuat penumpang. Tempat duduknya hanya muat untuk satu orang pengendara.

“Motor custom itu memiliki aliran – aliran tertentu, seperti halnya dalam dunia musik. Ada pop, rock, dangdut dan lain sebagainya lah. Motor custom juga begitu,” ujar Suro, tuan rumah yang menjadi markas komunitas Babi Liar menimpali percakapan bersama sejumlah pecinta kuda besi di kediamannya.

Suro menjelaskan, istilah custom merupakan bahasa kekinian pengganti kata modifikasi. Meski demikian, istilah tersebut dapat ditafsir dengan makna yang seluas – luasnya. Istilah custom tidak hanya dapat dipakai untuk menjuluki kendaraan yang berbentuk unik, berbeda dan bahkan terkesan antik saja.

“Custom ini apa ya, kalau bagi saya pribadi ini istilah kekinian pengganti kata modifikasi. Custom ya bahasa gaul, bahasa keren dari modifikasi,” kata Suro.

3

Reproduksi

Menurut pentolan komunitas Babi Liar ini, upaya merakit motor custom dapat dilihat sebagai sarana reproduksi motor – motor tua. Komunitas ini meneguhkan misi diantaranya melestarikan sepeda motor yang sudah tidak layak pakai. Motor – motor tua yang sudah tidak bisa terpakai itu sebenarnya masih bisa dimanfaatkan. Syaratnya harus diperbaharui dan direkonstruksi ulang.

“Misi kita ialah melestarikan motor – motor tua. Motor jadul yang sudah tidak layak pakai. Padahal itu masih bisa dimanfaatkan lagi. Orang kalau ngeliat Honda Mercy dari tahun ke tahun dengan bentuk dan rupa seperti yang dikeluarkan pabrik, mungkin sudah bosan,” ujarnya.

Begitu sepeda motor tua itu telah diperbaharui, tentunya dengan motif dan gaya yang berbeda, “Orang bakalan ngiler pas ngeliriknya. Pasti. Saya berani jamin,” imbuhnya.

Sepeda motor tua yang telah diperbaharui ulang itu dinilai memiliki pesona dan daya tarik tersendiri. Harga sepeda motor tua yang telah ambruk, dapat dikatrol kembali. “Kita lebih mengarah ke hobi, kalau orang betul – betul gemar terhadap motor seperti ini, berapapun harganya pasti mereka beli,” katanya.

Oleh tangan kreatif Suro, satu sepeda motor tua mampu diperbaharui dalam jangka waktu sebulan. Suro mereparasi dan mereproduksi motor custom menggunakan kemampuan yang berkembang alami dalam dirinya. Belakangan, diketahui bahwa ia adalah perupa yang sering diminta mendesain hiasan dinding maupun kubah masjid – masjid di Pulau Lombok ini.

“Basic pengalaman aja. Teman – teman datang kemari, minta supaya motornya dibikin custom. Saya kerjakan. Waktu yang dibutuhkan, paling sebulan. Tergantung kelengkapan bahan – bahan,” katanya.

“Kadang – kadang tergantung mood juga, kalo lagi gak mood, setahun pun ada yang gak jadi – jadi,” ujarnya berkelakar lalu tertawa lepas.

Suro bersama kerabatnya dalam komunitas Babi Liar terus berupaya menciptakan inovasi dan terobosan. Tujuannya, demi mempertahankan kualitas harga sepeda motor sehingga tidak jatuh seiring perkembangan zaman. Bagi mereka, banyak sepeda motor tua yang masih berpotensi untuk diperbaharui. Motor tua masih bisa dimanfaatkan sebagai sarana transportasi sehari – hari, sesuai fungsi sepeda motor pada umumnya.

5

Ruang Ekspresi

Selain menjadi sarana menciptakan inovasi dan terobsan, upaya mereproduksi kendaraan sehingga menjadi motor custom juga dapat dilihat sebagai ruang ekspresi. Motor custom lekat dengan karya seni rupa yang “ditempel” sebagai hiasannya.

“Disini memang menjadi sarana bagi teman – teman untuk menuangkan ide dan gagasan sesuai ekspresinya masing – masing. Kalau teman – teman mau menuangkan ekspresinya, ya disinilah tempatnya,” ujar Suro.

Bengkel yang terletak persis di belakang rumahnya menjadi tempat berkumpul. Selain menjadi tempat berkarya, tempat itu memang sengaja dijadikan markas komunitasnya. “Dimana markas komunitas babi liar, ya inilah markasnya. Disini tempat ngumpul, ngopi – ngopi dan mengisi waktu luang dengan berkarya. Dari pada nongkrong di tempat main judi. Kan kita enggak produktif,” katanya.

Komunitas ini tidak memiliki struktur keorganisasian yang mengikat. Kebanyakan anggotanya adalah pekerja kantoran.

“Tidak jarang, kita sering dicap sebagai pengangguran. Naik motor kesana – kemari, tidak jelas. Padahal teman – teman disini adalah karyawan kantoran semua,” ujar Amik, salah seorang anggota komunitas yang berdiri di Mataram sejak tahun 2013 ini.

Selain demikian, komunitas pecinta sepeda motor yang satu ini juga memiliki semboyan Menikmati Perjalanan Selagi Mencari Tujuan. Ketika berkendara, para pecinta motor custom lebih mementingkan perjalanan ketimbang tujuan.

“Ketika berkendara, tujuan itu berada pada nomor sekian, yang terpenting bagaimana kita menikmati perjalanan. Kecepatan kendaraan kita tidak lebih dari angka 50 km/jam. Karena kita tidak buru – buru,” kata Agus menambahkan lagi.

Dengan demikian, setiap perjalanan touring komunitas yang satu ini tidak pernah mengalami kecelakaan. Setiap anggota komunitas ini dapat dijadikan teladan dalam berkendara, sebab semuanya selalu patuh terhadap aturan dan undang – undang lalulintas.

“Kendaraan yang kita pakai juga tidak dirancang untuk ngebut. Jadi potensi untuk melakukan trek – trekan maupun ugal – ugalan tidak ada. Sebab, model kendaraan kita yang memang tidak mendukung,” timpal Suro masuk lagi dalam percakapan.

Seperti halnya ketika komunitas ini turut memeriahkan perayaan peringatan dua abad letusan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa. Komunitas Babi Liar yang berkendara dari Lombok ke Sumbawa, kalah cepat dengan rombongan pesepeda.

“Padahal kita berangkat samaan dari Lombok, tapi justru rombongan pesepeda itu lebih cepat dari kita. Saat touring, kita selalu pelan. Santai – santai, karena menikmati perjalanan,” ujarnya.

“Kadang – kadang sebelum sampai tujuan, kemudian waktu tidak memungkinkan untuk sampai, di tengah perjalanan kita putar balik,” kata Agus bergurau pada rekan – rekannya yang memicu luapan tawa serentak.

6

Empati Sosial

Setiap anggota komunitas Babi Liar wajib dilatih agar memiliki empati sosial yang tinggi. Meski nama komunitas mereka berkonotasi nama hewan yang terkesan jorok, mereka sering melakukan bakti sosial. Menyalurkan sumbangan ke panti jompo mapun panti – panti sosial pada umumnya.

“Pokoknya dalam hidup ini kita tidak boleh egois. Kita harus berempati, berbagi dan menguatkan tali persaudaraan. Saya ingat ketika touring ke tambora dulu, saat acara Tambora Menyapa Dunia. Disitu terjadi kemacetan yang luar biasa. Terkunci. Posisinya juga di tengah jurang,” kata Agus.

Saat itu, para penggemar motor custom ini berinisiatif untuk membantu mengurai kemacetan. Agus Sofian masih mengingat persis fenomena kemacetan yang ditemuinya saat diundang ke acara Festival Tambora Menyapa Dunia itu. “Petugas saja sampai angkat tangan. Akhirnya kita berinisiatif untuk membantu mengurai kemacetan. Sampai selesai, sampai arus lalulintas normal kembali,” katanya.

Hal inilah yang menjadi esensi pendirian satu komunitas, utamanya komunitas sepeda motor. Paling tidak, komunitas – komunitas tersebut berkontribusi terhadap kemaslahatan masyarakat. Bukan sebaliknya bertingkah aneh – aneh dan justru merugikan khalayak publik. “Tetapi saya yakin semua komunitas sepeda motor di Lombok ini mempunyai semangat yang sama. Terutama dalam hal membantu dan berkontribusi kepada masyarakat. Semuanya saya lihat tidak ada yang terjerumus melakukan hal – hal negatif. Kita patut bersyukur, dan kondisi ini patut diapresiasi serta dipertahankan,” tandasnya. (*)