‘’Medical Tourism’’, Rumah Sakit Perlu Berkolaborasi

Lalu Herman Mahaputra.(Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Sebagai tuan rumah penyelenggaraan MotoGP 2021 mendatang, segala aspek perlu dipersiapkan, mulai dari infrastruktur serta penunjang lainnya. Konsep medical tourism dibutuhkan kolaborasi antara rumah sakit kabupaten dan kota di NTB.

Ketua Persatuan Rumah Sakit Indonesia (Persi) NTB, dr. H. Lalu Herman Mahaputra menjelaskan, medical tourism berbicara melayani kesehatan di NTB. Artinya, saat ini, Kabupaten Lombok Tengah sebagai tuan rumah penyelenggaraan MotoGP hanya memiliki satu rumah sakit. Artinya, perlu kolaborasi antara pemerintah provinisi, kabupaten dan kota di NTB.

Dikatakan, penyelenggaraan event dunia tersebut bukan gawe satu daerah saja. Perlu pelibatan daerah lain yang menjadi penopang kegiatan. “Sebenarnya, kita butuh kolaborasi. Karena ini bukan gawenya provinsi,” kata Herman dikonfirmasi baru – baru ini.

Gagasan besar medical tourism dimaksudkan adalah bagaimana menyiapkan induk kesehatan. Hal ini perlu dipikirkan bersama untuk mencarikan solusi dari pelayanan pra maupun pelaksanaan motoGP di Mandalika, Lombok Tengah.

Rumah sakit di Kabupaten Lombok Tengah bisa berkolaborasi dengan rumah sakit di Lombok Barat, Kota Mataram, Lotim bahkan rumah sakit milik Provinsi NTB. Membuat jejaring ini sangat penting untuk menguatkan pelayanan kesehatan bagi wisatawan.

Perlu disadari adalah MotoGP event besar atau semua mata dunia akan fokus ke Lombok. Yang dipikirkan tidak saja fokus pada atletnya. Tetapi, puluhan ribu pengunjung yang datang menyaksikan ajang balap motor kelas dunia tersebut perlu dipikirkan.

“Sekarang mampu tidak kita menyiapkan fasilitas kesehatannya. Oleh karena itu, provinsi berkoordinasi dengan daerah,” ungkapnya.

Herman yang juga Direktur RSUD Kota Mataram menegaskan, pihaknya sangat siap dengan pengembangan medical tourism di NTB. Pengembangan fasilitas terutama mengarah ke pusat pemulihan trauma milai dipersiapkan. Seperti, MRA,City Scan dan lainnya. Selain itu, sumber daya manusia juga perlu dipersiapkan bersama. Dan, paling penting adalah regulasi untuk menguatkan kolaborasi tersebut.

Disatu sisi, pelibatan rumah sakit swasta juga perlu dipikirkan. Karena, tidak bisa sepenuhnya rumah sakit pemerintah diminta mendukung pengembangan medical tourism di NTB. Disamping itu, akses transportasi bisa cepat karena itu life saving-nya mengarah ke pelayanan rumah sakit. “Kita berharap jalan bebas hambatan bisa segera terbangun,”demikian harapnya. (cem)