BBPOM Mataram Dorong UMKM NTB Siap Ekspor

Kepala BBPOM di Mataram , Ni G.A.N Suarningsih berbicara dalam kegiatan bimtek terkait layanan penerbitan SKI dan SKE (Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Mataram menggelar kegiatan bimbingan teknis (bimtek) terkait layanan penerbitan surat keterangan impor (SKI) dan surat keterangan ekspor (SKE). Hadir sebagai peserta sekitar 40 orang perwakilan pelaku usaha dari berbagai industri usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di NTB dan 10 orang perwakilan OPD terkait.

Kepala BBPOM di Mataram, Dra. Ni G.A.N Suarningsih, Apt., M.H, menerangkan, digelarnya bimtek tersebut salah satunya karena melihat peran UMKM sebagai pendorong pembangunan ekonomi secara nasional. BBPOM sendiri dalam hal ini berperan untuk mengawal UMKM dalam menghasilkan produk yang berkualitas dan memiliki daya saing. “Di NTB sektor UMKM mengalami perkembangan yang cukup besar dalam memproduksi obat tradisional, kosmetik maupun pangan olahan,” ujar Suarningsih ketika membuka kegiatan tersebut, Kamis, 12 Desember 2019, di Aula Kantor BBPOM Mataram.

Hal itu disebut juga untuk mendukung program unggulan Pemprov NTB saat ini terkait industrialisasi. Diterangkan Suarningsih, produk UMKM di NTB saat ini memiliki potensi yang cukup besar untuk ekspor. Hal tersebut ditambah dengan ketangguhan UMKM di daerah dalam menghadapi krisis, terutama terkait ketersediaan bahan baku yang seluruhnya diambil dari sumber lokal. “Ini juga menyerap tenaga kerja lokal (yang cukup banyak). Karena itu kita perlu menghasilkan produk yang lebih berkualitas,” ujar Suarningsih.

Selama ini produk UMKM NTB kebanyakan masih dikirim untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Hal itu cukup disayangkan mengingat potensi ekspor yang dimiliki cukup besar. Berdasarkan catatan BBPOM di Mataram sendiri, beberapa UMKM binaan di NTB saat ini telah memiliki relasi perdangangan internasional ke beberapa negara seperti Malaysia, Singapura dan Timur Tengah.

Untuk itu, melalui Bimtek tersebut peserta didorong agar dapat menghasilkan produk yang sesuai dengan standar ekspor  yang diterapkan di masing-masing negara. “Supaya produk kita ini diterima di negara yang dituju,” ujar Suarningsih.

Ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi dalam ekspor produk. Diantaranya certificate of pharmaceutical product (CPP) yang harus memuat informasi lengkap suatu produk obat, obat tradisional, sumplemen kesehatan, kosmetik atau pangan yang menyatakan diri terdaftar dan diproduksi sesuai standar.

Selain itu ada juga certificate of free sale (CFS) yang menyatakan bahwa produk obat, obat tradisional, sumplemen kesehatan atau kosmetik telah terdaftar di BPOM dan boleh diedarkan di Indonesia. Kemudian ada certificate of health (CoH) yang menyatakan produk jadi obat tradisional, suplemen kesehatan, kosmetik atau pangan aman atau layak digunakan oleh manusia. Serta surat keterangan sertifikat (CPOTB/CPKB) yang meyatakan obat tradisional, suplemen kesehatan atau kosmetik telah terdaftar di Badan POM dan dapat diedarkan di Indonesia serta diproduksi dengan cara pembuatan yang baik.

Hadir sebagai pembicara dalam kegiatan tersebut Kepala BPOM Mataram, perwakilan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai di Mataram, serta perwakilan Pusat Data dan Informasi Badan POM. Suarningsih sendiri berharap dari kegiatan tersebut muncul kesamaan visi antara pemerintah dan stakeholder terkait dengan pelaku UMKM untuk mengembangkan potensi ekspor dari sumber daya yang ada saat ini.

Dicontohkan Suarningsih seperti produksi rumput laut di NTB yang saat ini menjadi salah satu bahan baku kualitas nomor satu di dunia untuk beberapa kosmetik. Hal tersebut cukup disayangkan mengingat di NTB sendiri pengolahan rumput laut sebagai bahan baku kosmetik belum bisa maksimal. Tantangan ekspor ke depan sendiri disebut Suarningsih cukup besar. Terutama dengan dipilihnya NTB sebagai lokasi gelaran MotoGP pada 2021 mendatang. “Yang akan datang ke NTB ribuan orang. Ada kesempatan terbaik untuk UMKM dan Pemda munculkan (produk) UMKM menjadi suvenir bagi para peserta (MotoGP),” ujarnya. (bay)