Turunkan Stunting dengan Kearifan Lokal

Terawan Agus Putranto (Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Letjen (Purn) Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp. Rad (K), berkunjung ke NTB dengan salah satu misi utama melihat kasus stunting yang masih terjadi di daerah ini. Hal tersebut untuk menyukseskan program Presiden RI, Joko Widodo, untuk mewujudkan sumber daya manusia (SDM) maju dan unggul pada 2024 mendatang.

‘’Yang paling penting (bagaimana ini) bermakna (atau) tidak terhadap penurunan angka stunting,’’ ujar Terawan, Kamis, 5 Desember 2019 saat berkunjung ke RSUD NTB. Ditegaskannya bahwa penurunan angka stunting merupakan langkah untuk menabung SDM unggul yang akan bersaing di masa mendatang.

Diterangkan Terawan, saat ini Kemenkes  telah melakukan pemetaan semua wilayah yang memiliki kasus stunting satu per satu. ‘’Itu kami mulai kunjungi. Kami lihat di NTB juga ada. Semua daerah (memang) ada,’’ ujarnya.

Baca juga:  Sekolah di Lobar Bersinergi Atasi Stunting dan Anemia

Dalam melakukan penanganan kasus stunting, Kemenkes RI menekankan pentingnya mengedepankan pendekatan berbasis kearifan lokal. Mengingat setiap daerah yang memiliki kasus stunting memiliki latar belakang penyebab yang berbeda-beda.

‘’Ada yang karena makanannya, ada karena fasilitasnya.Tapi kalau kedua orang tuanya bekerja dan lupa membuat pola asuh ke anak, juga bisa menyebabkan stunting,’’ ujar dokter  yang  pernah bertugas  di RSAD NTB selama sembilan tahun tersebut.

Karena itu, dengan penanganan berbasis kearifan lokal dan keluarga, penyebab tingginya kasus stunting diharapkan dapat ditekan secara spesifik. Artinya, berbagai penyebab stunting yang mungkin terjadi dapat dientaskan.

Karena masyarakat memahami pentingnya pemberian makanan bergizi, penyediaan fasilitas penunjang kesehatan (seperti drainase dan pengaturan kelembaban udara), serta pola asuh anak sesuai dengan keluhuran budaya setempat.

Baca juga:  Sekolah di Lobar Bersinergi Atasi Stunting dan Anemia

Berdasarkan data di Dikes NTB, sampai dengan 2018 kasus stunting masih terjadi di 10 kabupaten/kota di NTB. Lombok Timur menjadi kabupaten yang masuk dalam kualifikasi sangat buruk dengan jumlah kasus tertinggi mencapai 45,52 persen.Sedangkan Sumbawa Barat menjadi kabupaten yang masuk dalam kualifikasi baik dengan persentase kasus 18,32 pesen.

Lima kabupaten masuk dalam kualifikasi buruk. Antara lain Lombok Barat 33,61 persen, Lombok Tengah 31,05 persen, Sumbawa 31,53 persen, Kabupaten Bima 32,01 persen, dan Dompu 33,83 persen.Untuk kualifikasi buruk adalahLombok Utara dengan 29,30 persen dan Kota Bima dengan 32,01 persen, dan Kota Mataram dengan persentase 24,49 persen. (bay)